Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Senin, 13 April 2015

Makalah tentang Diare | Asuhan Keperawatan Diare


BAB I
PENDAHULUAN

I.1        Latar Belakang
            Kesehatan anak merupakan topic yang sangat penting di negara-negara berkembang. Seluruh petugas kesehatan harus banyak mengetahui tentang kesehatan anak karena separuh dari populasi adalah anak-anak, dan anak-anak merupakan kelompok dalam masyarakat yang paling rentan terserang penyakit. Hal ini karena mereka belum mempunyai cukup perlindungan (kekebalan) terhadap berbagai penyakit. Penyakit-penyakit anak yang sering terjadi dan menyebabkan banyak kematian seringkali dapat dicegah.
            Faktor-factor yang dapat mempengaruhi kesehatan anak di Indonesia antara lain :
a.       Indicator kesehatan anak
Sebagai indicator yang peka tentang kesehatan anak adalah angka kematian bayi dan angka kematian balita, status gizi, umur harapan hidup dan tingkat pendidikan.
b.      Masalah umum kesehatan anak
Masalah kesehatan anak dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh persoalan utama yaitu kurang gizi dan penyakit infeksi.
c.       Faktor-faktor lain, seperti penduduk, sosial budaya, ekonomi, kondisi lingkungan fisik dan biologis, dan lain-lain.
            Bila ditinjau dari indicator kesehatan maka masalah utama kesehatan anak di Indonesia adalah masih tingginya morbilitas dan mortalitas pada golongan bayi dan balita. Penyebab utamanya adalah lingkungan yang kurang menunjang, mutu pelayanan kesehatan yang masih rendah dan keadaan sosial/ekonomi/budaya masyarakat yang kurang memadai. Kejadian atau timbulnya suatu penyakit dipengaruhi oleh tiga factor penentu, yaitu : factor lingkungan, factor perilaku, dan factor genetic. Ketiga factor tersebut dapat bekerja secara tersendiri atau masing-masing saling berpengaruh, factor penentu ini berlainan bagi tiap individu, keluarga, daerah atau negara. Di Indonesia misalnya karena factor lingkungan kurang menunjang, tingkat pendidikan rendah, kesadaran terhadap kesehatan masih kurang, maka akan dijumpai banyak penyakit : infeksi, infertasi cacing, parasit, penyakit kulit, atau penyakit kurang gizi.
Di Indonesia, angka kematian bayi berkisar antara 40-145 per 1000 bergantung pada daerahnya. Angka rata-rata nasional tahun 1992 sekitar 58 per 1000. Penyakit utama kematian ini antara lain, penyakit saluran nafas, malaria, diare, terutama bayi yang diberi minum susu botol dan marasmus.
Pada anak usia 1-4 tahun terdapat angka kematian yang tinggi karena penyakit-penyakit yang sebagian besar dapat dicegah, seperti : malnutrisi, infeksi (malaria, infeksi saluran nafas, diare, meningitis, tuberculosis, dan campak), anemia (John B., John stace).
Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150-430 penduduk setahunnya. Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan, angka kematian di rumah sakit dapat ditekan menjadi kurang dari 3 %.
Di Amerika Serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang praktek dokter. Sedangkan di beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan diare akut karena infeksi terdapat pada peringkat pertama sampai dengan keempat pasien dewasa yang dapat berobat ke rumah sakit (KOPAPDI VI, Jakarta, 1984). Pada tahun 1980 diare merupakan penyakit utama sebagai penyebab kematian pada bayi, yang menempati peringkat pertama sekitar 24,1 % dan pada tahun 1965-1975 penyebab kematian pada anak usia 1-4 tahun menempati peringkat pertama pula.
Diare sering disebut gastroenteritis, menyebabkan kematian pada anak. Kematian karena penyakit diare disebabkan oleh dehidrasi akibat diare dan muntah. Diare dan muntah menyebabkan hilangnya air dan garam dari dalam tubuh. Kematian pada anak karena diare dapat dicegah dengan memberikan banyak cairan kepada anak yang terkena diare, pendidikan kesehatan dan peningkatan standar umum kehidupan dan memperbaiki nutrisi anak.
Berdasarkan uraian diatas maka sebagai petugas kesehatan perlu mengetahui bagaimana penyakit diare itu sebenarnya dan perawatan anak dengan diare.

I.2        Perumusan Masalah
            Dari uraian latar belakang diatas, penulis mencoba untuk mengangkat permasalahan gangguan kesehatan pada anak yang difokuskan pada anak dengan diare. Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain :   
I.2.1     Apa pengertian diare ?
I.2.2     Apa etiologi diare ?
I.2.3     Bagaimana patofisiologi diare ?
I.2.4     Bagaimana patogenesis diare ?
I.2.5     Apa tanda dan gejala klinik diare ?
I.2.6     Apa saja klasifikasi pada diare ?
I.2.7     Apa saja pemeriksaan penunjang diare ?
I.2.8     Apa komplikasi diare ?
I.2.9     Bagaimana pengobatan diare ?
I.2.10   Bagaimana pencegahan penyakit diare ?

I.3        Tujuan Penulisan
            Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini diharapkan bagi mahasiswa khususnya dan umumnya pembaca dapat mengetahui dan memahami mengenai :
I.3.1     Mengetahui pengertian diare
I.3.2     Mengetahui etiologi diare
I.3.3     Mengetahui patofisiologi diare
I.3.4     Mengetahui patogenesis diare
I.3.5     Mengetahui tanda dan gejala klinik diare
I.3.6     Mengetahui klasifikasi pada diare
I.3.7     Mengetahui pemeriksaan penunjang diare
I.3.8     Mengetahui komplikasi diare
I.3.9     Mengetahui pengobatan diare
I.3.10   Mengetahui pencegahan penyakit diare

I.4        Metode Penulisan
            Metode penulisan makalah ini adalah dengan melakukan studi literature yaitu dengan mencari, mengumpulkan dan menyusun teori mengenai diare pada anak dari berbagai buku.

I.5        Kegunaan Penulisan
            Dengan disusunnya makalah ini, diharapkan dapat melengkapi referensi bagi mahasiswa maupun pembaca untuk dapat memahami mengenai diare pada anak.

I.6        Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I                         PENDAHULUAN
BAB II            TINJAUAN TEORITIS
BAB III          ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1      Pengertian Diare
            Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk encer atau cair, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja).
            Di bagian ilmu kesehatan anak FKUI / RSCM, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal dimana pada neonatus bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak bila frekuensinya lebih dari 3 kali.

II.2      Etiologi Diare
            Ada banyak keadaan yang dapat menyebabkan diare pada anak. Keadaan nutrisi anak sangat penting. Anak-anak yang tidak tumbuh dengan baik sering sekali terkena diare. Jika mereka terkena diare keadaannya biasanya lebih berat dibanding anak dengan nutrisi baik.
            Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa factor, yaitu :
1.                  Faktor infeksi
a.       Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral ini meliputi :
-       Infeksi bakteri : vibrio, Enteropathogenik, Escherichia Coli, Salmonella, Shigella, Yersinia Enterocolitica, Campylobacter, Aeromonas.
-       Infeksi virus : Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus, Astrovirus, Human Retrovirua seperti agent, Rotavirus.
-       Jamur : Candida Albicans
-       Parasit : Cacing (Ascaris, Trictiuris, Oxyuris, giardia clambia, Crystosporidium).
-       Protozoa : Entamoeba histolityca, Trichomonas hominis
b.      Infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain diluar alat pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), Torsilofaringitis, Bronchopneumonia, ensefalitis, dsb. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.
2.                  Factor malabsorbsi
a.       Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.
b.      Malabsorbsi lemak
c.       Malabsorbsi protein
3.                  Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan, susu.
4.                  Faktor psikologis : rasa takut dan cemas. Walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.

II.3      Patofisiologi
            Sebanyak kira-kira 9-10 liter cairan memasuki saluran cerna setiap harinya, berasal dari luar (diet) dan dari dalam tubuh kita (sekresi cairan lambung, empedu, dan sebagainya). Sebagian besar (75 % - 85 %) dari jumlah tersebut akan diabsorbsi kembali dari usus halus dan sisanya sebanyak 1500 ml akan memasuki usus besar. Sejumlah 90 % dari cairan di usus besar akan diresorbsi, sehingga tersisa sejumlah 150 – 250 ml cairan yang akan ikut membentuk tinja.
            Cairan intraluminal yang meningkat menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis karena meningkatnya volume, sehingga motilitas usus meningkat. Dengan kata lain meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan elektrolit yang berlebihan.
            Cairan, sodium, potassium dan bikarbonat berpindah dari rongga ekstraseluler ke dalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit dan dapat terjadi asidosis metabolic.
           

Diare yang terjadi merupakan proses dari :
-               Transport aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit kedalam usus halus. Sel dalam mukosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatkan sekresi cairan dan elektrolit, microorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga menurunkan area permukaan intestinal, perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit.
-               Peradangan akan menurunkan kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit dan bahan-bahan makanan, ini terjadi pada sindrom malabsorbsi. Meningkatnya motilitas intestinal dapat mengakibatkan gangguan absorbsi intestinal.
Menurunnya pemasukan atau hilangnya cairan akibat :
                        Muntah           
                        Diare
                        Demam
                        Hiperventilasi
                              ¯
Tiba-tiba dengan cepat cairan ekstraseluler hilang
                              ¯
Ketidakseimbangan elektrolit
                              ¯
Hilangnya cairan dalam intraseluler
                              ¯
     Disfungsi seluler
                              ¯
     Syock hipovolemik
                              ¯
            Kematian




II.4      Patogenesis
            Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :
1.                  Gangguan osmotic
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2.                  Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toxin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3.                  Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltic usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

Patogenesis diare akut
Masuknya jasad renik yang masih hidup kedalam usus halus, setelah berhasil melewati rintangan asam lambung (Hcl) kemudian berkembang biak di usus halus dan mengeluarkan toxin. Akibat multiplikasi toxin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

Patogenesis diare kronis
Keadaan ini lebih kompleks dan factor-faktor yang menimbulkan ialah infeksi bakteri, parasit, malnutrisi dan malabsorbsi.

II.5      Tanda dan Gejala klinik Diare
a)                  Mula-mula bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat.
b)                  Nafsu makan berkurang atau tidak ada.
c)                  Tinja atau feses cair dan mungkin disertai lendir atau darah.
d)                 Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare.
e)                  Kadang-kadang muntah dan hal ini bisa terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
f)                   Bila pasien banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka timbul gejala dehidrasi mulai tampak, dengan tanda-tanda :
-           Berat badan turun
-           Turgor kulit berkurang
-           Mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung
-           Selaput lender bibir dan mulut serta kulit tampak kering
-           Capillary Refill Time lebih dari 2 detik

II. 6     Klasifikasi Dehidrasi Pada Diare
            Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang, tahapan dehidrasi (Ashwill and Droske, 1997) terbagi menjadi :
Ø    Dehidrasi ringan, yakni berat badan menurun 3 % - 5 %, volume cairan yang hilang < 50 ml/kg.
Ø    Dehidrasi sedang; berat badan menurun 6 % - 9 %, volume cairan yang hilang 50 – 90 ml/kg.
Ø    Dehidrasi berat; Berat badan turun >10 %, volume cairan yang hilang sama dengan atau lebih dari 100 ml/kg.
Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang sehingga terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala-gejalanya yaitu :
-               Denyut jantung menjadi cepat
-               Denyut nadi cepat, kecil
-               Tekanan darah menurun
-               Penderita menjadi lemah
-               Kesadaran menurun (apatis, somnolen, dan kadang-kadang sampai soporokomateus).
-               Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria)
-               Bila sudah ada asidosis metabolic akan pucat, pernapasan cepat dan dalam (pernapasan kusmaul)
Asidosis metabolic terjadi karena :
1.                  Kehilangan NaHCO3 melalui tinja
2.                  Ketosis kelaparan
3.                  Produk-produk metabolic yang bersifat asam tidak dapat dikeluarkan (oleh karena oliguria atau anuria)
4.                  Berpindahnya ion natrium dari cairan ekstraseluler ke cairan intrasel.
5.                  Penimbunan asam laktat (anoksia jaringan tubuh).

Sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi:
Ø    Dehidrasi hipotonik (dehidrasi hiponatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma kurang dari 130 mEq/l.
Ø    Dehidrasi isotonic (dehidrasi isonatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma 130 – 150 mEq/l, sedangkan
Ø    Dehidrasi hipertonik (dehidrasi hipernatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma lebih dari 150 mEq/l.
Pada dehidrasi hipotonik dan isotonic pasien tampak tidak begitu haus, tetapi pada pasien dehidrasi hipertonik rasa haus akan nyata sekali dan sering disertai kelainan neurologik seperti kejang, hiperfleksi dan kesadaran yang menurun, sedangkan turgor dan tonus tidak begitu buruk.  

II.7      Pemeriksaan Penunjang
            Bila ditemukan pasien dengan gejala-gejala diare maka untuk memudahkan pemberian pengobatan perlu diperiksa laboratorium mengenai :
a.                   Pemeriksaan tinja / feses
-           Makroskopis dan mikroskopis, tinja dapat disertai darah / lendir.
-           PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat intoleransi gula.
-           Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
b.            Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan PH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan).
c.             Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
d.            Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang).
e.             Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama pada dilakukan pada penderita diare kronik.

II.8      Komplikasi Diare
            Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat terjadi berbagai macam komplikasi, seperti :
1.                  Dehidrasi, hal ini bisa terjadi tergantung dari jumlah cairan yang keluar. Bisa terjadi dehidrasi ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic, atau hipertonik.
2.                  Renjatan hipovolemik
3.                  Hipokalemia (defisiensi kalium) dengan gejala meteorismus, hipotonik otot, lemah, bradikardia, perubahan pada elektrokardiogram.
4.                  Hipoglikemia, yaitu terganggunya penyimpanan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa oleh usus (sering terjadi pada anak-anak).
5.                  Asidosis metabolic terjadi akibat kehilangan bikarbonat melalui tinja, ketosis, kelaparan, oliguria / anuria dan penimbunan asam laktat karena hipoksia jaringan tubuh.
6.                  Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan vili mukosa usus halus.
7.                  Gangguan sirkulasi darah akibat cairan yang banyak keluar melalui muntah dan berak-berak sehingga terjadi syok.
8.                  Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.
9.                  Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.
10.              Cardiac dysrhythmia akibat hipokalemi dan hipokalsemi.

II.9      Pengobatan Diare
            Dasar pengobatan diare adalah :
1)            Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumat)
2)            Dietetik (pemberian makanan)
3)            Obat-obatan

1.                  Pemberian cairan pada diare dengan dehidrasi
v  Jenis cairan
a.       Larutan rehidrasi oral (oral rehidration salts)
Anak yang menderita diare dengan dehidrasi ringan atau sedang harus direhidrasi dengan larutan rehidrasi oral (LRO).
-       Formula lengkap mengandung NaCl, NaHCO3, KCl dan glukosa. Formula lengkap sering disebut oralit. Kadar Na 90 mEq/l untuk kolera dan diare akut pada anak > 6 bulan dengan dehidrasi ringan, sedang atau tanpa dehidrasi.
-       Formula sederhana (tidak lengkap) mengandung Nacl dan sukrosa atau karbohidrat, misalnya larutan gula garam, larutan air tajin garam, larutan tepung beras garam, dsb.
Penting untuk diingat bahwa cairan rehidrasi oral harus dibuat dengan cara yang benar, yaitu 1 bungkus dilarutkan dengan 1 liter air.
b.      Cairan parenteral
Anak dengan dehidrasi ringan, sedang sampai berat yang tidak membaik setelah pemberian cairan rehidrasi oral maka harus diberikan cairan intravena. Cairannya seperti :
-       DG aa (1 bagian larutan Darrow + 1 bagian glukosa 5 %) .
-       RL g (1 bagian Ringer laktat + 1 bagian glukosa 5 %)
-       RL (Ringer Laktat)
-       3 @ (1 bagian NaCl 0,9 % + 1 bagian glukosa 5 % + 1 bagian Na laktat 1/6 mol/l)
-       DG 1 : 2 (1 bagian larutan Darrow + 2 bagian glukosa 5 %)
-       RLg 1 : 3 (1 bagian Ringer laktat + 3 bagian glukosa 5 – 10 %)
-       Cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5 – 10 % + 1 bagian NaHCO3 1 ½ % atau 4 bagian glukosa 5 – 10 % 1 bagian NaCl 0,9 %)
v  Jalan pemberian cairan
a.       per oral untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik.
b.      Intragastrik untuk dehidrasi ringan, sedang atau tanpa dehidrasi, tetapi anak tidak mau minum, atau kesadaran menurun.
c.       Intravena untuk dehidrasi berat.
v  Jumlah cairan

Berat badan
Umur
PWL*
NWL**
CWL***
Jumlah
- 3 Kg
3 – 10 Kg
10 – 15 Kg
15 – 25 Kg
- 1 bln
1 bln – 2 thn
2 – 5 thn
5 – 10 thn
150
125
100
80
125
100
80
65
25
25
25
25
300
250
205
170

Keterangan :                * PWL             = Previous Water Loss (ml/kgbb)
                                    ** NWL          = Normal Water Losses (ml/kgbb)
                                    ***CWL         = Concomitant Water Losses (ml/kgbb)
v  Jadwal (kecepatan pemberian cairan)
a.       Belum ada dehidrasi
-       Oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas setiap kali buang air besar.
-       Parenteral dibagi rata dalam 24 jam.
b.      Dehidrasi ringan
-       1 jam pertama : 25 – 50 ml/kgbb peroral atau intragastrik.
-       Selanjutnya : 125 ml/kgbb/hari atau ad libitum.
c.       Dehidrasi sedang
-       1 jam pertama : 50 – 100 ml/kgbb peroral atau intragastrik
-       selanjutnya : 125 ml/kgbb/hari atau ad libitum.
d.      Dehidrasi berat
1.      Berikan 20 ml/kg cairan intravena cepat
BB dalam kg x 20 = jumlah cairan dalam ml yang harus diberikan dengan cepat.
3 – 5 kg     : berikan 100 ml cepat
6 – 9 kg     : berikan 150 ml cepat
10 – 14 kg : berikan 250 ml cepat
15 – 19 kg : berikan 350 ml cepat
20 – 29 kg : berikan 500 ml cepat
30 – 49 kg : berikan 700 ml cepat
2.      Periksa kembali anak, jika masih kelihatan dehidrasi ulangi jumlah diatas, jika membaik turunkan jumlah tetesan.
3.      Lambatkan tetesan
3 – 5 kg     : berikan 125 ml/jam (7 tetes/menit)
6 – 9 kg     : berikan 50 ml/jam (13 tetes/menit)
10 – 14 kg : berikan 75 ml/jam (20 tetes/menit)
15 – 29 kg : berikan 100 ml/jam (25 tetes/menit)
30 – 49 kg : berikan 150 ml/jam (40 tetes/menit)

Pemberian cairan pada malnutrisi energi protein dengan diare dehidrasi berat.
1.                  Malnutrisi energi protein ringan, sedang dan berat tipe marasmus dengan diare dehidrasi berat.
Jenis cairan : DG aa
Jumlah cairan = PWL + NWL + CWL (dalil Darrow)
Misal untuk anak 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg jumlah cairan 250 ml/kgbb/24 jam.
Kecepatan :
4 jam pertama :            60 ml/kgbb/4 jam atau 15 ml/kgbb/jam atau
                                    = 4 tetes/kgbb/menit (1 ml = 15 tetes) atau
                                    = 5 tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes)
20 jam berikut :           190 ml/kgbb/20 jam 10 ml/kgbb/jam atau
                                    = 2 ½ tetes/kgbb/menit (1 ml = 15 tetes) atau
                                    = 3 tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes) 
2.                  Malnutrisi energi protein berat tipe marasmik – kwashiorkor dan tipe kwashiorkor dengan diare dehidrasi berat.
Jenis cairan : DG aa
Jumlah cairan = 4/5 (PWL + NWL + CWL)
Misal untuk anak 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg jumlah cairan 4/5 x 250 ml = 200 ml/kgbb/24 jam.
Kecepatan :
4 jam pertama :            60 ml/kgbb/4 jam atau 15 ml/kgbb/jam atau
                                    = 4 tetes/kgbb/menit (1 ml = 15 tetes) atau
                                    = 5 tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes)
20 jam berikut :           150 ml/kgbb/20 jam atau 7 ml/kgbb/jam atau
                                    = 1 ¾ tetes/kgbb/menit (1 ml = 15 tetes) atau
                                    = 2 ¼ tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes) 

Pemberian cairan pada diare dehidrasi berat dengan bronkopneumonia tanpa disertai kelainan jantung.
Jenis cairan : DG aa
Jumlah cairan = PWL + NWL + CWL
Misal untuk anak 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg jumlah cairan 250 ml/kgbb/24 jam.
Kecepatan :
4 jam pertama :            60 ml/kgbb/4 jam atau 15 ml/kgbb/jam atau
                                    = 4 tetes/kgbb/menit (1 ml = 15 tetes) atau
                                    = 5 tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes)
20 jam berikut :           190 ml/kgbb/20 jam 10 ml/kgbb/jam atau
                                    = 2 ½ tetes/kgbb/menit (1 ml = 15 tetes) atau
                                    = 3 tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes) 
2.                  Pengobatan dietetic
-       Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg.
Jenis makanan :
Ø   Susu ( ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron)
Ø   Makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan padat (nasi tim) bila anak tidak mau minum susu karena di rumah sudah biasa diberi makanan padat.
Ø   Susu khusus yaitu susu yang tidak mengandung laktosa (pada intoleransi karbohidrat) atau susu dengan asam lemak berantai sedang / tidak jenuh, sesuai dengan kelainan yang ditemukan.
-       Untuk anak diatas 1 tahun dengan berat badan lebih dari 7 kg, jenis makanan :
Ø   Makanan padat atau makanan cair / susu sesuai dengan kebiasaan makan di rumah.

3.                  Obat-obatan
Obat-obatan tidak diberikan hanya karena diare. Anak dengan diare memerlukan cairan dan makanan, bukan obat. Karena prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras, dsb).
Tetapi kadang-kadang anak yang diare juga menderita penyakit lain, penyakit inilah yang memerlukan obat.
Ø   Obat anti sekresi
-           Asetosal
Dosis : 25 mg/tahun dengan dosis minimum 30 mg
-           Klorpromazin
Dosis : 0,5 – 1 mg/kgbb/hari
Ø   Obat anti spasmolitik
Pada umumnya obat anti spasmolitik seperti papaverine, ekstrak beladona, opium, loperamid, dan sebagainya tidak diperlukan untuk mengatasi diare akut.
Ø   Obat pengeras tinja
Obat pengeras tinja seperti kaolin, pectin, charcoal, tabonal, dan sebagainya tapi tidak ada manfaatnya untuk mengatasi diare.
Ø   Antibiotika
Pada umumnya antibiotic tidak dieprlukan untuk mengobati diare. Antibiotik hanya diindikasikan jika penyebabnya jelas, seperti :
-           Diare invasive, diberikan kotrimoksazol 50 mg/kgbb/hari dibagi 2 dosis, 5 hari.
-           Kolera, diberikan tetrasiklin 25 – 50 mg/kgbb/hari, dibagi 4 dosis, 2 – 3 hari.
-           Amuba, diberikan metronidazol 30 – 50 mg/kgbb/hari, dibagi 3 dosis – 5 hari (10 hari untuk kasus berat)
-           Campylobacter, diebrikan eritromisin 40 – 50 mg/kgbb/hari.

Antibiotik lain dapat pula diberikan bila terdapat penyakit penyerta seperti :
-           Infeksi ringan (OMA, faringitis), diberikan penisilin prokain 50.000U/kgbb/hari
-           Infeksi sedang (Bronkitis), diberikan penisilin prokain atau ampisilin 50 mg/kgbb/hari.
-           Infeksi berat (bronkopneumonia), diberikan penisilin prokain dengan kloramfenikol 75 mg/kgbb/hari atau ampisilin 75 – 100 mg/kgbb/hari ditambah gentamisin 6 mg/kgbb/hari atau derivate sefalosporin 30 – 50 mg/kgbb/hari.
Obat-obat anti diare seperti lamotil jangan diberikan karena berbahaya bagi anak. Obat-obat anti muntah seperti prochlorperazine (atau stemetil) juga berbahaya untuk anak, karena obat ini membuat anak mengantuk sehingga mereka tidak mau minum. Keadaan ini akan menambah anak dehidrasi.

II.10    Pencegahan Penyakit Diare
            Pencegahan penyakit diare dengan cara memberikan penyuluhan dan mengajari orangtua tentang :
a)                     Pentingnya pemberian air susu ibu
b)                    Selalu menggunakan makanan dan peralatan makan yang bersih
c)                     Berikan makan mulai 4 – 6 bulan disamping air susu ibu
d)                    Selalu cukup air bersih dekat rumah
e)                     Selalu menggunakan air minum yang sudah dimasak mendidih.
f)                     Pembuangan sampah atau tinja yang aman untuk mencegah lalat berkembang biak
g)                    Kakus yang bersih
h)                    Imunisasi – vaksin campak dan pigbel.
Sebagian besar hal-hal tersebut diatas tergantung pada perbaikan pendidikan umum, keadaan sosial, perkembangan ekonomi serta standar kesehatan dalam masyarakat.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE

III.1     Pengkajian
            Proses pengkajian dilakukan untuk mengumpulkan data (klinis maupun data keperawatan yang akan digunakan sebagai dasar dalam melakukan tindakan atau intervensi medis atau pengobatan maupun intervensi dalam keperawatan).
            Pengumpulan data dalam pengkajian ini adalah sebagai berikut :
a.                   Biodata
Yang terdiri dari : nama, usia, alamat, dan lain-lain.
b.                   Keluhan utama :
Pasien mengeluh buang air besar encer atau cair terus menerus lebih dari 4 kali sehari.
c.                   Riwayat kesehatan
Ø   Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan pasien dijabarkan dalam PQRST.
Ø   Riwayat kesehatan dahulu
Menanyakan tentang kesehatan pasien di masa lalu dan obat-obatan yang pernah dikonsumsi.
Ø   Riwayat kesehatan keluarga
Adakah penyakit yang sama dengan pasien dalam keluarga atau penyakit keturunan yang dijabarkan dalam genogram (minimal tiga generasi).
d.                  Status psikologis
Menanyakan adakah kecemasan yang serius, ketakutan, gelisah, depresi dari keluhan-keluhan penyakitnya.
e.                   Keadaan lingkungan
Lingkungan dalam atau sekitar rumah bagaimana, karena lingkungan sangat mempengaruhi perubahan perilaku dan status kesehatan.
f.                   Activity Daily Living (ADL)
Ø   Nutrisi
Kaji porsi makan, frekuensi, dan jenis makanan.
Akibat dari kekurangan cairan sering terjadi anorexia.
Ø   Hidrasi
Kaji hidrasi pasien (asupan peroral, cairan infuse, mual dan muntah).
Ø   Eliminasi
§    BAK
Kaji tentang buang air kecil pasien, frekuensi, warna dan jumlah urine.
Sering terjadi oliguria pada diare akibat dari kekurangan volume cairan.
§    BAB
Kaji tentang buang air besar (tinja), frekuensi, warna, jumlah, bau, konsistensi dan waktu buang air besar.
g.                  Pemeriksaan Fisik
Ada empat dasar dari proses pengkajian ini, yakni pertama dimulai dari inspeksi (mengamati), palpasi (melakukan perabaan), perkusi (mengetuk), dan auskultasi (pemeriksaan dengan stetoskop).
Urutan pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah sebagai berikut :
§     Penampilan umum
Kaji keadaan pasien secara keseluruhan (secara head to toe). Meliputi respon pasien, kesadaran pasien, warna dan kehangatan kulit, timbang berat badan, ukur tinggi badan, dan ukur lingkar lengan. Biasanya pasien diare kelihatan lemah, lesu, berat badan turun dan bila berat terjadi penurunan kesadaran.
§     Tanda-tanda vital
Ukur tanda-tanda vital yang terdiri dari :
Tekanan darah, tekanan darah pada pasien diare biasanya mengalami penurunan tekanan darah sebagai akibat dari berkurangnya volume cairan yang mengganggu curah jantung.
Respirasi, respirasi biasanya frekuensinya lebih cepat sebagai akibat dari penurunan PH darah yang akan merangsang pusat pernapasan dan kompensasi tubuh untuk mengembalikan PH darah kembali normal.
Suhu, biasanya terjadi penurunan suhu tubuh.
Nadi, pada pasien diare frekuensi nadi cepat dan lemah yang diakibatkan karena kompensasi tubuh untuk perfusi ke jaringan.
§     Kepala
Kaji warna dan distribusi rambut, adakah kerontokan rambut, ubun-ubun biasanya cekung.
§     Muka
Pada pemeriksaan mata, mata terlihat cekung, membran mukosa bibir dan mulut tampak kering.
§     Leher
Observasi pergerakan leher, pembesaran KGB (Kelenjar Getah Bening) mungkin terjadi bila pasien mengalami infeksi. Akan terlihat penurunan vena sentral akibat dari penurunan alir balik vena pada jantung sisi kanan.
§     Kulit
Kaji warna, integritas kulit, kelembabannya. Biasanya kulit kering dan turgor kulit mengalami penurunan.
§     Dada
-           Paru-paru
Observasi pergerakan dinding dada simetris atau tidak, auskultasi irama paru-paru dan frekuensi pernapasan.
-           Jantung
Auskultasi bunyi jantung dan irama jantung. Pada diare mengalami peningkatan denyut jantung sebagai akibat kompensasi tubuh untuk mengembalikan curah jantung.
§     Abdomen
Pemeriksaan abdomen merupakan pemeriksaan yang menjadi perhatian utama, karena berhubungan dengan sistem pencernaan. Pada auskultasi (dengan menggunakan stetoskop) pada setiap kuadran abdomen dapat terdengar peningkatan bising usus lebih dari 12 kali permenit.
§     Genetalia
Pada pemeriksaan di daerah anus, tampak iritasi kulit dan kemerahan di daerah sekitar anus akibat dari buang air besar yang terus menerus.

§     Ekstremitas
Terjadi penurunan capillary refill, pengisian kembali kapiler lambat, lebih dari 2 detik. Pada ekstremitas kemungkinan terjadi penurunan suhu, ujung-ujung ekstremitas dingin dan kadang-kadang sianosis yang diakibatkan karena suplai darah yang menurun.

III.2     Analisa Data
            Analisa data terdiri dari problem dan etiologi yang dikelompokkan lalu tentukan masalah keperawatannya (berdasarkan dukungan data yang ada). Data dikelompokkan ke dalam data subjektif dan objektif.
Ø   Data subjektif
Data subjektif (data yang dikeluhkan pasien) dengan penyakit diare adalah buang air besar yang terus menerus lebih dari 4 kali per hari, yang disertai feses cair, bahkan disertai lendir dan darah. Kadang-kadang anak cengeng dan tidak mau makan.
Ø   Data objektif
Data objektif (data yang didapatkan berdasarkan pengamatan) pada diare adalah menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, berat badan turun, turgor kulit dan selaput lendir kering, ubun-ubun besar menjadi cekung, akibat dari kehilangan volume cairan. Pada keadaan yang berat terjadi penurunan vena sentral, tekanan darah menurun sehingga anak tampak lemah bahkan dapat mengakibatkan kesadarannya menurun.

III.3     Diagnosa Keperawatan
            Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan dari data hasil pengkajian diare dan menghasilkan banyak diagnosa yang muncul antara lain :
1.                  Gangguan keseimbangan cairan kurang dari kebutuhan berhubungan dengan Gastro Intestinal (GI) berlebihan melalui feses atau emesis.
2.                  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya intake (pemasukan) dan menurunnya absorbsi makanan dan cairan.
3.                  Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus saluran Gastro Intestinal (GI).
4.                  Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi karena seringnya buang air besar.
5.                  Cemas dan takut berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan tidak dikenal, prosedur yang menimbulkan stress.
6.                  Kurangnya pengetahuan orangtua berhubungan dengan perawatan anak.

III.4     Rencana Keperawatan
            Rencana tindakan keperawatan dari asuhan keperawatan tentang diare, berdasarkan diagnosa keperawatan adalah sebagai berikut :

NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
1.
Gangguan keseimbangan cairan kurang dari kebutuhan berhubungan dengan gastrointestinal berlebihan melalui feses atau emesis.
Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal yang ditandai dengan :
-     Pengeluaran urine sesuai.
-     Pengisian kembali kapiler (capillary refill) kurang dari 2 detik.
-     Turgor kulit elastic.
-     Membran mukosa lembab.
-     Berat badan tidak menunjukkan penurunan.
a.   Kaji status hidrasi, ubun-ubun, turgor kulit, mata dan membrane mukosa mulut.
b.   Kaji pengeluaran urine, gravitasi urine / berat jenis urine (1005-1020) atau sesuai dengan usia. Pengeluaran urine 1-2 ml/kgbb/jam.
c.   Pertahankan pencatatan yang ketat terhadap masukan dan keluaran (urine, feses dan emesis).
d.  Timbang berat badan anak.
e.   Kaji tanda-tanda vital.
f.    Berikan larutan rehidrasi oral (LRO) sedikit tapi sering, khususnya bila anak muntah.
g.   Periksa lab : elektrolit, Hb, PH, serum albumin.
h.   Berikan dan pantau cairan IV sesuai ketentuan.
i.     Hindari masukan cairan jernih seperti jus buah, minuman bikarbonat, dan gelatin.
j.     Setelah rehidrasi, berikan diet regular pada anak sesuai toleransi.
k.   Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antidiare dan antibiotic.
l.     Beritahukan orangtua dalam memberikan terapi yang tepat, pemantauan masukan dan keluaran dan mengkaji tanda-tanda dehidrasi.
a.    Dengan mengkaji status hidrasi dapat membantu menentukan intervensi untuk pemberian terapi cairan.
b.    Pengeluaran urine dikaji supaya dapat diketahui seberapa banyak kehilangan volume cairan.
c.    Untuk mengevaluasi keefektifan intervensi keperawatan.
d.   Dengan menimbang berat badan anak untuk mengkaji dehidrasi.
e.    Mengkaji tanda-tanda vital dilakukan untuk mengkaji status hidrasi.
f.     Diberikan LRO adalah untuk rehidrasi dan penggantian kehilangan cairan melalui feses dan muntah.
g.    Dengan memeriksakan laboratorium dapat membantu menegakkan diagnosis kekurangan volume cairan.
h.    Diberikan cairan IV untuk mengganti cairan pada dehidrasi berat dan muntah.
i.      Karena cairan ini biasanya tinggi karbohidrat, rendah elektrolit, dan mempunyai osmolalitas tinggi.
j.      Dengan pemberian ulang diet normal secara dini bersifat menguntungkan dan dapat menurunkan jumlah defekasi serta pemendekan durasi penyakit.
k.    Pemberian obat antidiare dan antibiotic dapat mengobati pathogen khusus yang menyebabkan kehilangan cairan yang berlebihan.
l.      Diharapkan untuk menjamin hasil yang optimum dan memperbaiki kepatuhan terhadap aturan terapeutik.
2.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya intake (pemasukan) dan menurunnya absorbsi makanan dan cairan.
Akan mengkonsumsi nutrisi yang adekuat dan toleran dengan diit yang sesuai yang ditandai dengan berat badan dalam batas normal dan tidak terjadi kekambuhan diare.
a.     Setelah rehidrasi, instruksikan ibu menyusui untuk melanjutkan pemberian ASI.
b.    Timbang berat badan anak setiap hari.
c.     Hindari pemberian diet dengan pisang, beras, apel, dan roti panggang atau teh.
d.    Observasi dan catat respons terhadap pemberian makan.
e.     Instruksikan pada orangtua dalam memberikan diet yang tepat.
a.   Setelah rehidrasi, diberikan ASI hal ini cenderung akan mengurangi kehebatan dan durasi penyakit.
b.   Dengan anak ditimbang berat badannya setiap hari dapat diketahui perkembangan fisik anak.
c.    Diet ini rendah dalam energi dan protein dan terlalu tinggi dalam karbohidrat dan rendah elektrolit.
d.   Observasi respon tehadap pemberian makan akan dapat dikaji toleransi pemberian makan.
e.    Menginstruksikan dalam memberikan diet yang tepat untuk dapat meningkatkan kepatuhan terhadap program terapeutik.
3.
Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus saluran gastrointestinal.
Tidak menunjukkan tanda infeksi gastrointestinal.
a.  Implementasikan isolasi substansi tubuh atau praktek pengendalian infeksi rumah sakit, termasuk pembuangan feses dan pencucian yang tepat, serta penanganan specimen yang tepat.
b.  Pertahankan pencucian tangan yang benar dan ajarkan pada orangtua cara mencuci tangan yang benar.
c.  Gunakan standar pencegahan universal (sarung tangan).
d. Gunakan popok sekali pakai pada bayi.
e.  Ajarkan pada anak bila mungkin, tindakan perlindungan seperti cuci tangan setelah menggunakan toilet.
f.   Instruksikan pada anggota keluarga dan pengunjung dalam praktik isolasi, khususnya mencuci tangan.

a.   Isolasi substansi tubuh atau praktik pengendalian infeksi rumah sakit adalah untuk dapat mencegah penyebaran infeksi.
b.  Untuk dapat mengurangi risiko terjadinya penyebaran infeksi.
c.   Dengan digunakan standar pencegahan universal adalah untuk perlindungan diri dan mencegah penyebaran infeksi ke orang lain.
d.  Popok sekali pakai untuk dapat mengurangi kemungkinan penyebaran feses dan menurunkan kemungkinan terjadinya dermatitis popok.
e.   Untuk mencegah penyebaran infeksi.
f.   Untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi.
4.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi karena seringnya buang air besar.

Anak tidak menunjukkan gangguan integritas kulit yang ditandai dengan kulit tetap utuh dan tidak lecet.
a.     Kaji kerusakan kulit atau iritasi setiap buang air besar.
b.     Ganti popok pada bayi dengan sering.
c.     Bersihkan bokong perlahan-lahan dengan menggunakan kapas lembab dan sabun lunak, normalkalin atau celupkan anak dalam bak untuk pembersihan yang lembut.
d.    Pajankan dengan ringan kulit tubuh yang kemerahan pada udara jika mungkin.
e.     Berikan salep seperti seng oksida.
f.      Berikan obat antijamur yang tepat.
g.     Hindari menggunakan tisu basah yang mengandung alcohol pada kulit yang terekskoriasi.

a.   Dengan dikaji kerusakan kulit dan iritasi untuk dapat menentukan terapi yang tepat dapat diberikan.
b.  Ganti popok sering supaya dapat menjaga agar kulit tetap bersih dan kering.
c.   Supaya tidak tejadi kerusakan kulit karena feses diare sangat mengiritasi kulit.
d.  Kulit tubuh kemerahan dipajankan udara agar dapat meningkatkan penyembuhan dan memudahkan penyembuhan.
e.   Salep seng oksida diberikan untuk melindungi kulit dari iritasi.
f.   Pemberian obat antijamur supaya dapat mengobati infeksi jamur kulit.
g.  Tisu basah akan dapat menyebabkan rasa menyengat pada kulit.

5.
Cemas dan takut berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan tidak dikenal, prosedur yang menimbulkan stress.

Anak yang menunjukkan rasa cemas atau takut menjadi berkurang ditandai dengan anak tidak menangis dan menunjukkan tanda-tanda kenyamanan.
a.  Dorong kunjungan dan partisipasi keluarga dalam perawatan sebanyak yang mampu dilakukan oleh orangtua.
b.  Gunakan komunikasi terapeutik, kontak mata, sikap tubuh dengan sentuhan.
c.   Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada anak dan orangtua.
d.     Beri stimulasi sensoris dan pengalihan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan kondisinya.

a.   Kunjungan dan partisipasi keluarga dilakukan untuk dapat mencegah stress yang berhubungan dengan perpisahan.
b.  Komunikasi terapeutik, kontak mata, sikap tubuh dan sentuhan dapat memberikan rasa nyaman dan menghilangkan stress pada anak.
c.   Menjelaskan prosedur tindakan dapat memberikan pemahaman pada orangtua dan menurunkan kecemasan pada orangtua dan anak.
d.  Stimulasi dan pengalihan dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

6.
Kurangnya pengetahuan orangtua berhubungan dengan perawatan anak.

Orangtua memahami tentang penyakit anak dan pengobatannya sert adapat berpartisipasi dalam perawatan anak.
a.    Kaji tingkat pemahaman orangtua.
b.    Berikan informasi pada orangtua tentang penyakit anak dan tindakan terapeutik.
c.    Libatkan orangtua untuk berpartisipasi dalam perawatan anak sebanyak yang mereka inginkan.
d.   Ajarkan pada orangtua dan keluarga mengenai standar pencegahan.
e.    Ajarkan tentang perawatan kesehatan pasca hospitalisasi.

a.   Dengan mengkaji pemahaman orangtua supaya dapat memberikan informasi yang belum dipahami oleh orangtua.
b.  Informasi pada orangtua tentang penyakit anak dan tindakannya untuk mendorong kepatuhan terhadap program terapeutik, khususnya jika sudah berada di rumah.
c.   Orangtua berpartisipasi dalam perawatan supaya dapat memenuhi kebutuhan anak dan orangtua.
d.  Untuk mencegah penyebaran infeksi terutama melakukan perawatan di rumah.
e.   Perawatan kesehatan pasca hospitalisasi untuk dapat menjamin pengkajian dan pengobatan yang continue.




































KESIMPULAN

Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia.
Diare sering disebut gastroenteritis, menyebabkan kematian pada anak. Kematian karena penyakit diare disebabkan oleh dehidrasi akibat diare dan muntah.
Diare dan muntah menyebabkan hilangnya air dan garam dari dalam tubuh. Kematian pada anak karena diare dapat dicegah dengan memberikan banyak cairan kepada anak yang terkena diare, pendidikan kesehatan dan peningkatan standar umum kehidupan dan memperbaiki nutrisi anak.
            Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk encer atau cair, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja).
            Ada banyak keadaan yang dapat menyebabkan diare pada anak. Keadaan nutrisi anak sangat penting. Anak-anak yang tidak tumbuh dengan baik sering sekali terkena diare. Jika mereka terkena diare keadaannya biasanya lebih berat dibanding anak dengan nutrisi baik.
Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras, dsb).
DAFTAR PUSTAKA

Donna L. Wong., 1996, Keperawatan Pediatrik, Edisi 4, EGC Jakarta.
John biddulph & John stace., 1999, Kesehatan Anak Untuk Perawat, Petugas Penyuluhan Kesehatan dan Bidan di Desa.
Sjaifoelloh Noer, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, FKUI, Jakarta.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, 1985, Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta.
Suriadi & Rita Y., 1999, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I, Jakarta.
Udin Nazirudin, 1998, Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top