Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Selasa, 14 April 2015

CONTOH LAPORAN KESULITAN BELAJAR ANAK



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah sesuatu hak yang patut di peroleh oleh siapapapun. Pendidikan adalah hak seluruh warga negara tanpa membedakan  asal-usul, status sosial ekonomi, maupun keadaan fisik seseorang, termasuk anak-anak yang mempunyai kelainan sebagaimana di amanatkan dalam UUD 1945 pasal 31. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hak anak untuk memperoleh pendidikan dijamin penuh tanpa adanya diskriminasi termasuk anak-anak yang mempunyai kelainan atau anak yang berkebutuhan khusus.
Sekolah sudah sepatutnya menjadi tempat belajar bagi siapapun, dan mampu melayani semua keperluan anak didik dalam belajar tanpa memandang kondisi fisik,  intelektual,  social,  emosi ataupun kondisi-kondisi lainnya. Bukankah, Pada pasal 3 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. Jadi, sudah sepatutnya melalui pendidikan peserta didik yang berkelainan bisa dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab, yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat.  Oleh karena itulah mereka dalam hal ini siswa yang memiliki keterbatasan mereka harus di bantu, di bimbing sehingga memiliki kemampuan yang sama dengan anak-anak lain seusianya. Betapapun kecilnya, mereka harus diberi kesempatan bersama teman sebayanya. Pada kajian pendidikan inklusif  mempunyai pandangan bahwa selama memungkinkan semua anak belajar bersama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaaan yang mungkin ada pada diri mereka maka pembelajaran dapat diupayakan dengan berbagai cara sehingga mampu memaksimalkan kemampuan semua anak.
Melalui pendidikan inklusif, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan (berkelainan) yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Oleh karena itu, anak berkelainan perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan anak normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah (SD) terdekat. Pendidikan inklusi diharapkan dapat memecahkan salah satu persoalan dalam penanganan pendidikan bagi anak berkelainan selama ini.
Salah satu hambatan dalam pembelajaran di SD adalah adanya siswa kelas II yang masih mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar menurut para ahli itu biasanya berkenaan dengan gangguan pada kelompok heterogen  yang benar-benar mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan kemampuan pendengaran, bicara, membaca, menulis dan berpikir atau matematika,  diantaranya dalam hal membaca. Kesulitan belajar dalam makalah ini lebih dikhususkan pada kesulitan dalam hal membaca.
Di SD tempat mengajar, penulis masih menemukan adanya siswa yang memiliki hambatan dalam membaca,  sedangkan membaca merupakan satu faktor penting yang sangat berguna bagi siswa SD, untuk kelak melanjutkan ke tahap selanjutnya.
Bagi anak berkebutuhan khusus pada kondisi  kesulitan belajar ini memerlukan perhatian yang serius, sudah saatnya  disediakan dukungan yang terus-menerus  mulai dari bantuan dalam proses pembelajaran sampai bimbingan dan pemberian tugas di rumah.
Secara mendasar potensi anak secara bertahap bisa diupayakan untuk berkembang dengan sempurna, kondisi inilah yang harus menjadi perhatian bagi guru dalam membimbing siswanya. Untuk itulah guru harus mampu mengidentifikasi dan membimbing siswa yang memiliki keterbatasan dengan memberikan bimbingan dan perhatian khusus kepada mereka.

B.     Perumusan Masalah

Dalam penyusunan laporan ini, penyusun merumuskan berbagai permasalahan sebagai berikut :
  1. Bagaimana peran optimal seorang guru dalam memberikan pembelajaran bagi anak dengan gangguan dalam hal kesulitan belajar, khususnya membaca
  2. Bagaimana karatkteristik dan identifikasi permasalahan pada anak dengan gangguan dalam hal kesulitan belajar, khususnya membaca
  3. Bagaimana solusi-solusi yang dapat diupayakan untuk menangani anak dengan gangguan dalam hal kesulitan belajar, khususnya membaca

C.    Tujuan Penyusunan Laporan

Tujuan penyusunan laporan ini adalah :
a.        Menjelaskan konsep-konsep anak dengan gangguan dalam hal kesulitan belajar
b.      Mengidentifikasi permasalahan anak gangguan dengan gangguan dalam hal kesulitan belajar, khususnya membaca
c.       Memberikan salah satu solusi bagi guru dalam  menangani masalah dalam pembelajaran dengan terutama anak dengan gangguan dalam hal kesulitan belajar, khususnya membaca
d.      Mengembangkan pengetahuan dan pengalaman dan memberikan pembelajaran di dalam kelas inklusif
BAB II
ISI LAPORAN


A.    Konsep Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar sebenarnya sudah di gambarkan oleh Goldstein pada tahun 1966 ketika terjadi banyak sekolah mengalami kesulitan belajar. Dari tahun ke tahun  istilah kesulitan belajar menjadi topik pembicaraan  dan bahan penelitian. Pada tahun 1987, the National Joint Committee on Learning Disabilities (NJCLB) menetapkan bahwa “kesulitan belajar” adalah suatu istilah umum yang berkenaan dengan gangguan pada kelompok heterogen yang benar-benar mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan kemampuan pendengaran, bicara, membaca, menulis, berfikir atau matematika.
Penyebabnya bersifat intrinsik dan diperkirakan karena disfungsi syaraf pusat. Kesulitan belajar itu dapat terjadi bersamaan dengan hambatan/kelainan lainnya (misal kerusakan indera, terbelakang mental sosial dan atau emosi). Atau pengaruh lingkungan (misal perbedaan kultur, pengajaran yang tidak cukup atau tidak sesuai, dan faktor psychogenic) tetapi kesulitan belajar yang terjadi ini bukanlah akibat langsung dari hambatan atau kelainan tersebut. Adapun kemungkinan paling tinggi sebagai penyebab terjadinya kesulitan belajar adalah hambatan perkembangan otak (system syaraf pusat) pada masa prenatal, perinatal dan selama usia satu tahun pertama.
 Hambatan-hambatan itu biasanya berupa pendarahan di otak, mengalami sesak napas pada saat kelahiran,  sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen, demikian pula ada beberapa resiko selama kehamilan, seperti, : infeksi rubella, malnutrisi, atau stress yang terus menerus pada ibu.

Kesulitan Belajar akibat hambatan minimal pada sensori dan motorik.
Bila kita amati dengan teliti dan seksama pada anak-anak usia prasekolah dan yang sekolah yang sedang melakukan kegiatan sehari-hari, bermain dan belajar, maka nampak beberapa anak yang mengalami hambatan minimal pada gerakan (motorik), penginderaan (sensorik) atau persepsi, sehingga prestasi belajarnya  cenderung rendah dalam pelajaran membaca, menulis dan berhitung yang merupakan dasar untuk mempelajari pengetahuan lainnya :
  1. Hambatan minimal pada fungsi  gerakan (motorik)
Anak-anak yang mengalami ini biasanya mengalami kesulitan dalam mengontrol gerakan dengan sempurna. Mereka itu walaupun dapat berjalan, berlari, meloncat dan melakukan keterampilan motorik lainnya, tetapi gerakan-gerakannya kurang terampil dibandingkan anak lain yang seusianya. Justru disinilah dapat dilihat bila seorang  anak mengalami disfungsi minimal pada geraka halus, maka ia menjadi kurang terampil menggerakkan tangan dari jari-jarinya, misalnya ketika mengancingkan baju, menalikan sepatu,  menggunting, menggambar dan menulis. Demikian pula kalau seorang anak mengalami  disfungsi minimal pada gerakan otot-otot di sekitar mulut dan wajah, anak ini akan  mengalami gangguan artikulasi yang dapat menghambat perkembangan bahasanya.
  1. Hambatan minimal  pada fungsi penginderaan (sensori)
Penginderaan (sensori) adalah suatu kemampuan untuk merasakan, mendengar dan melihat. Sedangkan apa yang dirasakan, di dengar,  dilihat melalui indera itu masuk ke dalam otak (sensori input), terintegrasi dan diolah didalam pusat interpestasi menjadi persepsi.  Jadi sensori dan persepsi itu dua istilah yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, bahkan dapat dikatakan persepsi sama dengan sensori analisis yaitu istilah yang digunakan pada proses yang berkenaan dengan interprestasi informasi melalui indera.
Seorang anak yang mengalami hambatan minimal pada fungsi penginderaan (penglihatan), akan mengalami kesulitan untuk membedakan satu obyek dari lainnya, misal : bentuk bulat dan oval dan bentuk-bentuk geometri lainnya yang mirip,  tidak dapat mengenal abjad dari susunan huruf, suku kata dan kata, tidak mampu mengingat isi bacaan yang tertulis,  ada juga anak-anak yang mengalami kesulitan membaca atau dikte yang bukan disebabkan karena tidak mampu mendengar, melainkan karena mengalami kesulitan membaca atau dikte yang bukan disebabkan karena ia tidak mampu mendengar, melainkan karena mengalami disfungsi minimal pada fungsi penginderaan (pendengaran). Mereka biasanya mengalami kesulitan untuk  mengenal, membedakan atau memisahkan bunyi pada kata-kata atau banyaknya bunyi dalam suatu kata, misalnya, membedakan bunyi “b” dan “d” dan ‘g”, “m” dan “n”, dan sebaliknya.

Intelegensi
Tes intelegensi di gunakan untuk melihat skor akhir dari beberapa kemampuan, seperti: berpikir analitis dan logis, konsentrasi, imitasi, pemahaman bahasa, ekspresi bahasa dan berbagai macam kualitas memori pendengaran dan penglihatan.  Mengenai intelegensi anak yang mengalami kesulitan belajar akibat hambatan minimal pada fungsi penginderaan, dan motorik pada umum nya termasuk normal, sedikit di bawah rata-rata atau di atas rata-rata. Tetapi hambatan minimal pada salah satu fungsi bagaimanapun juga dapat mempengaruhi seluruh kualitas kemampuan jika tidak memperoleh penanganan seawal mungkin.

B.     Hasil Identifikasi

  1. Identitas Anak Didik
Nama                                       : Rudi Ahmad Ghozali
Tempat Tanggal Lahir             : Tasikmalaya, 23 September 2000
Jenis Kelamin                          : Laki- laki
Kelas                                       : II
Berat tubuh                             : 23 kg
Tinggi Badan                          : 129 cm
Bentuk rambut                                    : Lurus
Warna mata                             :Coklat
Warna kulit                             :Putih

  1. Latar Belakang Anak Didik
·         Keluarga
Orang tua anak ini memiliki pekerjaan sebagai buruh, kondisi keluarganya tergolong kurang mampu, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pun kelihatannya tidak cukup, di tambah lagi dengan minimalnya komunikasi antara orangtua dan anak, tampak bahwa orang tua dalam hal ini kurang perhatian terhadap kemajuan belajar anaknya sendiri.
·         Masyarakat
Anak ini tinggal di lingkungan masyarakat yang kental dengan suasana religius (keagamaan) sehingga tampak bahwa kondisi masyarakat mendukung bagi anak dalam belajar.  Hal ini berarti kesadaran masyarakat untuk memnyekolahkan anak-anak mereka tergolong baik. Taraf kehidupan masyarakatnya pun secara umum  baik.
  1. Tinjauan Prestasi dan Kecerdasan
Prestasi belajar anak ini sangat kurang dari standar nilai yang telah ditentukan. Hal ini disebabkan dengan adanya kinerja belajar yang kurang optimal, meskipun sudah sering di suruh untuk berlatih membaca di rumah namun hasilnya masih tetap belum menunjukkan perbaikan. Serta dukungan teman-temannya belum memberikan aktifitas yang posiitif. Terdapat kecenderungan, teman-temannya membiarkan keadaannya.
  1. Identifikasi Masalah Anak
Masalah yang dihadapi oleh anak didik ini adalah ia mengalami gangguan dalam hal kesulitan belajar. Adapun  identifikasi dari gangguan ini, dalam menerima materi pembelajaran yaitu sebagai berikut :
·         Tidak dapat mengenal abjad dari susunan huruf, suku kata dan kata
·         Tidak mampu mengingat isi bacaan yang tertulis
·         Mengalami kesulitan mengenal, membedakan atau memisahkan bunyi “b” dan “p” dan ‘g”, “m” dan “n”, dan sebaliknya

  1. Solusi yang dilakukan

Dalam memberikan layanan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar, seorang guru tidak mampu bekerja secara sendirian, tetapi memerlukan pihak lain untuk melakukan diagnosis dan evaluasi dengan tepat untuk suatu kesulitan belajar itu dibutuhkan pengeteahuan yang spesifik, seperti : neurologi, pedagogi, psikologi, terapi bicara, fisoterapi dan lain-lain. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui kerjasama dengan para ahli lainnya. Namun paling tidak, upaya yang dilakukan oleh guru dalam menangani masalah ini antara lain :
1)      Melakukan pembimbingan secara individu pada anak yang kesulitan membaca tersebut
2)      Menggunakan pembelajaran dengan instruksi langsung  dengan menggunakan pendekatan setahap demi setahap bagaimana  cara membaca
3)      Membaca kata yang tidak mengandung sisipan dan akhiran.
4)      Membaca kata atau kalimat yang mengandung sisipan dan akhiran
5)      Membaca definisi suatu benda dengan menggunakan kartu bergambar dan kartu kata
6)      Memberikan tugas kepada siswa yang bersangkutan untuk belajar membaca di rumah

BAB  III
KESIMPULAN


Kesulitan  belajar akibat hambatan minimal pada penginderaan dan motorik. Kesulitan belajar yang banyak dialami oleh siswa Sekolah Dasar  ini disebabkan oleh faktor internal pada diri anak yang tentu saja berimplikasi kepada kesulitan belajar membaca, menulis dan berhitung, sehingga dalam memecahkan permasalahan  belajar anak seperti ini harus mulai dari  kondisi dalam diri (internal) anak seperti persepsi penglihatan, pendengaran, taktil (perabaan) dan motorik-kinestetik (gerakan otot dan tulang), yang merupakan akar dan dasar dari munculnya kesulitan tersebut, bukan di awali dari produk belajarnya yang berupa kesulitan akademis (membaca, menulis dan  berhitung).
Anak yang mengalami gangguan  perilaku dengan ganguan kesulitan belajar pada dasarnya mereka mempunyai hak untuk dibimbing, dan memiliki kesamaan pengetahuan yang sejajar dengan yang lainnya. Mereka pun mempunyai kebutuhan –kebutuhan sebagaimana pada umumnya, yaitu :
a.       Mendapatkan pendidikan dan masa depan yang layak
b.      Cita-cita dalam kehidupannya
c.       Berkeluarga dan mendapatkan pekerjaan yang layak
d.      Mendapat akses informasi tentang pembelajaran dan pekerjaan
e.       Menyadari keadaan dirinya mempunyai gangguan kesulitan belajar
f.       Bimbingan tentang pendidikan dan pembelajaran
g.      Pengetahuan dan keterampilan yang menunjang kehidupannya
h.      Pengakuan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Guru  sebagai tenaga pendidik memiliki kewajiban mengajar bagi semua anak didiknya termasuk anak yang memiliki gangguan kesulitan belajar, dalam proses pembelajarannya pun guru dituntut untuk mampu menggunakan berbagai pendekatan dan teknik yang relevan dan mampu membangkitkan motivasi yang tinggi pada siswa yang mengalami gangguan kesulitan belajar untuk menjadi insan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Drs. Dkk, (2006), Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung, UPI Press
Sadulloh, Uyoh. (2007), Pedagogik Bandung : Cipta utama
Setiawan, Atang. (2006), Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung : UPI Press
Suherman, Umam (1999), Memahami Karakter,  UPI PRESS
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top