Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Senin, 13 April 2015

Makalah Strategi Belajar Mengajar



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang mutlak bagi manusia agar dapat membangun peradaban bangsanya. Dalam pendidikan itu, manusia diajarkan dengan berbagai disiplin ilmu sebagai salah satu disiplin ilmu yang diajarkan diberbagai jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi adalah matematika.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Third Internasional Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 1999 (Subarta, 2004) melaporkan bahwa Indonesia jauh dibawah rata-rata skor matematika siswa internasional dan berada pada rangking 34 dari 38 negara. Ini menunjukkan betapa lemahnya kemampuan penguasaan rnatematika di negara ini. Rendahnya prestasi rnatematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalarni masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika. Selain itu, belajar matematika siswa belum bermakna, sehingga dalam hal ini siswa sangat lernah.
Jennings dan Dunne (Suharta, 2004) mengatakan bahwa, kebanyakan siswa rnengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real. Hal ini yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam pembelajarannya dikelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa, dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika sehingga anak cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika.
Kondisi pembelajaran yang kurang bermakna dialami oleh sekolah-sekolah baik pendidikan dasar maupun pendidikan menengah. Salah satu asumsi dibalik kurang memuaskannya kualitas proses pembelajaran matematika adalah disebabkan metode, strategi dan pendekatan yang digunakan oleh pendidik kurang efektif dalam proses pembelajaran strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru-guru masih menggunakan pendekatan tradisional atau mekanistik dimana siswa secara pasif menerima konsep, rumus dan kaidah (mernbaca, mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide-ide dalam proses pernbelajaran
Oleh karena itu, perlu adanya inovasi dalam pembelajaran matematika yakni perubahan dalam strategi pembelajaran termasuk pendekatan pembelajaran. Pendekatan realistik adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menerapkan agar pembelajaran bertitik tolak pada hal-hal yang nyata hagi siswa, menekankan keterampilan berdiskusi, dan berargumentasi dengan teman sekelas. Sehingga mereka dapat menemukan sendiri, dan pada akhinya menggunakan matematika dalam menyelesaikan masalah baik secara individu maupun secara kelompok.
Salah satu filosofis yang mendasari pendekatan realistik adalah bahwa matematika bukanlah suatu kumpulan aturan atau sifat yang sudah lengkap yang harus siswa pelajari. Pengembangan pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik merupakan salah satu usaha meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Dengan menerapkan pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan basil belajar matematika (Lasedu Alfon, 2006).

B.     RUMUSAN MASALAH
1.  Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Realistik dalam pembelajaran matematika?
2.  Apa perbedaan antara Pendekatan Realistik dengan pembelajaran secara tradisonal serta perbandingannya dengan pendekatan kontekstual ?
3.  Apa ciri  Pendekatan Realistik dan langkah yang ditempuh untuk menerapkannya?
4.  Apa manfaat dari Pendekatan Realistik ?  
5.  Hubungan antara Pendekatan Realistik dengan hasil belajar dan kemampuan pemecahan masalah.
C.    TUJUAN
1.  Dapat menjelaskan tentang pengertian dari Pendekatan Realistik.
2.  Dapat membedakan antara Pendekatan Realistik dengan pembelajaran secara tradisonal serta membandingkannyanya dengan pendekatan kontekstual.
3.  Dapat menjelaskan ciri  Pendekatan Realistik dan langkah yang ditempuh untuk menerapkannya.
4.  Dapat menyebutkan manfaat dari Pendekatan Realistik.
5.  Dapat menjelaskan hubungan antara Pendekatan Realistik dengan hasil belajar dan kemampuan pemecahn masalah.

BAB II
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN
A.    KAJIAN TEORI
a.      Pengertian Pendekatan Realistik Dalam Pembelajaran Matematika
Kata “realistik” merujuk pada pendekatan dalam pendidikan matematika yang telah dikembangkan di Belanda selama kurang lebih 30 tahun. Pendekatan ini mengacu pada pendapat Freudenthal  (dalam Gravemeijer, 1994) yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan kegiatan manusia. Pendekatan ini kemudian dikenal dengan Realistic Mathematics Education (RME).
Realistic Mathematics Education (RME) atau Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori RME ini mengacu fakta pendapat freundenthl (Asmin, 2001) yang juga mengatakan bahwa "matematika barus dekat dengan anak dan relevan dengan kebidupan nyata sehari-hari". Gravemeijer (Suharta, 2004) mengatakan bahwa "matematika sebagai aktivitas manusia harns diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa". Adapun menurut Slettenhaar (Asmin, 2001) mengatakan bahwa "Realistik yang dimaksud dalam hal ini tidak mengacu pada realitas tetapi fakta sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa".
Soedjadi (2001: 2) mengemukakan bahwa pembelajaran matematika realistik pada dasarnya pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada masa lalu. Lebih lanjut Soedjadi menjelaskan yang dimaksud dengan realitas yaitu hal-hal nyata atau konkrit yang dapat dipahami atau diamati peserta didik lewat membayangkan, sedang yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan ini juga disebut juga kehidupan sehari-hari.
b.      Pendekatan Realistik di antara Pendekatan Lainnya Dalam Pendidikan Matematika
Secara umum terdapat empat pendekatan pembelajaran matematika yang dikenal, Treffers (1991) membaginya dalam mechanistic, strukturalistic, empiristic, dan realistic. Untuk dapat mengetahui posisi dari filsafat realistik, akan diuraikan secara singkat pendekatan menurut filosofi lain di  luar realistik, sebagai berikut:
Menurut filosofi mechanistic bahwa manusia ibarat computer, sehingga dapat di program dengan cara driil untuk mengerjakan hitungan atau algoritma tertentu dan menampilkan aljabar pada level yang paling sederhana atau bahkan mungkin dalam penyelesaian geometri serta berbagai masalah, membedakan dengan mengenali pola-pola dan proses yang berulang-ulang.
Dalam filosofi structuralistic, yang secara historis berakar pada pengajaran geometri tradisional, bahwa matematika dan sistemnya terstruktur secara baik. Manusia dengan kemuliaannya, belajar dengan pandangan dan pengertian dalam berbagai rational, dianggap sanggup menampilkan deduksi-deduksi yang lebih efisien dengan cara menggunakan materi materi sistematik dan terstruktur secara baik. Dalam filosofi ini, yang pada mulanya dijalankan oleh sokrates, para siswa diharapkan patuh untuk mengulang-ulang deduksi pokok. Untuk menguji hasil pengulangan ini, apakah benar-benar menguasai satu kumpulan permasalahan selanjutnya siswa dilatih secara drill.
Selanjutnya, menurut filosofi empiristic bahwa dunia adalah kenyataan. Dalam pandangan ini, kepada siswa disediakan berbagai material yang sesuai dengan dunia kehidupan para siswa. Para siswa memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang berguna, namun sayangnya para siswa tidak dengan sigap mensistemasikan dan merasionalkan pengalaman.
Dalam filosofi realistic, kepada siswa diberikan tugas-tugas yang mendekati kenyataan, yaitu yang dari dalam siswa akan memperluas dunia dari kehidupannya. Kemajuan individu maupun kelompok dalam proses belajar- seberapa jauh dan seberapa cepat akan menentukan spektrum perbedaan dari hasil belajar posisi individu tersebut.
Dalam rangka Realistic Mathematics Education, Freudenthal (1991) menayatakan bahwa “Mathematics is human activity”, karenanya pembelajaran matematika disarankan berangkat dari aktivitas manusia.

B.     CONTOH PENERAPAN
Untuk memberikan gambaran tentang implementasi pembelajaran MR, berikut ini diberikan contoh pembelajaran pecahan di sekolah dasar (SD).  Pecahan di SD diinterpretasi sebagai bagian dari keseluruhan.  Interpretasi ini mengacu pada pembagian unit ke dalam bagian yang berukuran sama.  Dalam hal ini sebagai kerangka kerja siswa adalah daerah, panjang, dan model volume.  Bagian dari keseluruhan juga dapat diinterpretasi pada ide pempartisian suatu himpunan dari objek diskret. Dalam pembelajaran, sebelum siswa masuk pada sistem formal, terlebih dahulu siswa dibawa ke “situasi” informal.  Misalnya, pembelajaran pecahan dapat diawali dengan pembagian menjadi bagian yang sama (misalnya pembagian kue) sehingga tidak terjadi loncatan pengetahuan informal anak dengan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal). Setelah siswa memahami pembagian menjadi bagian yang sama, baru diperkenalkan istilah pecahan.  Ini sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional (bukan MR) di mana siswa sejak awal dicekoki dengan istilah pecahan dan beberapa jenis pecahan.  
Jadi, pembelajaran MR diawali dengan fenomena, kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri.  Setelah itu, diaplikasikan dalam masalah  sehari-hari atau dalam bidang lain.
C.    PEMBAHASAN

c.       Perbedaan antara Matematika Realistik dengan Matematika  Tradisonal.
Pada Matematika Tradisional, matematika diletakkan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Pembelajaran matematika lebih ditekankan pada ilmu hitung dan cara berhitung. Urutan-urutan materi seolah-olah telah menjadi konsensus masyarakat. Karena seolah-olah sudah menjadi konsensus maka ketika urutan dirubah sedikit saja protes dan penentangan dari masyarakat begitu kuat. Untuk pertama kali yang diperkenalkan kepada siswa adalah bilangan asli dan membilang, kemudian penjumlahan dengan jumlah kurang dari sepuluh, pengurangan yang selisihnya positif dan lain sebagainya.
Kekhasan lain dari pembelajaran matematika tradisional adalah bahwa pembelajaran lebih menekankan hafalan dari pada pengertian, menekankan bagaimana sesuatu itu dihitung bukan mengapa sesuatu itu dihitungnya demikian, lebih mengutamakan kepada melatih otak bukan kegunaan, bahasa/istilah dan simbol yang digunakan tidak jelas, urutan operasi harus diterima tanpa alasan, dan lain sebagainya sehingga dalam hal ini guru sangatlah aktif.
Berbeda dengan Matematika Realistik, Menurut Zulkardi (Ermayana: 2003) dalam matematika realistik guru hanya sebagai fasilitator belajar dan mampu membangun pengajaran yang interaktif. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk seeara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil dan tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan aktif rnengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial. Ada beberapa ciri khas yang menonjol pada pembelajaran matematika realistik. Ciri khas yang pertama adalah digunakannya masalah atau soal-soal yang berawal dalam kehidupan sehari-hari, yang kongkrit atau yang ada dalam alam pikiran siswa, sebagai titik awal proses pembelajaran. Ciri khas lain dalam pembelajaran realistik adalah siswa diperlukan sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran. Telah disebutkan diatas, pengajaran sering kali diinterpretasikan sebagai aktivitas yang dilakukan oleh guru, mula-mula ia mengenalkan objek, memberikan satu atau dua contoh kemudian menanyakan pertanyaan satu atau dua, kemudian meminta kepada siswa yang pasti untuk lebih aktif dengan memulainya melengkapi latihan-latihan soal dari buku. Umumnya pelajaran akan berakhir dan terorganisasi secara baik. Pelajaran berikutnya akan mengikuti pelajaran yang serupa. Akan tetapi pendidikan matematika yang pembelajaran bermula dari reality membuat pembelajaran menjadi semakin kompleks.

d.      Perbandingan Antara Pendekatan Realistik  Dengan Pendekatan Kontekstual.
e.       Langkah yang Ditempuh Untuk Menerapkannya.
f.       Manfaat  Pendekatan Realistik
g.      Hubungan antara Pendekatan Realistik dengan hasil belajar dan kemampuan pemecahn masalah.
a         Hubungan antara Pendekatan Realistik dengan kemampuan pemecahan masalah.
Belajar melalui pendekatan pemecahan masalah ditujukan kepada pengembangan generalisasi-generalisasi yang akan membantu individu untuk memecahkan masalah-masalah yang ditemukannya. Proses pemecahan masalah menghasilkan lebih banyak prinsip yang dapat membantu pemecahan masalah selanjutnya. Pemecahan terhadap suatu masalah biasanya dilakukan dengan mempelajari prinsip-prinsip kemudian menerapkannya ke dalam pemecahan masalah tersebut.
Di dalam kegiatan mengajar belajar matematika penggunaan satu macam pendekatan atau metode hampir tidak pernah terjadi. Penerapan pendekatan tertentu selalu terkait dengan pendekatan yang lain.
Di sekolah guru memberikan masalah kepada siswa dengan harapan mereka dapat memecahkannya untuk memperlancar proses mengajar belajar. Mereka biasanya diberikan suatu metode atau pendekatan tertentu untuk memecahkan masalah tersebut, diantaranya dengan menggunakan pendekatan realistik.
Siswa belajar matematika sebagai suatu aktivitas yang manusiawi dimana pembelajarannya tidak dimulai dari bentuk matematika yang formal, melainkan objek-objek matematika yang dimunculkan berdasarkan realitas kehidupan sehari-­hari yang konstektual. Strategi pemecahan masalah dipergunakan dalam proses pcmbelajaran untuk melatih siswa menghadapi permasalahan yang penyelesaiannya menuntut kreatifitas. Masalah bukan sekedar soal-soal yang lazim penyelesaiannya secara mekanistik dan rutin. Masalah merupakan soal yang belum pernah diselesaikan, namun konsep yang dipergunakan untuk menyelesaikan masalah rersebut sudah diajarkan dengan memperhatikan kesesuaian masalah dan kesiapan siswa.
Kemampuan pemecahan masalah dengan pendekatan realistik matematika perlu diupayakan agar siswa mempunyai pengalaman menemukan kembali objek-­objek matematika dengan bimbingan guru. Dalam hal ini siswa mengidentifikasi masalah realistik yang konstektual harus ditransfer ke dalam masalah bentuk matematika untuk dipahami lebih lanjut melalui penskemaan, perumusan, pemvisualisasian, siswa mencoba menemukan kesamaan dan hubungan masalah dan mentransfernya ke dalam bentuk model matematika informal atau formal peranan guru adalah membantu memberikan gambaran model-model matematika yang cocok untuk mempresentasekan masalah tersebut.
Untuk memecahkan masalah-masalah matematika, kepada siswa harus diawali dengan masalah konstektual, yaitu masalah realistik (dunia nyata), atau setidak-tidaknya masalah yang dapat dikhayalkan atau dibayangkan sebagai sesuatu yang nyata. Hal ini dengan mempertimbangkan dua aspek yaitu kecocokan penggunaan konteks dalam pembelajaran, dan kecocokan dampak dalam proses penemuan kembali model matematika dari masalah konstektual tersebut.
Selain itu diarahkan untuk menyelesaikan model matematika (informal atau formal) dari masalah konstektual dengan menggunakan konsep, operasi, dan prinsip matematika yang berlaku dan dipahami siswa secara benar untuk mendapatkan jawaban yang benar pula. Pada akhirnya siswa merumuskan dan menggeneralisasikan jawaban masalah dengan membandingkan jawaban dengan konteks dan kondisi masalah. Dengan bantuan guru, siswa menunjukkan keterkaitan konsep, operasi, dan prinsip matematika yang digunakan dan menggeneralisasikannya.
Jadi dalam memecahkan masalah dengan menggunakan pendekatan realistik, siswa sendiri mengembangkan model-model pemecahan atau pemecahan masalah konstektual. Model-model yang dikembangkan sendiri oleh siswa berfungsi menjembatani jurang antara pengetahuan matematika informal dan pengetahuan matematika formal dari siswa. Siswa mengembangkan model dari masalah konstektual dengan menggunakan model matematika yang telah diketahuinya. Dimulai dengan menyelesaikan masalah konstektual dari situasi nyata yang siswa,sudah kenal, kemudian menemukan model dan masalah tersebut, dan selanjutnya diikuti dengan menemukan model untuk masalah tersebut dan akhirnya mendapatkan penyelesaian masalah dalam bentuk pcngetahuan matematika yang formal.

b        Hubungan antara Pendekatan Realistik dengan hasil belajar.
Hasil belajar siswa langsung dipengaruhi oleh pengalaman siswa dan realitas internal, pengalaman belajar siswa juga dipengaruhi oleh unjuk kelja gum Faktor­faktor yang mempengaruhi basil belajar siswa, yang akan dibahas dalam tulisan ini hanya faktor siswa, guru, sebagai berikut:
1) Siswa
Dalam faktor siswa sebagai input prasyarat masuk suatu lembaga pendidikan hams dipenuhi sehingga dapat mengikuti proses pembelcYaran sesuai dengan yang diharapkan. Dalam peneIitian ini yang dibahas adalah yang berkaitan dengan aktivitas siswa dan respon siswa.
a) Aktivitas Siswa
Aktivitas siswa merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa tidak hanya mendengar sejumlah teori-teori secara pasif, melainkan siswa hams aktif dan sungguh-sungguh dalam semua kegiatan pembelajaran, seperti mendengar, menulis, tanya jawab, diskusi, praktik dan lain-lain. aktivitas selama pembelajaran matematika realistik adalah mendengarkanlmemperhatikan penjelasan guru atau teman kelompok, mencatat pertanyaan guru, mengeIjakanlmendiskusikan pertanyaan guru melalui LKS, menyajikan hasil diskusi kelompok, menanggapi jawaban hasil diskusi kelompok lain, merangkum materi pelajaran, menulis/mengeIjakan PRlkuis, dan perilaku yang tidak relevan dengan pembelajaran (Sardiman, 2000: 34).

b) Respon Siswa
Salah satu faktor yang mempengarohi terhadap keberhasilan proses pembeJajaran adaJah siswa. Faktor diri siswa yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran tersebut antara lain adalah perhatian, bakat, minat, intelegensi dan motivasi untuk beJajar (SJameto, 2003: 55). Motivasi dipandang sebagai suatu proses dalam diri siswa yang menyebabkan munculnya tingkah laku ke arah tujuan yang diharapkan. Motivasi dibedakan atas motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang berasaI dari dalam diri siswa. Sedangkan motivasi ekstrinsik berasal dari luar diri siswa.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika, (Sahabuddin 1999:63) mengemukakan bahwa apabila seorang siswa memiliki motivasi tinggi dalam belajar matematika, maka ia akan mempeJajari matematika dengan sungguh-sungguh sehingga ia mempunyai pengertian yang lebih mendalam dan dengan mudah mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Sedangkan, siswa yang motivasi belajarnya rendah akan menimbulkan kegagalan dalam belajamya.
Berdasarkan uarain di atas, maka dapat disimnpuJkan bahwa seorang siswa yang mempunyai motivasi tinggi dalam belajar matematika akan memberikan respon positif dan sebaliknya sisvra yang motivasi belajar rendah akan memberikan respon negatif yang diwujudkan dalam sikap atau pendapat yang diberikan terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

2). Guru
Guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Guru merupakan peIaksana pembeIajaran ill keIas, sebab guru yang mampu mengeIoIa proses belajar akan mempengaruhi mutu pelajarnn. Penguasaan materi dan earn penyampaiannya merupakan syarat mutIak bagi seorang guru. Seorang guru yang tidak menguasai materi matematika dengan baik, tidak mungkin ia dapat mengajar matematika dengan baik. Demikian juga seorang guru yang tidak menguasai berbagai earn penyampaian dapat menimbulkan kesulitan siswa daIarn memaharni matematika (Sardiman, 2000:87).
Dari urman di atas, daIarn kegiatan pengembangan perangkat ini kondisi guru adalah kemarnpuan guru dalam mengelola pembelajaran matematika realistik yang meliputi pendahuIuan, kegiatan inti, penutup.

BAB  III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
B.     SARAN

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). http://lubisgrafura.wordpress.com. Diakses pada tanggal 12 maret 2009.

Dahar, R.W. 1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta. Airlangga.

Hudojo, H. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Dirjen Dikti, Jakarta, Depdibud.

Soedjadi, R. 2000. Kiat  Pendidikan Matematika di Indonesia. Dirjen Dikti. Jakarta Depdikbud.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top