Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Minggu, 25 Januari 2015

MAKALAH SKOP DAN FUNGSI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan sebenarnva dapat ditinjau dan dua segi. Pertama dari sudut pandangan masyarakat, dan kedua dari segi pandangan individu. Dari segi pandangan masyararakat, pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dan generasi tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berlanjutan atau dengan kata lain, masyarakat mempunyai nilai-mlai budaya yang ingin disalurkan dari generasi ke generasi agar identitas masyarakat tersebut tetap terpelihara. Nilai-nilai ini bemacam-macam. ada yang bersifat intelektual, seni, pohtik, ekonoini dan lain-lain lagi. Dalam berbagai hal nilai-nilai budaya ini berpadu dalam suatu karya seperti pada binaan rumah. Dalam bangunan rumah, nampak jelas warisan intekktual, seni, ekonoini, politik, agama dan lain-lain dan bangsa dan masyarakat yang menciptakannya. lnilah yang disebut kepribadian atau identitas. Itu sebab bentuk rumah dan ukirannya berbeda-beda menurut budaya bangsa yang menciptakannva. Bentuk rumah orang Eskimo berbeda dengan rumah orang Afrika yang berbeda dengan rumah orang Jepang dan selanjutnya berbeda dengan rumah orang Indonesia. Setiap masyarakat berusaha mewariskan keahlian dan keterampilan yang dipunyainya itu kepada generasi mudanya agar masyarakat tersebut tetap memelihara kepribadiannva yang berarti memelihara kelanjutan hidup masyarakat tersebut. Inilah dia pendidikan ditinjau dari segi kacamata masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Dalam Islam
Istilah education, dalam Bahasa Inggnis yang berasal dan bahasa Latin educere berarti memasukkan sesuatu, barangkali bermaksud memasukkan ilmu ke kepala seseorang. Jadi di sini ada tiga hal yang terlibat: ilmu, proses memasukkan dan kepala orang, kalaulah ilmu itu memang masuk di kepala.[1]
Dalam bahasa Arab ada beberapa istilah yang biasa dipergunakan dalam pengertian pendidikan. Biasa dipergunakan ta’alim sesuai dengan firman Allah swt yang Artinya:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Q.S Al-Baqarah : 31)
Juga kata tarbiyah dipergunakan untuk pendidikan. Seperti firman Allah dalam Surat Asra’ yang artinya :
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S Al-Isra’ : 31)
Disamping itu kata ta’dib dipergunakan, seperti sebuah hadits Rasulullah saw yang berbunyi:
اد بني ربى فأ حسن تأديبى
Artinya:
“Allah mendidikku, maka Ia memberikan kepadaku sebaik-baik Pendiidkan”.
Walaupun ketiga istilah itu bisa dipergunakan dengan pengertian yang sama ada beberapa ahli (al-Attas, 1980) berpendapat bahwa ta’lim hanya berarti pengajaran, jadi lebih sempit dari pendidikan. Dengan kata lain ta’alim hanyalah sebahagian dari pendidikan. Sedang kata tarbiyah, yang lebih luas digunakan sekarang di negara-negara Arab, terlalu luas. Sebab kata tarbiyah juga digunakan untuk binatang dan tumbuh-tumbuhan dengan pengertian memelihara atau membela, menternak, dan lain lain lagi. Sedang pendidikan yang diambil dari education itu hanya untuk manusia saja.
Jadi ta’adib, kata al-Attas, lebih tepat sebab tidak terlalu sempit sekedar mengajar saja, dan tidak meliputi makhluk-makhluk lain selain dari manusia. Jadi ta’adib sudah meliputi kata ta’alim dan tarbiyah. Selain daripada itu kata ta’adib itu erat hubungannya dengan kondisi ilmu dalam Islam yang termasuk dalam sisi pendidikan. Untuk uraian selanjutnya bagian rnengenai ilmu ini akan dikupas dalam filsafat pengetahuan dalam pendidikan Islam.
B. Asas-asas Pendidikan
Pendidikan itu mempunyai asas-asas tempat ia tegak dalam materi, interaksi, inovasi, dan cita-citanya. Jadi ia seperti kedokteran, inisalnya, teknik atau pertanian. Masing-masing tidak dapat berdri sendiri, tetapi merupakan suatu arena dimana dipraktekkan sejumlah ilmu yang erat hubungan satu sama lain dan jalin menjalin.
Bidang pertanian, inisalnya, merupakan tempat pertemuan kiinia umum, kiinia tanah, ilmu tumbuh-tumbuhan atau botani, lapisan buini dan ilmu tanah, anatoini tumbuh-tumbuhan, klimatologi, genetik, pemakanan dan lain-lain. Begitu juga berpuluh-puluh ilmu lain, hasil-hasil terapannya bertemu pada bidang pertanian.
Jadi seorang dokter atau insinyur pertanian atau seorang pendidik memerlukan asas-asas untuk mempermahir profesi dan menambah pengetahuan, memperkaya pengalaman dan mengembangkan keterampilan. Ini menghendaki kita jangan mengkajinya sekali saja, atau untuk mendapat ijazah, tetapi perlu selalu menela’ah, dan terus berkomunikasi.
Dokter yang berhasil tidak akan terus berhasil tanpa menela’ah dan berhubung terus dengan cabang-cabang spesialisasinva. Begitu juga halnya dengan ahli pertanian dan guru. Kalau tidak niscaya perkembangan iliniah dan profesional masing-masing akan berhenti.[2]
Jadi mengetahui dan mendalaini asas asas ini bukanlah tugas peinikir dan ahli-ahli saja, tetapi practisioner di rumah sakit dan pabrik, kebun atau di sekolah.
Berkenaan dengan asas asas yang kita maksudkan, yaitu asas –asas pendidikan, dapat kita uraikan dalam enam asas berikut ini.
Pertama : Asas asas historis yang mempersiapi si pendidik dengan hasil hasil pengalaman masa lalu, dengan undang- undang dan peraturan-peraturannya, batas-batas dan kekurangan kekurangan nya.
Kedua : Asas- asas sosial yang memberinya kerangka budaya dan mana pendidikan itu bertolak dan bergerak : meinindah budaya, meinilih, dan mengembangkannya.
Ketiga : Asas-asas ekonoini yang memberinya perspektif tentang potensi-potensi manusia dan keuangan, materi dan persiapan yang mengatur sumber-sumbernya dan bertanggungjawab terhadap anggaran belanjanya.
Keempat : Asas-asas politik dan adininsitrasi yang memberinya bingkai ideologi (aqidah) dari mana ia bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan dan rencana yang telah dibuat.
Kelima : Asas-asas psikologis yang memberinya informasi tentang watak pelajar-pelajar, guru-guru, cara-cara terbaik dalam praktek, pencapaian dan penilaian, dan pengukuran dan bimbingan.
Keenam : Yang terakhir asas-asas filsafat yang berusia memberinya kemampuan meinilih yang lebih baik, memberi arah suatu sistem, mengontrolnya, dan memberi arah kepada semua asas-asas yang lain.
Interaksi antara asas asas ini di dalam proses pengajaran menghendaki beberapa ketenangan yang dapat kita simpulkan dalam tiga hal berikut:
1. Setiap asas itu bukanlah satu ilmu atau mata pelajaran tetapi sejumlah ilmu dan cabang-cabangnya:
Asas-asas sejarah meliputi sebahagian ilmu sejarah dan arkeologi, dokumen-dokumen dan benda-benda tertulis yang dapat menolong menafsirkan pendidikan dari segi sejarah dan peradaban.
Asas-asas sosial meliputi sebahagian ilmu sosiologi dan kependudukan, antropologi dan etnologi yang dapat menafsirkan masyarakat dan kumpulan, inillicu dan penduduk, sosialisasi dan perobahan, dan lain-lain.
Asas-asas ekonoini meliputi sebahagian ilmu ekonoini dan akunting, budgeting dan perencanaan yang dapat menolong dalam investasi yang lebih ideal, pulangan yang lebih memuaskan, dan kemampuan yang lebih tinggi.
Asas-asas politik dan adininistrasi meliputi sebahagian ilmu adininistrasi dan organisasi, undang-undang dan perundang-undangan yang dapat menafsirkan susunan organisasi pendidikan dan mengarahkan geraknya.
Asas –asas psikologi meliputi sebahagian ilmu tingkahlaku, biologi, fisiologi dan komunikasi yang sesuai untuk memahaini pengajaran dan proses belajar, perkembangan dan pertumbuhan, kematangan, kemampuan dan kecerdasan, persepsi dan perbedaan-perbedaan perseorangan, ininat dan sikap.
Sedang asas asas filsafat mengandung sebahagian ilmu etika dan estetika. ideologi dan logika untuk memberi arah kepada pengajaran dan menyelaraskan interaksi-interaksi masing-masing, menyusun sistem sistemnya sesudah diteliti dan dikritik, dianalisa dan dibuat sintesis.
Ini tidak berarti bahwa asas pendidikan meliputi semua ilmu- ilmu ini, tetapi sekadar bagian yang sesuai untuk menafsirkan gejala-gejalan dan membaharui interaksi-interaksi yang berlaku padanya. Itulah sebab kita katakan sebahagian ilmu.
2. Asas-asas ini memberi pendidikan itu sistem-sistem dan organisasi- organisasi, inovasi dan pembaharuan.
Dari segi sistem dan organisasi asas-asas ekonoini, inisalnya, memberi pendidikan itu pengetahuan tentang sumber-sumber dari anggaran belanja, bangunan dan peralatan yang memperbolehkan Ia memulakan pekerjaan dan bertolak dan situ.
Setiap kekurangan pada asas ini akan memberi pengaruh negatif kepada pelaksanaan pengajaran dan segi kewajiban belajar, pembinaan sekolah -sekolah, perbaikan kualitas lulusan-lulusan sekolah, meningkatkan mutu guru-guru dan lain-lain.
Dari segi inovasi dan pembaharuan, maka pembaharuan asas ekonoini akan memberi pendidikan alat-alat mengukur, meninjau dan menilai. Maka perkembangan akunting pembelanjaan akan memberi cara- cara baru mengukur pemasukan dan pengeluaran, untung dan rugi, tanggungan dan dinainisme.
Perkembangan adininistrasi dan organisasi memberi pengetahuan cara-cara baru memasarkan tenaga kerja dan investasi, bimbingan dan pemulihan, meningkatkan kemampuan pekerjaan dan pekerja-pekerja.
Kesimpulannya adalah bahwa asas-asas pendidikan yang enam itu turut membantu dalam menciptakan pendidikan dari segi bahwa asas- asas itu adalah sistem dan organisasi, begitu juga turut mengadakan pembaharuan dalam pendidikan dan segi bahwa asas-asas ini adalah ilmu- ilmu dari cabang-cabang ilmu.
Dari sini dapat dipahaini bahwa pendidikan itu tidak dapat hidup terpisah dari asas-asas itu, sebab kalau deinikian maka ia kehilangan akar-akar yang membawa makanan dan urat-urat yang akan membaharui kegiatannya. Sudah tentu peneliti pendidikan dipandang bersalah jika ia tidak memerlukannya atau membatasi pada satu asas saja.
Sudah tentu pembaharuan dan perkembangan memerlukan spesialisasi dan pemusatan. Oleh sebab itu para peneliti berspesialisasi dalam satu atau dua asas yang berdekat-dekatan. Semakin tinggi kemajuan semakin bertambah kebutuhan kepada spesialisasi seperti berlaku di masyarakat-masyarakat dan universitas-universitas dimana professor- professor menghabiskan umur dalam satu hal yang diselidiki dan diteliti, dikelola dan dibimbing.
Sedikit sekali professor-professor pendidikan, juga pada bidang-bidang terapan yang lain yang menekuni secara luas dan dalam semua asas itu.
Jika professor yang luas dan menyeluruh pandangannya itu meiniliki sifat mendalam dan baru, keaslian dan kreativitas mungkin rneningkat ke arah falsafah dan kreativitas melampaui batas-batas penyelidikan dan penulisan. Dan alangkah jauh jarak antara falsafah dan kreativitas, dan sekadar meneliti dan mengarang.
3. Asas-asas ini semuanya sukar memainkan peranannya tanpa asas filsafat yang mengarahkan gerak dan mengatur langkahnya. Ia menentukan yang baik dan sesuai dan mengatur sifatnya yang menyeluruh dan serasi.
Kita tahu bahwa tiap hari muncul ilmu-ilmu baru dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan pendidikan, itu sebab perlu dipilih, diseleksi, dan disaring.
Barangkali soal yang mula-mula muncul adalah: kenapa harus dipilih dan diseleksi? Sebab sehagaimana pembaharuan Itu mungkin dari segi iliniah sesuai, tetapi dan segi sosial tidak. Teori-teori psikologi dan ekonorni inisalnya bertambah kaya dan ruinit setiap hari. Tidaklah dapat dibenarkan mempraktekkannya pada bidang pendidikan tanpa selidik, dan tanpa dipilih dan diuji.
Yang bertugas meneliti, meinilih dan menguji adalah filsafat penelidikan yang umum diterima di masyarakat. Dialah yang memberi tanda agar berjalan, seperti halnya dengan posisi lalu lintas yang membenarkan melalui jalan ini atau itu.
C. Asas-asas Sejarah Dalam Pendidikan
Sukar kita bicara tentang filsafat pendidikan di suatu Negara, tanpa memberi pendahuluan tentang kekuatan-kekuatan atau faktor-faktor budaya yang telah dan sedang mempengaruhi Negara tersebut. Ini adalah karena filsafat pendidikan itu adalah hasil dari suatu masyarakat yang mempunyai kondisi dan situasinya yang khusus, berbeda dengan situasi dan kondisi yang mengitari masyarakat-masyarakat yang lain itu, di Barat dan di Timur yang bersamaan masanya dengan Negara tersebut, seperti berbedanya dengan situasi dan kondisi yang mengitari masyarakat-masyarakat lain di zaman dahulu kita.
Faktor sejarah dianggap salah satu faktor budaya yang paling penting yang telah dan tetap mempengaruhi filsafat pendidikan baik dalam tujuan maupun sistemnya pada masyarakat manapun juga. Kepribadian nasional, inisalnya, yang menjadi dasar filsafat pendidikan diberbagai masyarakat haruslah “berlaku jauh kemasa lampau, walaupun sistem-sisternnya adalah hasil dari pemerintahan revolusioner, yang didirikannya dengan sengaja untuk mengembangkan dan memperbaiki pola-pola warisan budaya dan umat dan rakyat. Ini adalah karena warisan budaya suatu bangsa sukar dikalahkan atau dahilangkan dengan segera. Malah gerakan revolusi yang paling keraspun harus menyesuaikan prinsip-prinsip dan peinikiran-peinikirannya yang baru, dengan situasi dan kondisi sejarah dan budaya yang sedang wujud. Oleh sebab itu sistem pendidikan nasional berakar tunjang pada masa lampau dan berbatang dan berdaun dengan dunia hari ini dan esok”. (Mursi, 1974: 47).
Oleh sebab itu, kata Kandell, pendidikan perbandinggan (yang menitik beratkan tentang identitas nasional dalam sistem pendidikan) dan sejarah pendidikan : “berusaha menyingkapkan kekuatan-kekuatan dan faktor-faktor budaya yang berdiri di belakang sistem-sistem pendidikan di setiap masyarakat” (Kandell, 1955:5). Oleh sebab itu : “dapatlah dianggap pendidikan perbandingan itu sebagai kelanjutan sejarah pendidikan sampai hari ini” Kande1I, 1959 : 273).
Oleh sebab itu tidaklah aneh bila Kazainias dan Massialas (1965: 32) mengembalikan semua kekuatan-kekuatan budaya yang berpengaruh pada sistem pendidikan, sampai-sampai yang berkaitan dengan aspek peradaban, kepada faktor sejarah. Menurut pandangan mereka (Kazainias dan Massialas) sejarah merupakan kekuatan-kekuatan budaya yang lain, dan celah-celah kekuatan-kekuatan budaya yang dibentuk oleh sejarah, identitas nasional itu nampak dan mempengaruhi sistem pendidikan.
Itulah sedikit yang dapat dikatakan mengenai sejarah sebagai salah satu asas pendidikan yang nanti akan dibicarakan lebih panjang pada bab yang lain dalam hubungannya dengan pendidikan Islam.
D. Asas-asas Sosial Dalam Pendidikan
Pendidikan adalab salah satu bentuk interaksi manusla. Ia adalah suatu tindakan sosial yang dimungkinkan berlakunya melalui suatu jaringan hubungan hubungan kemanusiaan. Jaringan-jaringan inilah bersama dengan hubungan-hubungan dan peranan peranan individu di dalamnyalah yang menentukan watak pendidikan di suatu masyarakat.
Aspek-aspek sosial pendidikan dapat digambarkan dengan memandang ketergantungan individu-individu satu sama lain dalam proses belajar. Makhluk-makhluk bukan manusia seperti binatang buas, burung-burung, atau serangga dapat hidup hanya berpedoman pada warisan biologis, suatu program genetik bagi tingkahlaku makhluk hidup. Pola-pola diwarisi mengajarnya memelihara anaknya, mencari makan, dan menjaga kawasannya. Apa yang perlu diketahuinya kebanyakannya diwariskan melalui “genes”.
Sebaliknya, kebanyakan yang perlu diketahui oleh manusia tidak diprogramkan melalui genetik. Semenjak dan masa sangat muda lagi kanak-kanak sudah harus mulai mempelajari cara hidup yang begitu banyak macamnya, sehingga kadang-kadang membingungkan. Cara hidup yang disebut kebudayaan itu tidak dapat diwariskan secara biologis, harus selalu dipelajari oleh setiap individu sendiri-sendiri.
Sekolah, yang merupakan institusi formal untuk belajar, mengharuskan sejumlah persyaratan kepada pendidikan. Akibatnya, belajar di sekolah sangat berlainan dengan yang berlaku di dalam keluarga, dalam teman-teman sebaya, atau dalam komunitas. Jadi pendidikan dalam pengertiannya yang sangat luas dapat dianggap sebagai suatu proses sosialisasi yang melaluinya seseorang mempelajari cara hidupnya. Ia adalah suatu proses yang bersmambungan semenjak lahir sampai mati.
Dimensi-dimensi sosial pendidikan yang biasanya dibicarakan dalam asas-asas sosial pendidikan ini adalah:
1. Fungsi-fungsi sosial yang dinamkan oleh pendidikan yang berlaku di sekolah-sekolah, seperti pewarisan budaya dan generasi tua ke generasi muda. ini berlaku pada semua masyarakat, dahulu atau pun sekarang, termasuk dalam masyarakat Islam sendiri. Juga pewarisan ketrampilan-. ketrampilan dan generasi ke generasi. ini juga berlaku di masyarakat manapun, walaupun teknologi ketrampilan itu selalu berubah. Ketrampilan menangkap ikan, inisalnya, senantiasa wujud, kecuali kalau orang sudah tidak makan ikan. Dahulu orang memancing ikan atau menggunakan tombak, sekarang orang menggunakan pancing modern. Malah penangkapan ikan sekarang dengan kapal but. Ikan dihirup masuk ke perut kapal, di satu diproses dalam pabrik dan sebelum kapal berlabuh ikan-ikan yang ditangkap itu sudah menjadi ikan kaleng dengan mereknya sekali siap untuk dilual.
Juga pewarisan nilai-nilai dan kepercayaan merupakan fungsi pendidikan. Nilai-niiai scperti kejujuran, solidaritas, gotong-royong adalah nilai-nilai yang tak dapat tidak harus wujud kalau masyarakat itu akan hidup terus. Sebab kumpulan apapun tak akan hidup sebagai kumpulan tanpa nilai-nilai itu sebagai pemersatu. Ambilah nilai kejujuran, inisalnya, walaupun di kalangan perampok-perampok sangat diperlukan untuk kelanjutan hidup perampok- perampok itu sebagai kelompok. Kalau nilai- nilai ini tidak ada, tentu mereka sendiri akan curiga mcncurigai dan akhirnya bunuh- membunuh sebelum mcnghadapi lawannva dan kelompok lain. Kalau nilai- nilai ini perlu pada kelompok menyeleweng (deviant} maka tentu lebih perlu lagi pada kelompok - kelompok besar terutama yang bensifat formal seperti Negara. Ini perlu diwariskan melalui pendidikan.
Selain dari pewarisan budaya, ketrampilan dan nilai-nilai yang menjadi fungsi sosial pendidikan, juga pendidikan berfungsi memberi latihan kepada generasi muda untuk memegang fungsi dan peranan dalam masyarakat. Kehidupan adalah seberkas peranan–peranan yang hidupnya masyarakat bergantung pada efektivitas peranan peranan-peranan itu dijalankan oleh pemegang-pemegangnya. Masyarakat memerlukan guru, dokter, petani, pedagang, dan lain—lain, maka pendidikan bertugas melatih warganegara untuk memegang peranan-peranan itu deini kelanjutan hidup masyarakat.
Ada lagi aspek-aspek lain dari fungsi sosial pendidikan yaitu pemeliharaan generasi muda dan promosi kelompok teman sebaya. Ini terutama sangat penting di negara-negara industri.
2. Aspek-aspek sosial kedua yang mempengaruhi pendidikan adalah ciri-ciri budaya yang doininan pada kawasan-kawasan tertentu di mana sekolah-sekolah itu wujud. Walaupun pengelompokan seperti ini tidak selalu memberi gambaran yang jernih terhadap kelompok yang dibicarakan di situ. Sebab faktor-faktor lain turut memainkan peranan di dalamnya, seperti kepercayaan politik dan sosial, status sosioekonoini, kelas sosial, etnik, ras, dan lain-lain. Orang-orang kadang-kadang dikelompokkan kepada sekolah luar kota, kota, urban, setengah urban, getto dan lain-lain. Ada uga yang bisa didasarkan kepada agama (parochial) seperti inisalnya pesantren di Indonesia, atau kuttab di Negara-negara Arab. Tetapi jangan lupa bahwa faktor-faktor lain di sini turut memainkan peranan.
3. Ada lagi aspek sosial ketiga yang memainkan peranan pada pendidikan yaitu faktor-faktor organisasi, dan segi birokrasi. Adanya sistem adrninistrasi yang bersifat hirarkis dan biasanya berlaku pada tiap organisasi persekolahan. Juga hubungan-hubungan dan segi formal dan informal yang masing-masing tergantung pada sistem-sistem sosial yang mengadakannya. Begitu juga guru dan adininistrasi, hubungan orang tua, guru, hubungan teman-teman sebaya, dan hubungan guru, murid, semuanya besar pengaruhnya dalam pelaksanaan pendidikan.
4. Aspek sosial keempat yang terpenting mempengaruhi pendidikan adalah sistem pendidakan itu sendiri. Istilah sistem pendidikan bermaksud suatu pola total masyarakat dalam institusi formal, agen-agen dan organisasi yang meinindahkan pengetahuan dan warisan kebudayaan yang mempengaruhi pertumbuhan sosial, spiritual, dan intelektual seseorang. Walaupun mungkan kita menganalisa sistem pendidikan dalam kawasan kota, kota madya, propinsi dan lain-lain, tetapi biasanva dibuat dalam bentuk lebih besar, seperti sebuah negara.
Perlu diperhatikan bahwa tidak ada suatu sistem pendidikan yang tetap dan statis, tetapi sebaliknya selalu berubah walaupun perubahan tidak disadari. Sebab pendidikan berprihatin terhadap ummat manusia, sedang itu berubah, maka adalah masuk akal kalau kita harapkan institusi-institusi dan aktivitas-aktivitas juga berubah. Perlu juga disadari bahwa sistem apapun selalu dipengaruhi oleh kecenderungan-kecenderungan dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, spiritual, ekonoini, dan politik yang berasal dan berabad-abad yang lalu. Selanjutnya idea-idea, praktek-praktek, dan struktur pcndidikan berasal dan yang wujud berabad-abad sebelum hal-hal yang sedang dikaji itu. Jadi jelaslah bahwa kajian tentang sistem pendidikan adalah prosedur kompleks yang menggabung antara deskripsi dan analisis. Setiap sistem atau itu harus dipahaini sepenuhnya dan dalam konteks sejarah dan kontemporernya.
Di sini tidak akan dibicarakan lebih panjang tentang aspek-aspek sosial pendidikan, tetapi dalam bab-bab yang lain nanti ini akan kita kupas dalam konteks pendidikan Islam. Bahagian ini hanyalah pendahuluan tentang aspek-aspek sosial pendidikan itu.
E. Asas-asas Ekonoini Dalam Pendidikan
Ekonoini dan pendidikan selalu bergandengan semenjak dan zaman dahulu kala. Ahli-ahli ekonoini semenjak zaman itu, begitu juga pencipta- pencipta sains telah mengakui pentingnva peranan yang dimainkan oleh pendidikan dalam pertumbuhan pengetahuan manusia dan selanjutnya pentingnya yang belakangan ini untuk perkembangan ekonoini. Namun hanva belakangan inilah suatu disiplin ilmu yang khusus untuk diciptakan.
Dalam bidang ekonoini, yang sangat relevan dengan pendidikan biasanya adalah hal-hal yang berkaitan dengan investmen dan hasilnya. Artinya kalau modal ditahan sekian berapa banyak nanti keuntungan yang diharapkan dari situ. Negara negara industri memerlukan lebih lama belajar, jadi memerlukan lebih banyak investasi dalam pendidikan, sedangkan di negara-negara membangun waktu belajar itu lebih sedikit dan tentunya budget untuk pendidikan juga kurang. Ini adalah sebab negara-negara yang tinggi teknologinya. Itu mengenai inputnya. Sedang outputnya adalah hasil yang diperoleh sebagai akibat pendidikan yang diperoleh. Hasil pendidikan tidak selalu harus diukur dengan uang, tetapi hal-hal yang udak bersifat benda, seperti status, prestise, kebahagiaan, kesempatan, penghargaan, yang tentunva dapat dilihat bekasnya pada individu yang mempunyai pendidikan itu.
Selain dari itu pendidikan merupakan faktor produksi. Dalam teori klasik ekonoini tenaga manusia ditambahkan kepada tanah menghasilkan produksi. Dalam teori neo klassik, tanah dan tenaga harus dibedakan dari modal fisikal, yaltu alat-alat seperti pabrik, perkakas, dan bangunan dalam proses produksi. Diakui bahwa sumbangan setiap faktor, tanah, tenaga, atau modal, dapat dibedakan dan sumbangan yang lain-lain. Belakangan ini sumbangan tenaga dibahagi lagi kepada sumbangan tenaga rulen dan sederhana dan sumbangan keikhlasan dan ketrampilan manusia. Istilah terakhir ini disebut modal manusia (human capital) yang dianggap salah satu faktor terpenting dalam proses produksi.
Formulasi ini mempunyai kepentingan terhadap berbagai aspek teori ekonoini, terutama mengenai teori pertumbuhan ekonoini. Mulanya dianggap pengumpulan modal fisikal adalah anak kunci ke arah pembangunan ekonoini. Tetapi kajian-kajian belakangan ini menunjukkan sumbangan modal manusia sekurang-kurangnya sama pentingnya dan banyak kadar pertumbuhan dapat diterangkan menurut hasil modal manusia. Oleh sebab itu jika pengumpulan modal manusia dapat dipercepat maka kadar pertumbuhan akan meningkat.
Usaha dalam ekonoini modal manusia telah diperluas dan mencakup bukan hanya pengaruh pendidikan formal tetapi juga latihan dalam pekerjaan (on-job-training) dan cara-cara lain untuk memperoleh keterampilan, deinikian juga kajian-kajian iliniah dan perkembangan teknologi. Kebijaksanaan-kebijaksanaan politik sebagai perubahan teori ekonoini sangat penting sebab mengakibatkan penambahan anggaran belanja dalam pendidikan dan latihan dalam pekerjaan, begitu juga dalam penelitian dan pembangunan, jadi bukan hanya pada modal fisikal saja.
ini akan dibicarakan lebih mendalam pada bab-bab yang berikut.
F. Asas-asas politik dan Adininistratif Dalam Pendidikan
Asas politik dan adininistratif dalam pendidikan sangat erat hubungannya dengan bahagian keempat dari asas sosial pendidikan, yakni mengenai sistem pendidikan. Seperti telah dikatakan tadi istilah sistem pendidikan bermaksud pola total suatu masyarakat dalam institusi-institusi, agen-agen, organisasi-organisasi sosial yang memudahkan pengetahuan dan wariisan kebudayaan yang mempengaruhi perkembangan intelektual seseorang. Untuk maksud klasifikasi adalah berguna dan mudah membicarakan sistem pendidikan dalam konteks struktur dan kontrol admanistratif dan politik. Disebagian besar negeri-negeri ada kantor-kantor pemerintah pusat, yang biasanya disebut kementerian pendidikan, atau kementerian pendidikan dan kebudayaan yang menyusun, mengadininistrasikan, membiayai, dan mengontrol aspek-aspek formal dan kultural pendidikan di semua daerah dan kawasan. Undang-undang, kurikulum, pegawai-pegawai, bahan dan metode pengajaran sebagian besarnya ditentukan di kantor dengan berbagai varilasi dalam kondisi tertentu sesuai dengan keperluan. Namun, malah dalam contoh klassik dalam sentralisasi seperti negeri Perancis, sebenarnya tidak ada sentralisasi yang betul-betul. Sedangkan di negeri-negeri seperti Switzerland pendidikan dilaksanakan oleh Negara-negara bagian masing-masing.
Sebagai aturan umum, sentralisasi biasanya diartikan kesatuan dan kepatuhan, kalau tidak berarti situasi totaliter dan monolitik, sedang desentralisasi biasanya disamakan dengan demokrasi dan kepelbagian. Tetapi sebenarnya perbedaan tidak setajam itu. Mungkin wujud perbedaan-perbedaan bahasa dalam pendidikan, seperti di Rusia, tetapi mempunyai kontrol ideologi yang berpusat. Sebaliknya, ada negeri seperti Denmark yang mempunyai sistem pendidikan yang berpusat, tetapi terdapat kebebasan berfikir dan berpendapat. Jadi haruslah kita hati-hati memandang nama-nama saja, seperti negeri Anu sistem berpusat, dan negeri lain tak berpusat, sebab kadang-kadang nama-nama ini menyesatkan kalau isinya tidak:diketahui.
Ada lagi bentuk sistem pendidikan di mana adininistrasi dan control dipikul bersama oleh kekuasaan nasional dan daerah. Barangkali contoh yang paling baik dalam hal ini adalah negeri Inggris, di mana undang-undang pendidikan bermula di Parlemen tetapi pelaksanaan admanstrasinya berada di tangan pemerintah daerah. Departernen pendidikan dan sains (dulunya kementerman Pendidikan) pada tingkat nasional mengeluarkan laporan, memberi biaya, memberi pedoman, tetapi tidak mengontrol sekolah-sekolah.
Sekolah-sekolah swasta dan fasilitas-fasilitas pendidikan yang lain bisa dikontrol tetapi dibiayai oleh kekuasaan pusat dalam berbagai kasus. Dalam kasus-kasus lain mereka mungkin menerima subsidi penuh atau sebagian dengan atonoini yang berbeda-beda. Bila sekolah berada dibawah pengaruh organisasi agama maka biasanya berada dibawah kekuasaan agensi pusat, walaupun tidak dikontrol oleh pemerintah. Dalam konteks inilah nanti kita akan tinjau pendidikan Islam dari segi asas politik dan adininstratif. Satu aspek lagi dari asas politik pendidikan adalah aspek ideologi. Malah sebenarnya aspek adininistratif berpangkal ke situ, seperti kita lihat yang berlaku diberbagai negara-ncgara Kapitalis dan negara-negara Komunis. Dengan kata lain ideologi itulah yang ingin diterapkan di dalam negara melalui pendidikan, tetapi pelaksanaannya harus memperhitungkan aspek-aspek adininistratif supaya bisa berjalan dengan baik. Aspek ini juga akan dikupas tersendiri di bab yang lain dengan meninjaunva dan segi perspektif pendidikan Islam.
G. Asas-asas Psikologi Dalam Pendidikan
Salah satu aspek pendidikan yang kita bicarakan dalam bagian asas-asas sosial pendidikan adalah peinindahan (‘transinission) kebudayaan, ketrampilan dan nilai-nilai dan generasi tua ke generasi muda agar ciri-ciri dan identitas masyarakat tetap terpelihara. Istilah perinindahan, atau pewarisan seperti dagunakan penulis-penulis lain, melibatkan dua aspek dalam psikologi yang mendapat perhatian besar dan mendorong begitu banyak penyelidikan. Kedua aspek itu adalah mengajar (teaching) dan belajar (learning). Dahulu orang beranggapan bahwa sebenarnya ada satu aspek saja yaitu megajar. Belakanganlah kajian-kajian dalam psikologi menunjukkan bahwa sebenarnya belajarlah yang lebih penting. Mengajar hanyalah salah satu cara memantapkan proses belajar itu. Bukankah banyak orang belajar tanpa diajar, jadi belajar sendri atau autodidak? Kalau deinikian halnya maka kita harus pusatkan perhatian kita pada belajar ini. Kalau proses belajar berlaku apa sebenarnya terjadi pada manusia? Maka timbullah satu cabang psikologi yang khusus mengenai proses belajar ini yang bernama psikologi belajar (psychology of learning). Dalam sejarah psikologi di Barat, kita pertama sekali berjumpa dengan nama Thorndike di Universitas Columbia di New York. Buku Educational Pychology diterbitkan pada tahun 1911, walaupun penyelidikan-penyelidikannya sudah mulai pada akhir abad ke19. Sebenarnya kecenderungan seperti ini tampak juga pada Pavlov, seorang ahli fisiologi Rusia, pada abad ke 19. Malah Thorndike dan Pavlov ini sering surat-menyurat mengutarakan penemuan-penemuan masing- masing dalam kajian-kajiannya. Istilah pensyaratan klasik (Classical conditioning) barangkali masih kita ingat ketika Pavlov mengadakan percobaan terhadap anjing untuk mengetahui bagaimana reaksi (response) anjing ketika melihat sekerat tulang. Teori Thorndike dan Pavlov ini kemudian dilanjutkan oleh Watson, Skinner, Hull, Tollman dan lain-lain dalam bidang proses belajar (learning) sehingga setiap pelajar psikologi harus tahu apa teori belajar (theories of learning) menurut ahli-ahli psikologi tersebut.
Jadi hubungan psikologi dengan pendidikan adalah bagaimana budaya, ketrampilan, dan nilai-nilai masyarakat dipindahkan (transinitted), dalam istilah psikologinya dipelajari (learned), dan generasi tua oleh generasi muda supaya identitas masyarakat terpelihara. Jadi psikologi sebenarnya lebih prihatin terhadap proses peinindahan itu, sedang apa atau isi yang dipindahkan itu berada diluar jangkauan operasinya. Apakah ilmu, atau keterampilan, atau nilai-nilai yang harus dipindahkan dan bagaimana proporsinya tidak menjadi urusan psikologi. Itu adalah urusan filsafat, dan asas-asas lain dalam pendidikan. Dengan kata yang lebih biasa kita dengar, Ia lebih tertarik pada peinindahan dan pada tujuan dan apa atau materi yang dipindahkan.
Uraian di atas seakan-akan menunjukkan bahwa hanya orang-orang Barat saja yang meinikirkan soal peinidahan budaya ini. Tidakkah peinikir-peinikir Islam dahulu juga telah membuat karya-karya monumental dalam bidang psikologi? Itu betul, tetapi dalam rangka analisa filsafat bukan dalam rangka sains seperti dipahaini sekarang ini. Pendekatan seperta ini tidaklah kurang nilainva, malah karya-karva peinikir- peinikir Islam ini dalam bidang askologi telah membuka mata tidak sedikit ahli psikologi ini bagaimana berat sebelahnya sebahagian teori-teori psikologi Barat itu mcnghadapi manusia, sehingga memperlakukannya sebagai sekadar robot yang membuat reaksi bila dihadapkan kepada rangsangan.
Namun dalam bab-bab berikutnya aspek-aspek ini akan kita kupas dengan mendalam sambil melihat segi-segi positif dan negatif dan teori-teori belajar dalam psikologi itu dan hubungannva dengan pendidikan.
Itulah uraian sepintas lalu tentang apa dia pendidikan dengan memusatkan perhatian tehadap asas-asas tempat tegaknya, mulai dari asas filsafat, sejarah, ekonoini, sosial, politik dan psikologi. Masing-masing memberi warna terhadap pendidikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya bersama dengan aspek-aspek lain dalam kehidupan manusia.[3]
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Bab ini telah membicarakan Watak, sekop, fungsi dan asas-asas tempat berpijaknya pendidikan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Ada tiga pendekatan yang digunakan untuk meninjau pendidikan ini. Bila dilihat dengan kacamata masyarakat maka ini adalah pewarisan budaya, kalau dengan kacamata individu maka ini adalah pengembangan potensi. Pandangan Islam tentang pendidikan sekaligus dengan kacamata masyarakat dan kacmata individu, sebab dengan mengembangkan potensi-potensi ia menyadari tempatnya dalam orde, bukan hanya orde sosial tetapi dalam orde alam jagt.
Ada enam asas tempat berpijaknya pendidikan itu supaya bias berkembang, yaitu asas-asas filsafat, sosial, politik, ekonomi, sejarah, psikologi. Filsafatlah yang berfungsi sebagai polisi lalu lintas untuk memberi arah kemana pendidikan itu bertumbuh. Sejarah pendidikan Islam yang telah melalui masa lebih 1400 tahun itu menunjukkan bahwa umat Islam dapat mencapai zaman kegemilangan yang sudah-sudah kalau mereka mengikuti metode al-Salaf al-Saleh yaitu perkawinan antara semangat al- Quran dan ilmu-ilmu yang berasal dari berbagai peradaban yang diwarisi Islam dan diserapnya melalui kuasa spiritualnya menjadi suatu substansi baru yang sekaligus berbeda dengan tetapi juga merupakan kelanjutan dari apa yang wujud sebelum itu.
Nampaknya lembaga pendidikan Islam dalam zaman kegemilangannya telah berhasil menjalankan fungsi ini, seperti masih dapat dilihat pada lembaga-lembaga pendidikan Islam yang wujud sampai sekarang seperti al-Azhar, al-Zaitunah, dan al-Qurawiyin.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan. Pustaka Al-Husna. Jakarta. 2008.Ilmu Pendidikan Islam, Drs. Hery Noer Aly. MA. Logos. Bukit Pamulang Indah. 1999.Islam Transformatif. Moeslim Abdurrahman, Pustaka Firdaus. Jakarta. 2008.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top