Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Senin, 15 Desember 2014

MAKALAH TENTANG TASAWUF



BAB I PENDAHULUAN

Ketika kita mendengar kata sufi dan tasawuf, maka tak lain kita sedang membicarakan orang yang lebih mementingkan kebersihan batin dan kesucian jiwa, dan lebih mengutamakan perilaku untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), agar lebih mampu untuk sampai kepada sang Khaliq sebagai tempat kembalinya. Seluruh dimensi hidupnya dipenuhi dengan kondisi dan keadaan jiwa yang selalu berzikir; mulai lisan, anggota tubuh, peredaran darah, pikiran (akal, rasio, logis) dan perasaan (hati serta keseluruhan aspek kejiwaan). Inilah yang membuat hidup seseorang selalu istiqomah, yaitu kondisi stabil yang terus meningkat.
Demikian pula dalam hal perilaku hidup dan kehidupannya, yang memancarkan sinar (aura) dari segi kemurnian batinnya yang bersih tersebut. Mereka tiada pernah putus dalam pencarian terhadap Alloh sebelum betul-betul tampak dan yakin bahwa dia telah dikabulkan, serta telah sampai kepada Alloh.
Berdasarkan tujuan dari tasawuf, yaitu berupaya membentuk watak manusia yang memiliki sikap mental dan perilaku yang baik (akhlaqul karimah), manusia yang bermoral dan memiliki etika serta sopan santun, baik terhadap diri pribadi, orang lain, lingkungan dan Tuhan, maka semua orang wajib belajar tasawuf (tasawuf akhlaqi). Namun belajar tasawuf secara mendalam, yaitu tasawuf amali dan khususnya tasawuf falsafi, memang diharapkan dilakukan setelah seseorang memiliki tingkat pengetahuan aqidah dan syari’ah yang mencukupi.


BAB II PEMBAHASAN

Secara umum ilmu tasawuf bisa dikelompokkan menjadi dua bagian, tasawuf ‘ilmi atau nadhari yang bersifat teoritis, dan tasawuf ‘amali yang bersifat praktis, yang dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tercapai tujuan bertasawuf. Sedangkan Depag bersama LIPI mengklasifikasikan tasawuf menjadi tasawuf akhlaqi, ‘amali, dan tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi sendiri sekarang telah berkembang pesat, seperti ‘ilmu al-hudluri (dengan tokoh kontemporernya Ha’iri Yazdi), tasawuf isyraqiyah (illuminationisme Syuhrawardi yang dikembangkan oleh Mulla Shadra), dsb.[1]
Tasawuf falsafi merupakan bentuk tasawuf yang memadukan antara visi mistis dan visi rasional (baik dalam kerangka teoritis maupun praktis), yakni pengalaman rohaninya disampaikan secara sistematis dengan term filsafat, seperti teori kosmologi dan ungkapan-ungkapan yang ganjil (syatahat, syatahiyat) yang sulit dipahami orang lain. Yang sekarang sedang banyak digandrungi adalah paham isyraqiyah Syuhrawardi, di samping pola tasawuf mistis dari kelompok new age (tradisionalis-prenialis), seperti Fritjof Schuon, Hosein Nasr, dan sejenisnya.
Tasawuf adalah suatu bidang ilmu keislaman dengan berbagai pembagian di dalamnya, yaitu tasawuf akhlaqi, tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Tasawuf akhlaqi berupa ajaran mengenai moral/akhlaq yang hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Ajaran yang terdapat dalam tasawuf ini meliputi takhalli, yaitu penyucian diri dari sifat-sifat tercela; tahalli, yaitu menghiasi dan membiasakan diri dengan sikap perbuatan terpuji; dan tajalli, yaitu tersingkapnya Nur Ilahi (Cahaya Tuhan) seiring dengan sirnanya sifat-sifat kemanusiaan pada diri manusia setelah tahapan takhalli dan tahalli dilalui. Tasawuf amali berupa tuntunan praktis tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah. Tasawuf amali ini identik dengan tarekat, sehingga bagi mereka yang masuk tarekat akan memperoleh bimbingan semacam itu. Sedangkan tasawuf falsafi berupa kajian tasawuf yang dilakukan secara mendalam dengan tinjauan filosofis dengan segala aspek yang terkait di dalamnya. Dalam tasawuf falsafi ini dipadukan visi intuitif tasawuf dan visi rasional filsafat. Dari ketiga tasawuf tersebut, secara esensial semua bermuara pada penghayatan terhadap ibadah murni (mahdlah) untuk mewujudkan akhlaq al-karimah baik secara individual maupun sosial.
Tasawuf falsafi ialah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dengan visi rasional. Ciri umum tasawuf falsafi ialah kesamaran-kesamaran ajarannya, akibat banyaknya unngkapan dan peristilahan khusu’ yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memahami ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak bisa dipandang sebagai filsafat, karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (zauq), dann sebaliknya, tidak pula bisa dikategorikan pada tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih cenderung kepada panteisme.
Para tokoh tasawuf falsafi bersifat ensiklopedis dan berlatar belakang buadaya, pengalaman serta pendidikan yang beragam. Di samping pemahamannya yang luas di bidang ilmu agama seperti fikih, kalam, hadis dan tafsir, mereka mengenal baik filsafat Yunani serta berbagai alirannya, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan Neo Platonisme dengan ajaran dilsafatnya tentang emanasi. Begitu pula tentang Hermetisisme yang banyak diterjemahkan ke dalam Bahsa Arab, filsafat-filsafat timur kuno dari Persia dan India, serta ajaran filsafat para filosof islam seperti al-Farabi, Ibnu Sina, dan lainnya. Mereka juga dipoengaruhi paham batiniah sekte Isma’iliah dan aliran Syi’ah dan risalah-risalah ikhwan al-Safa’.
Mereka yang beraliran tasawuf falsafi memandang bahwa manusia masih dapat melewati maqam ma’rifah. Manusia masih mampu naik ke jenjang yan lebih tinggi, yaitu persatuan dengan Tuhan, yang kemudian disebut dengan ittihad, hulul, wahdah al-wujud dan isyraq. Paham-paham tasawuf tipe ini yang terpenting antara lain yaitu:
a.       Fana’ dan Baqa’
b.      Ittihad
c.       Hulul
d.      Wahdah Al-Wujud
e.       Isyraq


BAB III PENUTUP

Tasawuf adalah suatu bidang ilmu keislaman dengan berbagai pembagian di dalamnya, yaitu tasawuf akhlaqi, tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Tasawuf akhlaqi berupa ajaran mengenai moral/akhlaq yang hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Ajaran yang terdapat dalam tasawuf ini meliputi takhalli, yaitu penyucian diri dari sifat-sifat tercela; tahalli, yaitu menghiasi dan membiasakan diri dengan sikap perbuatan terpuji; dan tajalli, yaitu tersingkapnya Nur Ilahi (Cahaya Tuhan) seiring dengan sirnanya sifat-sifat kemanusiaan pada diri manusia setelah tahapan takhalli dan tahalli dilalui
Tasawuf falsafi ialah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dengan visi rasional. Ciri umum tasawuf falsafi ialah kesamaran-kesamaran ajarannya, akibat banyaknya unngkapan dan peristilahan khusu yang hanya bisa dipahami oleh mereka yan memahami ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak bisa dipandang sebagai filsafat, karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (zauq), dann sebaliknya, tidak pula bisa dikategorikan pada tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih cenderung kepada panteisme.




REFERENSI

K.H. Muhammad Sholikhin. 2009. Tradisi Sufi dari Nabi-Tasawuf Aplikatif Ajaran Nabi Muhammad Saw. Yogyakarta: Cakrawala. Hal 29
Dr. Asmaran As., M.A. 2002. Pengantar Studi TAsawuf. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.


[1] K.H. Muhammad Sholikhin. 2009. Tradisi Sufi dari Nabi-Tasawuf Aplikatif Ajaran Nabi Muhammad Saw. Yogyakarta: Cakrawala. Hal 29
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top