Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Minggu, 01 Februari 2015

Farmakokinetik dan Farmakodinamik

Farmakokinetik

Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudian, dengan atau tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses ini disebut proses farmakokinetik.
Di tubuh manusia obat harus menembus sawar (barrier) sel di berbagai jaringan. Pada umumnya obat melintasi lapisan sel ini dengan menembusnya, bukan dengan melewati celah antar sel, kecuali pada endotel kapiler. Karena itu peristiwa terpenting dalam prose farmakokinetik ialah transport lintas membrane.
Membrane sel terdiri dari dua lapis lemak yang membentuk fase hidrofilik di kedua sisi membrane dan fase hidrofobik di antaranya. Molekul-molekul protein yang tertanam di kedua sisi membrane atau menembus membrane berupa mozaik pada membrane. Molekul-molekul protein ini membentuk kanal hidrofilik untuk transport air dan molekul kecil lainnya yang larut dalam air.
Cara-cara transport obat lintas membrane yang terpenting ialah difusi pasif dan transport aktif; yang terakhir melibatkan komponen-komponen membrane sel dan membutuhkan energi. Sifat fisiko-kimia obat yang menentukan cara transport ialah bentuk dan ukuran molekul, kelarutan dalam air, derajat ionisasi, dan kelarutan dalam lemak.
Umumnya absorpsi dan distribusi obat terjadi secara difusi pasif. Mula-mula obat harus berada dalam larutan air pada permukaan membrane sel, kemudian molekul obat akan melintasi membrane dengan melarut dalam lemak membrane. Pada proses ini, obat bergerak dari sisi yang kadarnya lebih tinggi ke sisi lain. Setelah taraf mantap (steady state) dicapai, kadar bentuk obat non-ion di kesua sisi membrane akan sama.
Kebanyakan obat berupa elektrolit lemah yakni asam lemah atau basa lemah. Dalam larutan, elektrolit lemh ini akan terionisasi. Derajat ionisasi ini tergantung dari pKa obat dan pH larutan. Untuk obat asam, pKa rendah berarti repatif kuat, sedangkan untuk obat basa, pKa tinggi yang relatif kuat. Bentuk non-ion umumnya larut baik dalam lemak sehingga mudah berdifusi melintasi membrane. Sedangkan bentuk ion, sukar melintasi membrane karena sukar larut dalam lemak. Pada tarap mantap, kadar obat bentuk non-ion saja yang sama dikedua sisi membrane, sedangkan kadar obat bentuk ionnya tergantung dari perbedaan pH di kedua sisi membrane.
Membrane sel merupakan membrane semipermeabel, artinya hanya dapat dirembesi air dan molekul-molekul kecil. Air berdifusi atau mengalir melalui kanal hidrofilik pada membrane akibat perbedaan tekanan hidrostatik maupun tekanan osmotik. Bersama aliran air akan terbawa zat-zat terlarut bukan ion yang berat molekulnya kurang dari 100-200 misalnya urea, etanol, dan antipirin. Meskipun berat atomnya kecil, ion anorganik ukurannya membesar karena mengikat air sehingga tidak dapat melewati kanal hidrofilik bersama air. Kini telah ditemukan kanal selektif untuk ion-ion Na, K, Ca.
Transport obat melintasi endotel kapiler terutama melalui calah-celah antarsel, kecuali di susunan saraf pusat (SSP). Celah antarsel endotel kapiler demikian besarnya sehingga dapat meloloskan semua molekul yang berat molekulnya kurang dari 69.000 (BM albumin), yaitu semua obat bebas, termasuk yang tidak larut dalam lemak dan bentuk ion sekalipun. Proses ini berperan dalam absorpsi obat setelah pemberian parenteral dan dalam filtrasi lewat membrane glomerulus di ginjal.
Pinositosis ialah cara transpirt dengan membentuk vesikel, misalnya untuk makromolekul seperti protein. Jumlah obat yang di angkut dengan cara ini sangat sedikit.
Transport obat secara aktif biasanya terjadi pada sel saraf, hati, dan tubuli ginjal. Proses ini membutuhkan energi yang diperoleh dari aktivitas membrane sendiri, sehingga zat dapat bergerak melawan perbedaan kadar atau potensial listrik. Selain dapat dihambat secara kompetitif, transport aktif ini bersifat selektif dan memperlihatkan kapasitas maksimal (dapat mengalami kejenuhan). Beberapa obat bekerja mempengaruhi transport aktif zat-zat endogen, dan transport aktif suatu obat dapat pula dipengaruhi oleh obat lain.
Difusi terfasilitasi (facilitated diffusion) ialah suatu proses transport yang terjadi dengan bantuan suatu factor pembawa (carrier) yang merupakan komponen membrane sel tanpa menggunakan energi sehingga tidak dapat melawan perbedaan kadar maupun potensial listrik. Proses ini, yang juga bersifat selektif, terjadi pada zat endogen yang trasportnya secara difusi biasa terlalu lambat, misalnya untuk masuknya glukosa ke dalam sel perifer.

A.    Absorpsi dan Bioavilabilitas
Kedua istilah tersebut tidak sama artinya. Absorpsi, yang merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang di berikan. Tetapi secara klinik, yang lebih penting ialah bioavailabilitas. Istilah ini menyatakan jumlah obat, dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena, untuk obat-obatan tertentu, tidak semua yang di absorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan di metabolisme oleh enzim di dinding usus pada pemberian oral dan/atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut. Metabolisme ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or elimination) atau eliminasi prasistemik. Obat demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang tidak begitu tinggi meskipun absorpsi oralnya mungkin hampir sempurna. Jadi istilah bioavailabilitas menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Eliminasi lintas pertama ini dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral (misalnya lidokain), sublingual (misalnya nitrogliserin), rectal, atau memberikannya bersama makanan.
Berbagai factor yang dapat mempengaruhi bioavailabilitas obat pada pemberian oral dapat juga di lihat pada table 1.1
1.      Bioekuivalensi
Ekuivalensi kimia-kesetaraan jumlah obat dalam sediaan belum tentu menghasilkan kadar obat yang sama dalam darah dan jaringan yaitu yang disebut ekuivalensi biologic atau bioekuivalensi. Dua sediaan obat yang berekuivalensi kimia tetapi tidak berekuivalensi biologic di katakan memperlihatkan bioinekuivalensi. Ini terutama terjadi pada obat-obat yang absorpsinya lambat karena sukar larut dalam cairan saluran cerna, misalnya digoksin dan difenilhidantoin, dan pada obat yang mengalami metabolisme selama absorpsinya, misalnya eritromisin dan levodopa. Perbedaan bioavailabilita sampai dengan 10% umumnya tidak menimbulkan perbedaan berarti dalam efek kliniknya artinya memperlihatkan ekuivalensi terapi, terutama untuk obat-obat yang indeks terapinya sempit, misalnya digoksin, difenilhidantion, teofilin.
2.      Pemberian Obat Per Oral
Cara ini merupakan cara pemberian obat yang paling umum dilakukan karena mudah, aman, dan murah. Kerugiannya ialah banyak factor dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya (lihat table 1-1), obat dapat mengiritasi saluran cerna, dan perlu kerja sama dengan penderita; tidak bias dilakukan bila pasien koma.
Tabel 1 berbagai faktor yang dapat mempengaruhi bioavailabilitas obat oral
1. factor obat
Keterangan
a.       sifat-sifat fisikokimia obat
-       stabilitas pada pH lambung
-       stabilitas terhadap enzim-enzim pencernaan
-       stabilitas terhadap flora usus
Menentukan jumlah obat yang tersedia untuk di absorpsi
-       kelarutan dalam air/cairan saluran cerna
-       ukuran molekul
-       derajat ionisasi pada pH saluran cerna
-          kelarutan bentuk non-ion dalam lemak
Menentukan kecepatan absorpsi obat
-       stabilitas terhadap enzim-enzim dalam dinding saluran cerna
-       stabilitas terhadap enzim-enzim dalam hati
Menentukan jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik
b.       formulasi obat
- keadaan fisik obat (ukuran partikel, bentuk kristal/bubuk, dll)
- eksipien (zat-zat pengisi, pengikat, pelican, penyalut, dll)
Menentukan kecepatan disintegrasi dan disolusi obat
2. factor penderita

- pH saluran cerna, fungsi empedu
Mempengaruhi kecepatan disintegrasi dan disolusi obat
- kecepatan pengosongan lambung (motilitas saluran cerna, pH lambung, adanya makanan, bentuk tubuh, aktivitas fisik yang berat, stress, nyeri hebat, ulkus peptikum, stenosis pilorus, gangguan fungsi tiroid)
Mempengaruhi kecepatan absorpsi, dan dapat juga jumlah obat yang diserap
- waktu transit dalam saluran cerna (motilitas saluran cerna dan gangguannya)
Dapat mempengaruhi jumlah obat yang diserap
Perfusi saluran cerna ( makanan, aktivitas fisik yang berat, penyakit kardiovaskuler)
Dapat mempengaruhi kecepatan atau jumlah absorpsi obat
- kapasitas absorpsi (luas permukaan absorpsi, sindrom malabsorpsi, usia lanjut)
Dapat mempengaruhi kecepatan absorpsi atau jumlah obat yang diserap
- metabolisme dalam lumen saluran cerna (pH lambung, enzim-enzim pencernaan, flora usus)
Menentukan jumlah obat yang tersedia untuk diserap
- kapasitas metabolisme dalam dinding saluran cerna dan dalam hati (aktivitas enzim metabolisme dalam dinding saluran cerna dan dalam hati, factor genetic, aliran darah portal, penyakit hati)
Menentukan jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik
3. interaksi dalam absorpsi di saluran cerna

-    adanya makanan
-    perubahan pH saluran cerna (antacid)
-    perubahan motilitas saluran cerna (katartik, opiate, antikolinergik)
-    perubahan perfusi saluran cerna (obat-obat kardiovaskuler)
-    gangguan pada fungsi normal mukosa usus (neomisin, kolkisin)
-    interaksi langsung (kelasi, adsorpsi, terikat pada resin, larut dalam cairan yang tidak diabsorpsi)

Absorpsi obat melalui saluran cerna pada umumnya terjadi secara difusi pasif, karena itu absorpsi mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak. Absorpsi obat di usus halus selalu jauh lebih cepat dibandingkan di lambung karena permukaan epitel usus halus jauh lebih luas dibandingkan dengan epitel lambung. Selain itu, epitel lambung tertutup lapisan mucus yang tebal dan mempunyai tahanan listrik yang tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kecepatan pengosongan lambung biasanya akan meningkatkan kecepatan absorpsi obat, dan sebaliknya. Akan tetapi, perubahan dalam kecepatan pengosongan lambung atau motilitas saluran cerna biasanya tidak mempengaruhi jumlah obat yang di absorpsi atau yang mencapai sirkulasi sistemik, kecuali pada tiga hal berikut ini. (1) obat yang absorpsinya lambat karena sukar larut dalam cairan usus (misalnya digoksin, difenilhidantoin, prednisone)memerlukan waktu transit dalam saluran cerna yang cukup panjang untuk kelengkapan absorpsinya. (2) sediaan salut enteric atau sediaan lepas lambat yang absorpsinya biasanya kurang baik atau inkonsisten akibat perbedaan penglepasan obat dilingkungan berbeda, memerlukan waktu transit yang lama dalam usus untuk meningkatkan jumlah yang diserap. (3) pada obat-obat yang mengalami metabolisme di saluran cerna, misalnya penisilin G dan eritromisin oleh asam lambung, levodopa dan klorpromazin oleh enzim dalam dinding saluran cerna, pengosongan lambung dan transit gastrointestinal yang lambat akan mengurangi jumlah obat yang diserap untuk mencapai sirkulasi sistemik. Untuk obat yang waktu paruh eliminasinya pendek misalnya prokainamid, perlambatan absorpsi akan menyebabkan kadar terapi tidak dapat dicapai, meskipun jumlah absorpsinya tidak berkurang.
Absorpsi secara transport aktif terjadi terutama di usus halus untuk zat-zat makana; glukosa dan gula lain, asam amino, basa purin dan pirimidin, mineral, dan beberapa vitamin. Cara ini juga terjadi untuk obat-obat yang struktur kimianya mirip struktur zat makanan tersebut, misalnya levodopa, metildopa, 6-merkaptopurin, dan 5-fluorourasil.
Kecepatan absorpsi obat bentuk padat ditentukan oleh kecepatan disintegrasi dan disolusinya sehingga tablet yang dibuat oleh pabrik yang berbeda dapat berbeda pula bioavailabilitasnya. Ada kalanya sengaja dibuat sediaan yang waktu disolusinya lebih lama untuk memperpanjang masa absorpsi sehingga obat dapat diberikan dengan interval lebih lama. Sediaan ini disebut sediaan lepas lambat (sustained-releasae). Obat yang dirusak oleh asam lambung atau yang menyebabkan iritas lambung sengaja dibuat tidak terdisintegrasi di lambung yaitu sebagai sediaan salut enteric (enteric coated).
Absorpsi dapat pula terjadi di mukosa mulut dan rectum walaupun permukaan absorpsinya tidak terlalu luas. Nitrogliserin ialah obat yang sangat poten dan larut baik dalam lemak maka pemberian sublingual atau perkutan sudah cukup untuk menimbulkan efek. Selain itu, obat terhindar dari metabolisme lintas pertama di hati karena aliran darah dari mulut tidak melalui hati melainkan langsung ke vena cava superior. Pemberian perektal sering diperlukan pada penderita yang muntah-muntah, tidak sadar dan pasca bedah. Metabolisme tingkat pertama di hati lebih sedikit dibandingkan dengan pemberian peroral karena hanya sekitar 50% obat yang diabsorpsi dari rectum akan melalui sirkulasi portal. Namun banyak obat mengiritasi mukosa rectum dan absorpsi di sana sering tidak lengkap dan tidak teratur.
3.      Pemberian Secara Suntikan
Keuntungan pemberian obat secara suntikan (parenteral) ialah :
1). Efeknya timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan pemberian peroral, 2). Dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar atau muntah-muntah, dan 3). Sangat berguna dalam keadaan darurat. Kerugiannya ialah dibutuhkan cara asepsis, menyebabkan rasa nyeri, ada bahaya penularan hepatitis serum, sukar dilakukan sendiri oleh penderita, dan tidak ekonomis.
Pemberian secara intra vena (iv) tidak mengalami tahap absorpsi, maka kadar obat dalam darah diperoleh secara cepat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respons penderita. Larutan tertentu yang iritatif hanya dapat diberikan dengan cara ini, karena dinding pembuluh darah relatif tidak sensitive dan bila disuntikkan perlahan-lahan, obat segera diencerkan oleh darah.
Suntikan subkutan hanya boleh digunakan untuk yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsi biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Obat dalam bentuk padat yang ditanamkan dibawah kulit dapat diabsorpsi selama beberapa minggu atau beberapa bulan.
Pemberian suntikan intra muscular (IM), kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan absorpsi. Obat yang sukar larut dalam air pada PH fisiologik akan mengendap di tempat suntikan sehingga absorpsinya berjalan lambat, tidak lengkap, dan tidak teratur. Obat yang larut dalam air diserap cukup sepat,tergantung dari aliran darah ditempat suntikan. Absorpsi lebih cepat di deltoid atau vastus latelaris daripada gluteus maksimus. Obat-obat dalam larutan minyak atau bentuk suspensi akan diabsorpsi dengan sangat lambat dn konstan.
Suntikan intratekal, yakni suntikan lansung ke dalam ruang subarakhnoid spinal, dilakukan bila diinginkan efek obat yang cepat dan setempat pada selaput otak atau sumbu serebrospinal, seperti pada anestesi spinal atau pengobatan infeksi SSP.
Suntikan intraperitonial tidak dilakukan pada manusia karena bahaya infeksi dan adesi terlalu besar.
4.      Pemberian Melalui Paru-paru
Cara inhalasi ini hanya dapat dilakukan untuk obat yang berbentuk gas atau cairan yang mudah menguap misalnya anestetik umum, dan untuk obat lain yang diberikan dalam bentuk aerosol. Absorpsi terjadi melalui epitel paru dan mukosa saluran nafas. Absorpsi terjadi secara cepat karena permukaan absorpsinya luas, terhindar dari eliminasi lintas pertama di hati, dan pada penyakit paru misalnya asma bronchiale obat dapat diberikan langsung pada bronkus
5.      Pemberian Topikal
Jumlah obat yang diserap bergantung pada luas permukaan kulit yang terpajan serta kelarutan obat dalam lemak karena epidermis bertindak sebagai sawar lemak. Dermis permeable terhadap banyak zat sehingga absorpsi terjadi jauh lebih mudah bila kulit terkelupas atau terbakar. Absorpsi dapat ditingkatkan dengan membuat suspensi obat dalam minyak dan menggosokkannya ke kulit, atau dengan menggunakan penutup diatas kulit yang terpajan.
Pemberian topical pada mata dimaksudkan agar mendapatkan efek lokal pada mata, yang biasanya memerlukan absorpsi melalui kornea. Absorpsi jauh lebih cepat bila kornea mengalami infeksi atau trauma.

B.     Distribusi
Distribusi adalah proses di mana obat menjadi berada dalam cairan tubuh dan jaringan tubuh. Distribusi obat dipengaruhi oleh aliran darah, afinitas (kekuatan penggabungan) terhadap jaringan, dan efek pengikatan dengan protein.
Ketika obat didistribusi di dalam plasma, kebanyakan berikatan dengan protein (terutama albumin) dalam derajat yang berbeda-beda. Obat-obat yang lebih besar dari 80% berikatan dengan protein dikenal sebagai obat-obat yang berikatan dengan tinggi protein. Salah satu contoh obat yang berikatan tinggi dengan protein adalah diazepam (valium): yaitu 98% berikatan dengan protein. Aspirin 49% berikatan dengan protein dan termasuk obat yang berikatan sedang dengan protein. Bagian obat yang berikatan bersifat inaktif, dan bagian obat selebihnya yang tidak berikatan dapat bekerja bebas. Hanya obat-obat yang bebas atau yang tidak berikatan dengan protein yang bersifat aktif dan dapat menimbulkan respons farmakologik. Dengan menurunnya kadar obat bebas dalam jaringan, maka lebih banyak obat yang berada dalam ikatan dibebaskan dari ikatannya dengan protein untuk menjaga keseimbangan dari obat yang dalam bentuk bebas.
Abses, eksudat, kelenjar dan tumor juga mengganggu distribusi obat. Antibiotik tidak dapat dapat didistribusi dengan baik pada tempat abses dan eksudat. Selain itu, beberapa obat dapat menumpuk dalam jaringan tertentu, seperti lemak, tulang, hati, mata dan otot.

C.    Metabolisme dan Biotransformasi
Biotransformasi atau metabolisme obat adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan di kaltalisis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Pada umumnya obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat. Tetapi ada obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif, atau lebih toksik.
Reaksi biokimia yang terjadi dapat dibedakan atas reaksi fase I dan fase II. Yang termasuk reaksi fase I adalah oksidasi, reduksi, dan hidrolisis. Reaksi fase ini mengubah obat menjadi metabolit yang lebih polar, yang dapat bersifat inaktif, kurang aktif, atau lebih aktif dari bentuk aslinya. Reaksi fase II yang disebut juga reaksi sintetik, merupakan konyugasi obat atau metabolit hasil reaksi fase I dengan substrat endogen. Hasil konyugasi ini bersifat lebih polar dan lebih mudah terionisasi sehingga lebih mudah diekskresi. Tidak semua obat dimetabolisme melalui kedua fase ini, ada obat yang hanya mengalami fase I saja (satu atau beberapa macam reaksi) atau fase II saja. Tetapi kebanyakan obat dimetabolisme melalui bebrapa reaksi sekaligus atau secara berurutan menjadi beberapa macam metabolit.
Enzim yang berperan dalam biotrnsformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya didalam sel, yakni enzim mikrosom dan enzim nonmikrosom. Enzim mikrosom mengkatalis reaksi konyugasi glukuroid, sebagian reaksi oksidasi obat, serta reaksi reduksi dan hidrolisis. Sedangkan enzim nonmikrosom mengkatalis reaksi konyugasi lainnya, beberapa reaksi oksidasi, serta reaksi reduksi dan hidrolisis.

D.    Ekskresi
Rute utama dari eliminasi obat adalah melalui ginjal, rute-rute lain meliputi empedu, feses, paru-paru, saliva, keringat dan air susu ibu. Obat bebas yang tidak berikatan yang larut dalam air, dan obat-obat yang tidak diubah, difiltrasi oleh ginjal. Obat-obat yang  berikatan dengan protein tidak dapat difiltrasi oleh ginjal. Sekali obat dilepaskan ikatannnya dengan protein, maka obat menjadi bebas dan akhirnya akan diekskresikan melalui urine.
 pH urine mempengaruhi ekskresi obat. pH urine bervariasi dri 4,5 sampai 8. Urine yang asam meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa lemah. Aspirin, suatu asam lemah diekskresikan dengan cepat dalam urine yang basa. Jika seseorang meminum aspirin dalam dosis berlebihan, natrium bikarbonat dapat diberikan untuk mengubah pH urine menjadi basa. Juice cranberry dalam jumlah yang banyak dapat menurunkan pH urine, sehingga terbentuk urine yang asam



Bab ii
FARMAKODINAMIK

Farmakodinamik ialah cabang ilmu yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti efek obat utama, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spectrum efek dan respon yang terjadi.
A.    Mekanisme kerja obat
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan reseptornya mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respon khas untuk obat tersebut. Reseptor merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup dua konsep penting. Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa obat tidak menimbulkan suatu efek baru, tetapi hanya memodulasi efek yang sudah ada.
B.     Reseptor obat
Sifat kimia. Komponen yang paling penting dalam reseptor obat ialah protein (misalnya, asetilkolinesterase, tubulin, dsb). Asam nukleat juga dapat merupakan reseptor obat yang penting, misalnya untuk sitostatika,. Ikatan obat-reseptor dapat berupa ikatan ion, hydrogen, hidrofobik, van der Walls, atau kovalen.
Hubungan struktur-aktivitas. Struktur kimia suatu obat berhubungan erat dengan afinitasnya terhadap reseptor dan aktivitas instrinsiknya, sehingga perubahan kecil dalam molekul obat.
Reseptor fisiologis. Fungsi reseptor ini meliputi pengikatan ligand yang sesuai yang dapat secara langsung menimbulkan efek intrasel atau secara tak langsug memulai sintesis maupun pelepasan molekul intrasel lain yang dikenal sebagai second messenger.


C.     Transmisi sinyal biologis
Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler menimbulkan suatu respon seluler fisiologis yang spesifik. Sistem hantaran ini dimulai dengan penempatan transmitor pada reseptor yang terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasma.
Reseptor di membrane sel bekerja dengan cara mengikat ligand yang sesuai kemudian meneruskan sinyalnya ke target tersebut baik secara langsung ke intra sel atau dengan cara memproduksi molekul pengatur lainnya di intra sel.
Reseptor yang terdapat dalam sitoplasma merupakan protein teralrut pengikat DNA (soluble DNA-binding protein) yang mengatur transkripsi gen-gen tertentu.
Sejumlah reseptor untuk neurotransmitter tertentu membentuk kanal ion selektif di membran plasma dan menyampaikan sinyal biologisnya dengan cara mengubah potensial membrane atau komponen ion.
Pengaturan fungsi reseptor. Reseptor tidak hanya berfungsi dalam pengaturan fisiologi dan biokimia, tetapi juga diatur atau dipengaruhi oleh mekanisme homeostatic lain. Bila suatu sel dirangsang oleh agonisnya secara terus menerus maka akan terjadi desensitisasi yang menyebabkan efek perangsangan selanjutnya oleh kadar obat yang sama berkurang atau hilang. Sebaliknya bila rangsangan pada reseptor berkurang secara kronik, seringkali terjadi hipereaktivitas karena supersensitivitas tehadap agonis (akibat bertambahnya jumlah reseptor).
D.    Interaksi obat-reseptor
Ikatan antar obat dan reseptor merupakan ikatan lemah dan jarang berupa ikatan kovalen. Menurut teori pendudukan reseptor, intensitas efek obat berbanding lurus dengan fraksi reseptor yang diduduki atau diikatnya, dan intensitas efek mencapai maksimal bila seluruh reseptor diduduki oleh obat, hubungan dosis dan intensitas efek dalam keadaan sesungguhnya tidaklah sederhana karena banyak obat bekerja secara kompleks dalam menghasilkan efek. Efek maksimal adalah respons maksimal yang ditimbulkan obat bila diberikan pada dosis yang tinggi. Ini ditentukan oleh aktivitas instrinsik obat dan ditunjukan oleh dataran (plateu) pada DEC. tetapi dalam klinik, dosis obat dibatasi oleh timbulnya efek samping, dalam hal ini efek maksimal yang dicapai dalam klinik mungkin kurang dari efek maksimal yang sesungguhnya.
E.     Antagonisme farmakodinamik
Secara farmakodinamik dapat dibedakan 2 jenis antagonisme, yakni antagonisme fisiologik dan antgonisme pada reseptor. Selain itu, antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif atau nonkompetitif.
Antagonisme fisiologik terjadi pada orfgan yang sama, terapi pada sistem reseptor yang berlainan. Misalnya efek bronkokonstriksi histamine pada bronkus lewat reseptor histamine, dapat dilawan dengan pemberian adrenalin yang bekerja pada adrenoreseptor betha.
Antagonisme pada reseptor terjadi melalui sistem reseptor yang sama. Artinya antagonis mengikat reseptor di tempat ikatan agonis (receptor site atau active site) sehingga terjadi antagonisme antara agonis dengan antagonisnya. Misalnya efek histamine yang dilepskan dalan reaksi alergi dapat dicegah dengan pemberian antihistamin yang menduduki reseptor yang sama.
Agonis adalah obat yang bila menduduki reseptor menimbulkan efek farmakologi secara instinsik, sedangkan antagonis ialah obat yang menduduki reseptor yang sama tetapi secara instinsik tidak mampu menimbulkan efek farmakologi. Jadi antagonis menghalangi ikatan reseptor dengan agonisnya sehingga kerja agonis terhambat.
Pada antagonis kompetitif, antagonis berikatan dengan receptor site secara reversible sehingga dapat digeser oleh agonis kadar tinggi. Dengan demikian penghambatan efek agonis dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis sampai akhirnya dicapai efek maksimal.
Pada antagonis nonkompetititf, penghambatan efek agonis tidak dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis. Akibatnya efek maksimal yang dicapai akan berkurang, tetapi afinitas agonis terhadap reseptornya tidak berubah. Antagonis nonkompetitif terjadi bila antagonis mengikat reseptor secara irreversible, di receptor site maupun di tempat lain, sehinggga menghalangi ikatan agonis dengan reseptornya. Dengan demikian antagonis mengurangi jumlah reseptor yang tersedia untuk berikatan dengan agonisnya sehingga efek maksimal akan berkurang. Tetapi afinitas agonis terhadap reseptor bebas tidak berubah.
F.      Kerja obat yang tidak diperantarai reseptor
Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Obat-obat ini mungkin mengubah sifat cairan tubuh, berinteraksi dengan ion atau molekul kecil, atau masuk ke komponen sel.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top