Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Sabtu, 17 Januari 2015

Contoh Pidato tentang Indahnya Ilmu

 Contoh Pidato tentang Indahnya Ilmu

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum wr.wb.,

 اَلْحَمْدُ ِللهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ، الَّذِي حَبَانَا بِالْإِيْمَانِ واليقينِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد،ٍ خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِين، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيِن، وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ أَجْمَعِين، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt. Karena atas berkat rahmat, taufik, hidayah, dan kesehatan-Nyalah, kita dapat berkumpul di tempat yang sederhana namun sangatlah bermanfaat ini.
Tak henti-hentinya pula kita kirimkan shalawat dan salam terhangat bagi Rasulullah Saw. Karena ianya pula kita semua dapat keluar dari alam yang gelap, kelam, hitam, dan pekat, menuju alam yang indah, terang benderang, nan menawan.
Teman-temanku saya banggakan, tahukah kamu apa senjata yang paling ampuh untuk manaklukkan dunia? Dan apa pula kendaraan yang menawan tuk bertamasyah ke akhirat? Ya, ilmulah itu.
Dalam KBBI, ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah. Dengan serangkain percobaan maka pengetahuan pun dipatenkan menjadi ilmu pengetahuan.
Contohnya begini, kita semua tahu bahwa air jika mendidih pastilah panas. Ini yang disebut pengetahuan. Namun, untuk mengetahui seberapa panas suhu air ketika mendidih, kita melakukan penelitian, maka didapatilah air mendidih pada suhu 100° C. inilah yang disebut ilmu pengetahuan.
Ilmu senantiasa tumbuh dan berkembang, ilmu itu haruslah berguna dan dapat dipraktekkan untuk kehidupan sehari-hari, serta ilmu tersebut untuk kesejahteraan umat manusia.
Dalam islam, Al quran dan sunnah, merupakan sandaran paling hakiki dari semua ilmu pengetahuan. Tidak saja menjadi sandaran dan sumber, tapi sekaligus menjadi perintah dan orientasi kehidupan.
Teman-teman, Imam syafi’I suatu ketika menggubah syair. Sebuah syair tentang para pencari ilmu dan syarat-syarat memperoleh ilmu. Kata Iman Syafi’I, tidaklah mungkin ilmu didapat, kecuali dengan enam syarat. Enam syarat itu ialah dzaka, hirsh, ishtibar, bulghah, irsyadu ustadzin, dan zaman.
Bagaimanapun, seorang pencari ilmu, kata Iman Syafi’I, harus memiliki kecerdasan, dzaka. Dzaka adalah syarat yang tak bisa ditawar. Begitu pula hirz, seorang pencari ilmu harus pula memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Tanpa semangat, seorang pencari ilmu hanya akan tenggelam dalam cita-cita palsunya yang tak pernah selesai dibangun. Kecerdasan dan semangat saja, tak cukup untuk mendapatkan ilmu yang sempurna. Para pencari ilmu harus membekali diri mereka dengan ishtibarin, kesabaran yang luas layaknya samudera. Karena semangat tanpa kesabaran hanya akan membuat pencari ilmu muda terjerembab pada keputusasaan.
Selanjutnya, Imam Syafi’i juga mensyaratkan bhulghatin, modal. Jer bersuki mawa bea, setiap kesuksesan selalu meminta biaya, kata orang Jawa demikian. kemajuan ilmu pengetahuan pengetahuan, memang bukan tiba-tiba jatuh dari langit. Semua usaha dikerahkan, termasuk dana dalam pencarian, penelitian, dan sekian banyak percobaan. Dan, unsur paling penting dalam syarat Imam Syafi’I adalah irsyadul ustadzin, guru yang membimbing. Ilmu memang bisa dicari tanpa guru. Ilmu pun bisa didapat tanpa ustadz. Tapi guru dan pembimbing, tak akan pernah bisa tersingkir. Sebab, ilmu bukan hanya soal matematika atau bahasa Indonesia, tapi juga soal transfer akhlak, moral, dan akidah. Dan terakhir kata Imam Syafi’I, dalam ilmu pengetahuan, tak satu hal pun bersifat instan. Ilmu selalu membutuhkan thulu zaman, perjalanan waktu. Tak ada ilmu untuk orang-orang yang berpikir instan dan menghendaki hasil seperti mata yang dikedipkan. Tak ada ruang untuk orang-orang yang ingin hasil secepat kilat.
Cukuplah enam syarat seperti yang dicatat oleh Imam Syafi’i. Janganlah berkurang, meski satu saja darinya. Sebab semuanya mempunyai kaitan yang sangat erat.
Teman-teman sekalian yang saya cintai, tujuan ilmu sama sekali bukan hanya tentang kenikmatan intelektual. Tujuan ilmu, bukan pula mencari puncak pencapaian. Tapi, untuk memperbaiki kualitas hidup, amal, dan menjernihkan pandangan, serta arah kehidupan.
Ilmu pun, bukan pula kebenaran yang bersifat mutlak, tak berubah, apalagi kekal. Kebenaran ilmu pengetahuan jauh di bawah kenenaran hakikat, kalamullah, firman Allah.
Dan Ibrahim a.s. telah membuktikannya. Secara ilmu, tentu api terasa panas, tidak dingin. Tapi ketika Allah azza wa jalla menghendaki, apapun bisa terjadi.
Orang-orang yang mengejar ilmu untuk ilmu, ilmu untuk kepuasan berpikir, dan ilmu untuk menjadi gagah dan bangga, seperti berjalan dalam labirin pekat yang membuat sesak. Sikap kita pada ilmu, tentu akan menentukan segalanya. Dan sebaik-baiknya sikap, tentu saja sikap yang mampu mengubah ilmu menjadi kekuatan yang menyelamatkan.
Dan akhir dari semua usaha, tentu dengan tengadah tangan dan berlapang dada, memanjat doa. Semoga Allah, dengan ilmu yang kita dapat, memberikan kesempatan seluas-luasnya, sehingga kita bermanfaat bagi umat. Dan memetik kemenangan, di dunia pun di akhirat. Semoga Allah meringankan langkah para pencari ilmu dan meridhainya dengan cahaya di jalan yang benderang.
Dan semoga apa yang saya bawakan ini, sangatlah bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi saya pribadi. Akhir kata, subehanaka allahumma wabiahamdik ashaduallailaha anta astagfiruka waatub ilaik, wassalamualaikum wr.wb.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top