Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Rabu, 08 Juli 2015

MAKALAH TENTANG PERMASALAHAN GLOBAL | IPS

PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Perubahan yang sangat cepat yang dialami masyarakat seiring dengan berkembangnya jaman yang dibarengi bertambahnya tingkat pemahaman dan juga pengetahuan manusia di bidang Sains dan Teknologi telah membawa banyak dampak bagi kehidupan manusia secara umum baik positif maupun negatif. Untuk mengiringi kemajuan yang berjalan sangat cepat samapai saat ini kita masih menggantungkan harapan pada pendidikan untuk tetap mengawal dan menjaga kehidupan sosial masyarakat yang terus berubah. Namun dunia pendidikan kita yang masih belum bisa mengejar cepatnya arus perubahan itu perlu disesuaikan dan jga dijaga sehingga tetap mampu menjawab tantangan dari perubahan dan kemajuan yang terus terjadi.
Dalam bidang pendidikan, Pendidikan Ilmu Sosial juga tidak lepas dari tantangan yang sangat keras yang berupa tuntutan akan adanya perbaikan kualitas pendidikan dan juga tenaga kependidikan. Melihat kondisi yang dihadapi dan memang harus dilewati tersebut maka sudah sepantasnya Pendidikan Ilmu Sosial mulai membenahi diri baik dari bergeser dari tatanan epistomologi kea rah pengembangan inovasi dan juga solusi bagi perkembangan pendidikan IPS ke depannya.  Dimana hal ini sangatlah sesuia dengan tujuam utama pendidikan IPS yaitu mempersiapkan warga negara yang dapt membuat keputusan reflektif dan berpartisipasi dengan sukses dalam kehidupan kewarganegaraandi lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam pembelajaran IPS, peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengetahuan, pengalaman-pengalaman dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan demokratis, termasuk memperaktekkan berpikir dan pemecahan masalah (Aziz, 2002).
Pembelajaran IPS di sekolah juga belum berupaya melaksanakan dan membiasakan pengalaman nilai-nilai kehidupan demokratis, sosial kemasyarakatan dengan melibatkan siswa dan komunitas sekolah dalam berbagai aktifitas kelas dan sekolah. Selain itu dalam pembelajran IPS lebih menekankan pada aspek pengetahuan, fakta dan konsep-konsep yang besifat hapalan belaka. Inilah yang dituding sebagai kelemahan yang menyebabkan “kegagalan” pembelajaran IPS di sekolah-sekolah di Indonesia.
Jika pembelajaran IPS selama ini tetap diteruskan, terutama hanya menekankan pada informasi, fakta, dan hafalan, lebih mementingkan isi dari proses, kurang diarahkan pada proses berfikir dan kurang diarahkan pada pemeblajaran bermakna dan berfungsi bagi kehidupannya, maka pembelajaran IPS tidak akan mampu membantu peserta didiknya untuk dapat hidup secara efektif dan produktif dalam kehidupas masa yang akan datang. Oleh karena itu sudah semestinya pembelajaran IPS masa kini dan ke depan mengikuti berbagai perkembangan yang tejadi di dunia secara global.
B.            Rumusan Masalah
1.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan penduduk dan keluarga berencana.
2.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan pembangunan.
3.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan Hak Asasi Manusia (HAM)
4.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan migrasi.
5.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan kepemilikan bersama secara global.
6.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan lingkungan hidup dan sumber daya alam.
7.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan kelaparan dan bahan pangan.
8.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan perdamaian dan keamanan.
9.      Apa saja permasalahan yang berkaitang dengan prasangka dan diskriminasi.
C.           Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan penduduk dan keluarga berencana.
2.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan pembangunan.
3.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan Hak Asasi Manusia (HAM).
4.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan migrasi
5.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan kepemilikan bersama secara global.
6.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan lingkungan hidup dan sumber daya alam
7.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan kelaparan dan bahan pangan.
8.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan perdamaian dan keamanan.
9.      Untuk mengetahui permasalahan yang berkaitang dengan prasangka dan diskriminasi.




BAB II
Masalah-masalah Global dalam Pembelajaran IPS SD
Berkenaan dengan masalah-masalah global, Merry M.Merryfield (1997: g) antara lain mengemukakan penduduk dan keluarga berencana (population and family planning), pembangunan (development), hak asasi manusia (human right), imigrasi (emigration, immigration, refugees), kepemilikan bersama global (the global commons), kelaparan dan bahan pangan (hunger and food), perdamaian dan keamanan (peace security), prasangka diskriminasi (prejudice and discrimination). Masalah-masalah tersebut langsung ataupun tidak langsung, beberapa di antaranya telah kita bahas. Namun demikian, sambil jalan pada diskusi ini, akan kita singgung lagi. Bobot dan lingkupnya tentu saja disesuaikan dengan kemampuan kita , dan kemampuan peserta didik yang anda hadapi.
A.                Penduduk dan Keluarga Berencana
Masalah penduduk da pelaksanaan keluarga berencana sebagai upaya mengatasi masalahnya, bukan lagi hanya dialami oleh kelompok masyarakat tertentu dan negara-negara tertentu, melainkan terlah menjadi masalah yang dirasakan, disadari serta dialami oleh negara-negara diseluruh dunia. Masalah penduduk terletak pada tingkat kesejahteraan dan kemakmuran yang rendah sebagai akibat adanya kesenjangan yang besar antara pertumbuyhan serta jumlah penduduk yang terus meningkat dengan pertumbuhan segala kebutuhan yang terbatas. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan untuk meyeimbangkan dan menaggulanginya termasuk program keluarga berencana masih belum berhasil. Program dan bahkan gerakan keluarga berencana sebagai usaha membatasi tingginya pertumbuhan penduduk masih mengalami hambatan, baik psikologi, sosial, budaya, maupun ekonomi. Pelaksanaan KB secara berlanjut dan bersinambungan, mendapat kendala dari berbagai pihak, baik pihak penduduk sendiri maupun pihak lembaga yang mengelola dan membiayainya. Belum lagi kita berbicara tentang kesempatan dan lapangan kerja, kesediaan dan persediaan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan, serta layanan lain yang terkait dengan kebutuhan dan kesejahteraan penduduk. Cobalah anda selaku guru IPS amati, hayati dan analisis kondisi kependudukan dalam keluarga serta keadaan dimasyarakat sekitar anda sendiri. Kemudian lebih jauh lagi, coba anda serap informasi dari berbagai media keadaan kependudukan dinegara lain di dunia ini.
B.                 Pembangunan
Sebagai suatu konsep, pembanguanan itu merupakan upaya berencana meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun dalam pelaksanaannya untuk kebanyakan negara-negara yang miskin didunia, menjadi masalah. Masyarakat dan negara-negara yang miskin yang seharusnya melakukan pembangunan untuk mengetaskan diri dari kemiskinan, justru tidak mampu melaksanakannya. Pembangunan sebagai rangkaian kegiatan perencanaan- pengkajian – uji kelayakan – pengelolaa – pelaksanaan – evaluasi, memerlukan SDM yang handal, dana yang mendukung, dan suasana yang kondusif. Untuk memenuhi tuntutan perangkat yang demikaian, bagi kebanyakan negara-negara didunia, menjadi masalah, apalagi untuk “pembangunannya sendiri”. Apabila tidak ada upaya tingkat global melalui lembaga-lembaga dunia, bagi negara-bangsa miskin dan terbelakang, masalah pembangunan ini menjadi “lingkaran setan”yang tidak akan berhenti. Dengan demikian pembangunan yang seharusnya menjadi upaya pemecahan masalah, untuk negara-negara terbelakang dan miskin, justru menjadi masalah. Dan hal ini, SDM dengan kualitas kemampuannya, menjadi kunci utama.
C.                Hak Asasi Manusia (HAM)
HAM merupakan hal yang melekat pada setiap diri manusia, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun sebagi warga negara-negara dan warga dunia. Mengenai HAM ini telah kita diskusikan pada modul nomer 4yang lalu. Namun disini kita perlu mempertanyakan kembali, mengapa HAM yang melekat pada diri tiap orang itu menjadi maasalah, bahakan menjadi masalah global? Persoalannya terletak pada pelanggaran yang terjadi dan dialami oleh orang-orang tertentu baik sebagai individu maupun sebagai kelompok oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kekuasaan atau yang berkuasa. Pelanggran ini telah terjadi secara lokal di kawasan-kawasan tertentu, di negara-negara tertentu, bahkan juga tingkat dunia. Cobalah anda amat, dengarkan dan perhatikan disekeliling kita semua, bahkan mungkin dialami oleh kita sendiri. Oleh karena itu, kita masing-masing harus menyadari hak dan kewajiban, dan memahami serta menghormati hak dan kewajiban orang lain. Lebih jauh lagi kita harus berupaya memberikan pengertian dan kesadaran kepada peserta didik atas hak dan kewajiabannya. Proses yang demikian itu juga ditunjukkan kepada masyarakat awam yang biasanya menyadari kewajibannya, seshingga mereka menjadi sasaran pihak-pihak yang berupaya memanfaatkan. Upaya penegakkan HAM ini harus dilakukan oleh tiap warga untuk menjegah dan memecahkan masalah atas pelanggarannya.
D.                Migrasi
Migrasi sebagai suatu gerak pindah penduduk yang menjadi masalah global, paling tidak, meliputi emigrasi (perpindahan penduduk menuju negara lain yang akan menetap di negara baru tersebut), imigrasi (perpindahan penduduk dari suatu negara ke dalam negeri tertentu yang  diperkirakan akan menetap di negeri terakhir), dan pengungsian (perpindahan negara lain karena faktor tertentu yang mendesak).  Orang-orang yang berpindah akan membawa masalah ekonomi (lapangan kerja, kekurangan bahan pangan), masalah politik (perang saudara, perbedaan ideologi. Bagi kawasan atau negara yang didatangi akan menjadi masalah karena berkaitan dengan pemenuhan segala kebutuhan para pendatang, mulai dari tempat tinggal, pekerjaan, bahan pangan dan sebagainya. Belum lagi dari keyakinan politik yang dianut, kriminalitas, dan kemungkinan wabah penyakit yang mereka bawa. Masalah tersebut berdampak luas dalam berbagai aspek kehidupan diantara dua belah pihak.

E.                 Kepemilikan Bersama Secara Global
Tiap kawasan dengan kawasan lain terdapat apa yang ditetapkan sebagai batas wilayah (darat, perairan, udara). Namun dalam konteks dunia global, khususnya yang berkenaan dengan samudra dan udara terbuka merupakan milik seluruh umat manusia yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. Kenyataannya samudra dan udara terbuka itu menjadi sengketa yang dapat menimbulkan masalah besar. Oleh karena itu, hal yang sesungguhnya menjadi milik bersama umat manusia, yang tidak dapat diklaim oleh pihak manapun dan harus diatur bersama secara global oleh hukum Internasional.
F.                 Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam
Lingkungan hidup dengan sumber daya alam merupakan dua hal atau dua pihak yang terkait satu sama lain, bahkan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. Lingkungan hidup bagi kita manusia adalah “kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang memperngaruhi kelangsungan perkehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (UURI No.4/1982:3).Lingkungan hidup itu meliputi hal-hal yang sangat luas mencakup segala apa yang ada disekeliling kita manusia, bahkan termasuk manusia yang ada diluar diri kita masing-masing. Oleh karena itu, lingkungan hidup ini dapat dikelompokkan menjadi lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya dan lingkungan psikologi. Sumber daya menurut Undang-Undang  Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1982 adalah “unsur lingkungan  hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alami hayati, sumber saya alami non hayati dan sumber daya buatan. Dengan demikian, sumber daya itu, tidak lain adalah unsur lingkungan yang terdiri atas berbagai benda, baik hidup (manusia, tumbuhan, hewan), dan yang tidak hidup (mineral, udara, gas, energi) yang menjamin kehidupan umat manusia. Apabila kita tetapkan air terjun, hutan, udara dan pesawat sebagai benda atau fenomena yang menjamin kehidupan kita manusia, kita nyatakan pula sebagai “sumber daya”. Oleh karena itu, benda atau fenomena yang sama, dapat kita sebut sebagai lingkungan dan dapat pula kita nyatakan sebagai sumber daya tergantung dari sudut pandang yang kita tetapkan. Sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk manusia dengan segala kebutuhannya, lingkungan sebagai sumber daya, secara alamia tidak dapat lagi menjamin kehidupan manusia. Tanpa penerapan dan pemanfaatan IPTEK dalam merekayasa lingkungan sebagai sumber daya, kesejahteraan umat manusia tidak dapat dijamin. Penerapan dan pemanfaatan IPTEK tersebut bermata atau dilematis.  Ada pihak yang menyatakan bahwa IPTEK  itu menjadi “tulang punggung kesejahteraan”. Pemanfaatan IPTEK juga telah membawa dampak negatif atau laknat dalam bentuk masalah lingkungan seperti pencemaran, banjir, tanah longsor, dan kenaikan suhu global. Oleh karena itu, kita umat manusia harus penuh kewaspadaan dalam menerapkan dan memanfaatkan IPTEK sesuaii dengan asas-asas keserasian, keseimbangan dan kelestarian. Masalah lingkungan dan pengurasan sumber daya alam, bukan lagi hanya merupakan masalah lokal, regional ataupun nasional, melainkan telah meyakini sebagai masalah global yang telah menjadi perhatian kepeduliaan masyarakat dunia.
G.                Kelaparan dan Bahan Pangan
Kelaparan dan keterbatasan persediaan bahan pangan, merupakan masalah yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan umat manusia, baik lokal dan regional maupun global. Bertolak dari pertumbuhan penduduk dunia yang tidak akan berhenti, meskipun di berbagai kawasan tingkat rata-ratanya sudah sangat menurun, bahkan ada yang menerapkan konsep “pertumubuhan nol” (zero growth), namun kenyataannya penduduk dunia itu jumlahnya terus meningkat. Menurut perhitungan dan proyeksi Population Reference Bereau (World Population Data Sheet,1997), penduduk dunia tahun 1997 jumlahnya 5,840 miliar, tahun 2010 sebanyak 6,894 miliar dan pada tahun 2025 yang akan datang akan mencapai 8,036 miliar. Jumlah penduduk dunia yang terus meningkat seperti itu, sudah pasti diikuti oleh pertumubuhan kebutuhan hidupnya, paling tidak kebutuhan pangan. Oleh karena itu, peningkatan produksi pangan, khususnya produksi pertanian bahan pangan, menjadi tuntutan. Segala metode, pendekatan, teknik dan teknologi telah diterapkan pada bidang pertanian dalam upaya meningkatkan produksi bahan pangan tadi, baik pada tingkat lokal dan regional maupun pada tingkat dunia.
H.                Perdamaian dan Keamanan
Perdamaian dan keamanan adalah dua aspek sosial-psikologis yang sangat mendasar serta didambakan oleh setiap individu umat manusia. Namun demikian sangat sulit terealisasikan secara wajar dalam kehidupan. Kita dapat menghayati apa yang terungkap dalam pepatah “lain di bibir, lain di hati”, apa yang menjadi perbincangan tentang “perdamaian” berbeda dengan kenyataan. Perlombaan senjata dan mempersenjatai diri dengan dalih “senjata untuk perdamaian” yang tidak hanya dilakukan oleh negara-negara adikuasa-melainkan juga oleh negara-negara “kecil”, merupakan petunjuk bahwa perdamaian itu seperti “telur di ujung tanduk”. Kita dapat menyimak dan mengamati “perlombaan senjata” antara Korea Utara dan Korea Selatan , antara Israel dan negara-negara Arab, menunjukkan kerawanan terhadap perdamaian yang sewaktu-waktu dapat meletus. Oleh karena itu, keamanan dan perdamaian sukar terealisasikan, bahkan lebih merupakan “ kerawanan global” yang sewaktu-waktu dapat meletus yang tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang bersangkutan, melainkan juga oleh seluruh dunia. Kerawanan-kerawanan terhadap perdamaian dan keamanan, bermula dari pertentangan etnis ke pertentangan rasial, pertentangan politik ke ekonomi, dari ambisi-gengsi-arogansi elit yang berkuasa tingkat nasional ke tingkat regional sampai ke tingkat global yang meresahkan perdamaian serta mengganggu keamanan global.
I.                   PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
     Masalah prasangka dan diskriminasi, meliputi aspek-aspek etnis (kesukuan), ras, kelas, jenis kelamin (gender), agama, ekonomi dan politik. Kecemburuan sosial, ekonomi dan politik, tidak hanya terjadi secara lokal di kawasan-kawasan yang terbatas, melainkan terjadi secara global yang meresahkan umat manusia. Prasangka dan diskriminasi yang mendorong negara-negara tertentu seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Iran, India, Pakistan, Korea Selatan dan Utaramelengkapi diri dengan senjata mutakhir sebagai pencerminan “sikap prasangka dan diskriminasi”, dapat menjadi pemicu “perang modern” yang tidak mustahil dapat memusnahkan sebagian umat manusia. Hal inilah yang wajib diwaspadai secara sungguh-sungguh oleh seluruh umat manusia, terutama oleh kelompok-kelompok elit yang memegang kebijakan di tingkat dunia. Secara mendasar tentu saja hal tersebut harus mulai ditanamkan sejak dini di tingkat sekolah dasar. Anak-anak di tingkat SD inilah yang akan menjadi SDM masa yang akan yang idealnya bersih dari sikap dan tindakan prasangka serta diskriminasi. Itulah harapan kita bersama.
     Antara satu negara dengan negara lain, antara negara maju dengan negara berkembang pasti memiliki perbedaan permasalahan. Kunci perbedaan itu terutama terletak pada kualitas SDM menerapkan IPTEK dalam memanfaatkan SDA untuk kesejahteraan hidup masing-masing. Kualitas SDM disini juga tercermin dari tingkat pendidikan yang telah dicapai masyarakat, tingkat gizi, tingkat kesehatan, baik kesehatan fisik-jasmaniah maupun kesehatan lingkungan hidup pada umumnya. Disini berlaku konsep “sumber daya dibatasi secara budaya” (culturally defined resources), dengan pengertian bahwa terealisasikannya potensi SDA menjadi kesejahteraan masyrakat dan negara sangat dipengaruhi oleh kemampuan budaya manusia, mengolah sumber daya tadi.
     Dari uraian singkat di atas dapat tercermin bahwa perbedaan yang mendasar antara negara-negara maju yang juga negara industri dengan negara-negara berkembang yang tingkat industrinya masih terbatas terletak pada kualitas kemampuan SDM-nya dalam menguasai dan memanfaatkan IPTEK.
     Pendidikan yang meningkatkan kualitas kemampuan SDM inilah yang mampu mempersempit jarak perbedaan antara masyrakat negara-negara berkembang dengan masyarakat negara-negara maju yang memperkecil kesenjangan kehidupan sosial-ekonomi diantara keduanya.
     Perbedaan, termasuk perbedaan kepentingan, merupakan hal yang wajar dan alamiah. Namun perbedaan yang menimbulkan pertikaian dan konflik, harus kita cari jalan keluarnya. Upaya mencari jalan keluar itu terutama didasari oleh “persamaan” kemanusiaan yang sangat wajar. Oleh karena itu, ditinjau dari persamaan kemanusiaan tersebut, perbedaan tadi bahkan harus menjadi landasan terjadinya kerja sama. Dengan anggapan dasar bahwa tidak ada satu pihak pun (perorangan, keluarga, kelompok, masyrakat, bangsa, negara) yang mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya sendiri, bagaimanapun selalu memerlukan bantuan pihak lain.
     Menciptakan masyrakat dunia yang aman dan damai, tidak dapat berjalan tanpa kerja sama tadi. Negara industri yang kaya, tidak dapat melangsungkan kehidupannya secara wajar tanpa kerja sama ekonomi dengan negara lain, baik untuk memasarkan barang industrinya maupun untuk mendapatkan bahan mentah dan bahan dasar demi kelangsungan industri tersebut. Negara-negara agraris, tidak akan dapat melangsungkan kehidupannya secara wajar tanpa kerja sama dengan negara-negara industri yang memasok barang-barang industri dan membeli hasil pertanian dari negara agraris yang bersangkutan. 
     Oleh karena itu, kerja sama antarnegara dan antarwilayah, merupakan suatu proses kemanusiaan yang sangat bermakna. Dalam kehidupan global dewasa ini, kerja sama yang saling menguntungkan dalam bentuk “saling ketergantungan” (interdependensi) harus dibina secara berkesinambungan dalam upaya menciptakan kehidupan masyarakat dunia yang aman, damai dan sejahtera.
     Menyebarnya informasi dari waktu ke waktu yang menembus batas-batas negara, benua, samudera dan udara, mengakibatkan wawasan masyarakat terhadap peristiwa dunia makin terbuka. Langsung tidak langsung suasana yang demikian berpengaruh terhadap pergeseran nilai dan norma yang berlaku. Arus informasi yang mengglobal yang berdampak pada pergeseran norma dan nilai, harus kita waspadai melalui penyaringan oleh norma-nilai yang baik yang melekat dalam masyarakat Indonesia.
     Dengan memahami perbedaan dan persamaan kebudayaan tadi, akan menumbuhkan saling pengertian, sehingga “tercipta” saling menghargai antarkebudayaan yang ada di permukaan bumi ini. Dengan cara yang demikian itu, akan tumbuh kepercayaan dan keyakinan bahwa “tidak ada suatu kebudayaan pun yang lebih rendah daripada kebudayaan lainnya di dunia ini” ataupun sebaliknya “tidak ada suatu kebudayaan pun yang lebih tinggi daripada kebudayaan lainnya”. Yang ada hanyalah perbedaan gradual antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain, khususnya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
     Gagasan-gagasan baru tentang hidup dan kehidupan global, harus berlandaskan nilai akhlak mulia yang menjadi dasar kemanusiaan yang “sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, yang dibedakan oleh kadar iman dan takwa kepada-Nya. Hal inilah yang harus diangkat sebagai nilai global dalam hidup dan kehidupan hari ini serta di hari-hari mendatang. Hal mendasar inilah yang harus menjadi perhatian kita dalam membina dan mengembangkan perspektif global pada diri masing-masing, terutama pada diri anak didik yang menjadi tanggung jawab kita bersama. 



BAB III
PENUTUP

            Merry M.Merryfield (1997: g) antara lain mengemukakan penduduk dan keluarga berencana (population and family planning), pembangunan (development), hak asasi manusia (human right), imigrasi (emigration, immigration, refugees), kepemilikan bersama global (the global commons), kelaparan dan bahan pangan (hunger and food), perdamaian dan keamanan(peace security), prasangka diskriminasi (prejudice and discrimination).





DAFTAR PUSTAKA

Sumaatmadja, Nursid, dkk. 2012. Perspektif Global. Jakarta:Universitas Terbuka
 
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top