Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Senin, 15 Oktober 2018

Makalah Kalimat Efektif

Advertisement
Makalah Kalimat Efektif -  Kali ini admin posting makalah kalimat efektif untuk tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. silahkan dibaca berikut ini.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam belajar mata kuliah Bahasa Indonesia mahasiswa sering kali salah  dalam menggunakan kalimat, tidak jarang kalimat yang dituliskan terdapat pemborosan kata dan bertele-tele. Hal ini disebabkan karena mahasiswa kurang memahami penggunaan kalimat efektif. Dengan adanya kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena kalimat tersebut tidak efektif. Berdasarkan kenyataan inilah penyusun tertarik untuk membahas kalimat efektif dengan segala permasalahannya.

1.2 Permasalahan
1.2.1 Rumusan Masalah
Untuk merumuskan masalah tentang surat menyurat adalah sebagai berikut:
1.         Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif?
2.         Apa saja ragam intonasi final?
3.         Bagaimana pola kalimat efektif?
4.         Apa saja jenis-jenis kalimat?
5.         Apa syarat yang mendasari kalimat efektif?
1.2.2 Batasan Masalah
Penulis dalam memaparkan makalah ini hanya akan membahas pengertian kalimat efektif, unsur-unsur kalimat, ciri-ciri kalimat efektif, syarat-syarat kalimat efektif dan struktur kalimat efektif.

1.3 Tujuan Pembahasan
Tujuan dari materi tentang surat menyurat adalah sebagai berikut:
1.      Ingin mengetahui pengertian kalimat efektif;
2.      Ingin mengetahui unsur-unsur kalimat;
3.      Ingin mengetahui ciri-ciri kalimat efektif;
4.      Ingin mengetahui syarat-syarat kalimat efektif;
5.      Ingin mengetahui struktur kalimat efektif.






BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif menurut menurut Ahmad Syaeful Rahman (2018:58)  adalah yang dapat mengungkapkan maksud penutur/penulis secara tepat sehingga maksud itu dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. sedangkan menurut Sri Hapsari Wijayanti (2013:66) kalimat efektif adalah kalimat yang menyampaikan informasi yang sama dengan informasi yang diterima pembaca.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kalimat efektif merupakan kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami pendengar atau pembaca.

2.2 Ragam Intonasi Final
Menurut Ahmad Syaeful Rahman (2018:35) intonasi fnal merupakan syarat penting dalam pembentukan sebuah kalimat dapat berupa:
1.      Intonasi Deklaratif (dalam bahasa ragam tulis diberi tanda titik [.].
Intonasi deklaratif berisi pernyataan yang ditujukan kepada orang lain.
2.      Intonasi Interogatif (dalam ragam bahasa tulis diberi tanda tanya [?]).
Intonasi interogatif berisi pertanyaan.
3.      Intonasi Imperatif (dalam ragam bahasa tulis diberi tanda seru [!]).
Intonasi imperatif berisi perintah dan perlu diberi reaksi berupa tindakan.
4.      Intonasi Interjektif (dalam bahasa ragam tulis diberi tanda seru [!]).
Intonasi interjektif adalah seruan yang berisi ungkapan perasaan yang spontan atau reaksi mendadak berupa rasa senang, emosi, sedih dan marah.
Tanpa intonasi final ini sebuah klausa tidak akan menjadi sebuah kalimat.





2.3 Pola Kalimat Efektit
Fungsi/Type
Subjek
Predikat
Objek
Pelengkap
Keterangan
S - P
Lelaki itu
sedang makan.



Dia
pengantin baru.
S - P - O
Ayah-nya
mengendarai
mendapat
motor baru.


Sarah 
hadiah.
S – P – Pel 
Rijal
menjadi

Presiden.

Pak Ahmad
merupakan
dosen kita.
S – P – Ket
Riska
tinggal


di Tasik.
Kebakaran itu
terjadi
tahun 2018.
S – P – O – Pel
Caca
mengirimi
pacarnya
bunga.

Syifa 
mengambilkan
ibu-nya
wajan.
S – P – O – Ket
Pak Dodo
menyimpan
emas

di lemari.
Beliau 
memperlakukan
saya
dengan baik.
Berdasarkan fungsi dan peran gramatikalnya, menurut Ahmad Syaeful Rahman (2018:36) ada enam tipe kalimat yang dapat dijadikan model pola kalimat dasar bahasa Indonesia sebagai berikut.

Dalam tabel di atas, tampak dalam kolom S – P terisi penuh karena keduanya wajib hadir dalam suatu kalimat, sedangkan O, Pel, dan Ket tidak penuh karena kehadirannya tidak menjadi wajib dalam suatu kalimat. Dengan adanya pola kalimat dasar ini, semua kalimat bahasa Indonesia unsur-unsur intinya dapat dimasukan ke dalam enam tipe itu. Pengenalan terhadap enam jeis pola kalimat dasar akan dijelaskan sebagai berikut.
1.      Kalimat dasar tipe S – P
Dalam kalimat bertipe S-P, predikatnya lazim diisi oleh verba transitifatau frasa verba. Akan tetapi, ada pula pengisi P berupa nomina, adjektiva, frasa nomina, dan frasa adjektiva seperti terlihatdalam contoh berikut.


Subjek
Predikat
Rijal
Riska, anak pak Rijal
yang berdasi
Para pejabat
Hasil kerjanya
tersenyum.
tersenyum manis.
musuh saya.
korupsi.
sangat memuaskan.

2.      Kalimat dasar tipe S-P-O
Predikat dalam kalimat bertipe S-P-O diisi oleh verba transitif yang memerlukan dua pendamping, yakni S (di sebelah kiri) dan O (di sebelah kanan). Jika salah satu pendamping itu tidak hadir , kalimatnya tidak gramatikal.
Subjek
Predikat
Objek
Barcelona
Indonesia
Rijal
Kelompok kami
Mengalahkan
telah mematuhi
menemui
akan membuat 
Real Madrid.
seruan PBB.
tokoh Agama.
makalah.

3.      Kalimat dasar tipe S-P-Pel
Seperti halnya tipe S-P-O, kalimat tipe S-P-Pel mempunyai P yang memerlukan dua pendamping yakni S (di sebelah kiri) dan Pel (di sebelah kanan)
Subjek
Predikat
Objek
Agama Islam
Keputusan saya
berlandaskan
sesuai
Al quran dan Hadits.
dengan keinginan masyarakat.
Gamelan
Kakak sulung saya
Anak muda cerdas itu
merupakan
merasa
menjadi
ciri kesenian tradisional.
tersisihkan.
Menteri.


4.      Kalimat dasar tipe S-P-Ket
Predikat kalimat bertipe S-P-K, menghendaki dua pendamping yang berupa S (di sebelah kiri) dan K (di sebelah kanan).
Subjek
Predikat
Keterangan
Rijal
Anak kakak saya
Perdamaian itu
Temanku
tinggal
mahasiswa
terjadi
lulus
di Tasik
teknik
satu bulan yang lalu
 dengan pujian

5.      Kalimat dasar tipe S-P-O-Pel
Predikat kalimat S-P-O-Pel, menuntut kehadiran tiga pendamping agar konstruksinya menjadi gramatikal. Pendamping yang dimaksud adalah S (di sebelah kiri) O dan Pel. (di sebelah kanan).
Subjek
Predikat
Objek
Pelengkap
Syifa
Sarah
Caca
membaca
memakai
memanggil
Buku
celana
aku
sastra Arab.
yang bagus.
Pak Ganteng.

6.      Kalimat dasar tipe S-P-O-Ket
Subjek
Predikat
Objek
Keterangan
Habibulloh
Amirah
Wati
memiliki
membeli
menyelesaikan
mobil
tahu
 lagunya
kemarin.
di Arab.
untuk pameran.

2.4 Jenis Kalimat
Ahmad Syaeful Rahman (2018:40) memberikan penamaan terhadap adanya jenis atau macam kalimat didasarkan pada hal-hal berikut:
1.      Kategori Klausa
Kategori ini dibedakan dengan adanya hal-hal berikut.
a.       Kalimat verba,yakni kalimat yang predikatnya berupa verba atau frase verba.
b.      Kalimat adjektiva, yakni kalimat yang predikatnya berupa adjektiva atau frase adjektiva.
c.       Kalimat nomina, yakni kalimat yang predikatnya berupa nomina atau frase nomina.
d.      Kalimat preposisional, yakni kalimat yang predikatnya berupa frase preposisional.
e.       Kalimat numeral, yakni kalimat yang predikatnya berupa numeralia atau frase numeral.
f.       Kalimat adverbial, yakni kalimat yang predikatnya berupa adverbial atau frase adverbial.
2.      Jumlah Klausa
a.       Kalimat sederhana atau kalimat tunggal, yakni kalimat yang dibangun oleh sebuah klausa. Kalimat ini identic dengan satu klausa saja dan klausa tersebut dapat juga disebut klausa mandiri. Berikut contoh kalimat tunggal dalam bahasa Indonesia.
1.      Rasa aman warga terganggu dengan fenomena begal.
2.      Ribut antara Gubernut dan DPRD soal APBD tak kunjung tuntas.
b.      Kalimat majemuk, yakni kalimat yang dibangun oleh dua buah klausa atau lebih.
1.      Kalimat majemuk rapatan, yakni sebuah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih di mana ada fungsi-fungsi klausanya yang dirapatkan karena merupakan substansi yang sama. Fungsi-fungsi yang sama dari dua buah klausa atau lebih disatukan.
a.       Kalimat luas rapatan subjek disusun dengan merapatkan subjek yang wujudnya sama lalu menghubungkan sisanya dengan konjungsi tertentu.
Contoh:
Ayah makan nasi uduk lalu minum teh botol.
b.      Kalimat luas rapatan predikat disusun dengan merapatkan predikat dari dua buah klausa yang maujudnya sama, lalu mengubungkan sisanya dengan bantuan konjungsi yang dikehendaki maknanya.
Contoh:
Adik minum susu, sedangkan ibu the manis.
c.       Kalimat luas rapatan objek disusun dengan merapatkan objek dari dua buah klausa atau lebih yang maujudnya sama, lalu mengubungkan sisanya dengan bantuan konjungsi yang sesuai dengan makna yang dikehendaki. Contoh:
Kakak menangkap, ibu memegang, dan ayah menyembelih ayam itu.
d.      Kalimat luas rapatan fungsi keterangan disusun dari dua buah klausa atau lebih yang fungsi keterangannya merupakan maujud yang sama.
Contoh:
Di sekolah kami belajar sedangkan guru mengajar.
e.       Kalimat luas rapatan kompleks dapata disusun dari dua buah klausa atau lebih yang dari satu fungsinya merupakan maujud yang sama. Contoh:
Ibu ke oasar membeli gula, kopi, dan teh.
2.      Kalimat majemuk setara, yakni kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih dan memiliki kedudukan yang setara dan biasanya dihubungkan dengan sebuah konjungsi koordinatif.
penggabungan dua buah klausa menjadi sebuah kalimat luas setara, anatar lain, dapat memberikan makna:
a. Penambahan, konjungsi koordinatif yang biasa digunakan adalah dan.
b. Pertentangan, konjungsi koordinatif yang biasanya digunakan adalah tetapi atau sedangkan.
c. Pemilihan, konjungsi koordinartif yang biasa digunakan adalah atau.
d. Penegasan, konjungsi koordinartif yang biasa digunakan adalah bahkan, malah, apalagi, dan lagipula.
e. Pengurutan, konjugsi koordinartif yang biasa digunakan adalah lalu, kemudian, selanjutnya, dan sebagainya.
3.      Kalimat majemuk bertingkat, yakni kalimat yang terdiri dari dua buah klausa yang kedudukannya tidak sama. Ada klausa yang kedudukannya lebih tinggi yang disebut klausa utama atau klausa atasan da nada klausa yang kedudukannya lebih rendah yang lazim disebut klausa bawahan. Secara umum klausa bawahan disebut anak kalimat. Penggabungan dua buah klausa secara bertingkat dapat memberi makna sebagai berikut.
a.       Sebab, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan adalah sebab atau karena.
b. Akibat, konjungsi, subordinartif yang biasa digunakan adalah sampai, hingga, atau sehingga.
c. Syarat, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan adalah kalau, bila, apabila, bilamana, jikalau, dan asal.
d. Tujuan, konjungsi subordinatif yang biasa digunakan adalah untuk, agar, supaya.
e. Waktu, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan adalah sesudah, sebelum, ketika, selagi, sejak, dam sewaktu.
f. Kesungguhan, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan adalah meskipun, biarpun, sungguhpum, dan walaupun.
g. Perkecualian, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan adalah kecuali.
h. Perbandingan, konjungsi subordinartif yamg biasa digunakan adalah seperti, bagai, bak, dan laksana.
i. Pengandaian, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan seandainya, andaikats, andaikan, dan sekiranya.
j. Cara, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan adalah dengan atau tanpa.
k. Alat, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan adalah dengan atau tanpa.
l. komplomentasi, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan adalah bahwa.
m. Atributif, konjungsi subordinartif yang biasa digunakan adalah yang, ada dua macam hubungan atributif, yaitu
(a) restriktif
(b) tak restriktif.
Dalam hubungan restriktif, klausa relaif membatasi makna dari nomina yang diterangkannya. Dalam hal penulisannya perlu diperhatikan benar bahwa klausa relative seperti ini tidak dibatasi oleh tanda koma, baik di muka maupun di belakangnya.
Contoh:
Para pedagang yang menunggak lebih dari 35 miliar rupiah akan dicekal.
Sementara itu, yang tak restriktif hanya memberikan tambahn informasi pada nomina yang diterangkannya. Jadi, ia tidak mewatasi nomina yang mendahuluinya. Karen itu, dalam penulisannya, klausa ini diapit oleh dua tanda koma,

Contoh:
Paman saya, yang tinggal di Batam, meninggal kemarin.
4.      Kalimat majemuk kompleks, yakni kalimat yang terdiri dari tigas klausa atau lebih yang di dalamnya terdapat hubungan koordinartif (setara) dan juga hubungan subordinartif (bertingkat).
Contoh:
Orang itu meminta tolong kepada saya, tetapi saya tidak mau menolongnya karena dia pernah menipu saya.
3.      Modus Kalimat
Menurut Ahmad Syaeful Rahman (2018:50) modus kalimat adalah pengungkapan atau penggambaran suatu psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara atau sikap si pembicara tentang apa yang diungkapkannya. Berdasarkan modusnya kalimat digolongkan menjadi lima macam sebagai berikut.
1.      Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif adalah kalimat berita yang mengandung intonasi deklaratif, yang dalam ragam tulis diberi tanda titik. Kalimat deklaratif adalah kalimat berisi pernyataan belaka. Kalimat deklaratif yang isinya menyampaikan pernyataan yang ditujukan kepada orang lain. Kaliat deklaratif ini tidak memerlukan jawaban atau tindakan. Namun, bisa saja diberikan komentar oleh pendengar bila dianggap perlu.
Contoh:
Joko Widodo terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia.
2.      Kalimat Interogatif
Kalimat interogatif adalah kalimat yang mengandung intonasi interogatif, yang dalam ragam tulis biasanya diberi tanda Tanya (?). jenis kalimat interogatif ini biasanya ditandai pula oleh partikel Tanya seperti –kah, atau kata tanya, seperti apa, bagaimana, mengapa, siapa, di mana, dan berapa. Kalimat jenis ini mengharapkan adanya jawaban secara verbal.
Contoh:
Mengapa kamu membencinya?
3.      Kalimat Imperatif
Kalimat inperatif adalah kalimat yang meminta pendengar atau pembaca melakukan sesuatu tindakan, yang mengandung intonasi imperative dan dalam ragam tulis ditandai oleh tanda seru (!). jenis kalimat ini ditandai pula oleh partikel –lah, atau kata-kata perintah seperti tolong, jangan, hendaklah.
Contoh:
Tolong keluar dari kantor saya!

4.      Kalimat Interjektif
Kalimat interjektif merupakan kalimat yang berupa seruan yang berisi ungkapan perasaan yang spontan atau reaksi mendadak berupa rasa senang, emosi, dan sedih. Kalimat interjeksi disusun dari sebuah klausadiawali dengan kata seru, seperti wah, nah, aduh, ah, hah, alangkah, dan sebagainya.
Contoh:
Aduh, buku saya tertinggal!
5.      Kalimat Optatif
Kalimat optative adalah kalimat yang menyatakan harapan atau keinginan. Modus yang menunjukan harapan dan keinginan.
Contoh:
Semoga saya bisa mewujudkan impian Ibu.
4.      Unsur Struktur Kalimat
Berdasarkan struktur internal klausanya, kalimat diklasifikasikan sebagai kalimat sempurna atau kalimat tidak sempurna. Kalimat sempurna biasa disebut kalimat mayor dan kalimat tak sempurna biasa disebut kalimat minor. Kalimat minor termasuk kalimat kompletif atau kalimat seru.
a.       Kalimat minor
Kalimat ini disebut kalimat tak berklausa, kalimat minor terbagi menjadi dua, yaitu kalimat minor tak terstruktur dan kalimat minor berstruktur.
1.      Kalimat minor tak berstruktur
Kalimat jenis ini muncul sebagai wacana yang ditentukan oleh situasi. Kalimat ini pun diakhiri oleh satu intonasi final. Kalimat tak berstruktur dibedakan sebagai berikut.
a.       Kalimat minor panggilan
Hadar!
b.      Kalimat minor seru. Kalimat ini terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan.
Aduh!
c.       Kalimat minor perintah, larangan dan Tanya bentuk singkat. Kalimat ini biasanya terdiri dari kata yang menyatakan perintah, larangan atau pertanyaan dalam bentuk singkat.
Ambil!
d.      Kalimat minor judul. Judul sebuah buku, puisi, artikel biasanya tidak merupakan sebuah kalimat penuh atau klausa. Judul ini pun sudah merupakan kalimat.
Siti Nurbaya
e.       Kalimat minor semboyan. Semboyan merupakan ungkapan ide secara tegas, tepat, dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan klausa.
Merdeka atau Mati
f.       Kalimat minor salam
Selamat malam!



2.      Kalimat minor berstruktur
Kalimat ini muncul sebagai pelengkap atau penyempurnaan kalimat utuh atau klausa sebelumnya dalam wacana. Kalimat berstruktur berdasarkan sumber penurunannya.
a.       Kalimat minor elips. Kalimat elips mengisi satu tagmen secara utuh yang diturunkan dari sebuah klausa tunggal.
Contoh:
(Ia menyaksikan pekerjaannya di kantor), lalu pulang
Namun, kalimat ini juga dapat digunakan secara situasional menjawab satu bagian dari kalimat dengan klausa tunggal.
Contoh:
(Anda sudah makan?) Sudah!
Selain itu, dapat berupa sebuah pemberitaan. Ia sebenarnya bagian dari sebuah klausa tunggal.
Contoh:
Kebakaran! (Ada kebakaran)
b.      Kalimat minor urutan, kalimat minor urutan mengandung struktur klausa, tetapi ia berdiri lanjutan dari klausa di depan. Kalimat minor urutan merupakan penurunan dari klausa setara. Kalimat jenis ini dapat dicirikan dengan partikel apabila, jadi, tambahan, pula, dan (di awal kalimat), juga.
Contoh:
Jadi, kita pun tahu.
c.       Kalimat minor marginal, kalimat minor marginal adalah sebuah kalimat dengan struktur klausa yang subordinatif. Ia diturunkan dari kalimat dengan klausa subordinatif. Contoh:
(mereka belum tentu dating.) karena hari hujan.




b.      Kalimat mayor
Kalimat ini sekurang-kurangnya memiliki fungsi subjek dan predikat. Dapat dikatakan pula bahwa unsur O dan K bersifat fakultatif (manasuka).
Contoh:
Pak Udin sudah tidur (di kamar)

2.5 Syarat Kalimat Efektif
    Menurut Ahmad Syaeful Rahman (2018:58) kalimat efektif harus memenuhipaling tidak enam syarat, yaitu adanya (1) kesatuan, (2) kepaduan, (3) keparalelan, (4) ketepatan, (5) kehematan, (6) kelogisan.
1.      Kesatuan
    Kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Dengan satu ide, kalimat boleh panjang atau pendek, menggabungkan lebih dari satu unsur pilihan, bahkan dapat mempetentangkan unsur pilihan yang satu dan yang lainnya asalkan ide atau gagasan kalimatnya satu. Artinya setiap kalimat hanya ada satu maksud utama penulis/pembicara, dan maksud itu harus dapat dikenali dan dipahami oleh pembaca/pendengar.
Contoh kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya:
Pembangunan gedung sekolah baru pihak yayasan dibantu oleh Dinas Pendidikan Pusat. (terdapat objek ganda dalam satu kalimat)
Contoh kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya:
Pihak yayasan dibantu oleh Dinas Pendidikan Pusat untuk membangun gedung baru.
2.      Kepaduan
     Kohersi adalah terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Yang termasuk unsur pembentuk kalimat fakta, frasa, klausa, tanda baca, dan fungsi sintaksis (S-P-O-Pel-K).
Contoh kalimat yang unsur-unsurnya tidak koheran:
Kepada setiap pengemudi mobil harus memilki surat izin mengemudi.
3.      Keparalelan
     Keparalelan atau kesejajaran adalah terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, sama pola, atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat. Umpamanya dalam sebuah perincian, jika unsur pertama menggunakan verba, unsur keduan dan seterusnya juga harus verba. Jika unsur pertama berbentuk nomina, unsur berikutnya juga harus berbentuk nomina.
Contoh kesejajaran yang salah:
Kegiatan di perpustakaan meliputi pembelian buku, membuat katalog, dan buku-buku diberi label.
Contoh kesejajaran atau paralisme yang benar:
Kegiatan diperpustakaan meliputi pembelian buku, pembuatan katalog, dan pelabelan buku.
4.      Ketepatan
Ketepatan adalah kesesuaian /kecocokan pemakaian unsur-unsur yang membentuk suatu kalimat sehingga tercipta pengertian yang bulat dan pasti. Diantara semua unsur yang berperan dalam pembentukan kalimat, harus diakui bahwa kata memegang peranan terpenting. Tanpa kata, kalimat tidak adak ada. Akan tetapi, perlu diingat ada kalanya kita harus memilih dengan akurat satu kata, satu frasa, satu idiom, satu tanda baca dari sekian pilihan demi terciptanya makna yang bulat dan pasti.
    Dalam praktik di lapangan baik dalam wacana lisan maupun wacana tulis, masih banyak pemakai bahasa yang mengbaikan masalah ketetapan pemakaian unsur-unsur pembentuk kalimat. Akibatnya kalimat yang dihasilkan pun tidak tinggi kualitasnya. Perhatikan contoh kasus dibawah ini.
Contoh penulisan kalimat yang tidsak memperhatikan faktor ketetapan:
Karyawan teladan itu memang tekun bekerja dari pagi sehingga petang. (salah satu pemakaian kata sehingga)
Contoh penulisan kalimat yang memperhatikan faktor ketetapan:
Karyawan teladan itu memang tekun bekerja dari pagi sampai petang.
5.      Kehematan
Disini berarti tidak memakai kata-kata mubazir, tidak mengulang subjek, tidak menjamakkan kata yang memang sudah berbentuk jamak. Dengan hemat kata, kalimat akan menjadi padat berisi.
Contoh kalimat yang tidak hemat kata:
Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri mahasiswa itu belajar sepanjang hari dari pagi sampai sore.
Contoh kalimat yang hemat kata:
Saya melihat sendiri mahasiswa itu belajar seharian.
6.      Kelogisan
    Kelogisan ialah terdapatnya arti kalimat yang logis/masuk akal. Logis dalam hal ini juga menuntut adanya pola pikir yang sistematis (runtut/teratur dalam perhitungan angka dan nomoran). Sebuah kalimat yang sudah benar strukturnya, sudah benar pula pemakaian tanda baca, kata, atau frasanya, dapat menjadi salah jika maknanya lemah dari segi logika berbahasa. Perhatikan contoh kalimat yang lemah dari segi logika berbahsa berikut ini:
Kambing sangat senang bermain hujan (padahal kambing trgolong binatang anti air)
Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki. (tidak ada hubungan tinggal di asrama putra dengan mempunyai anak laki-laki).
Tumpukan uang itu terdiri atas pecahan ribuan, ratusan, sepuluh ribuan, lima puluh ribuan, dua puluh ribuan (tidak runtut dalam rinci).

                                                                                                
           



BAB III
PENUTUP

1.1               Simpulan
Maka kesimpulan mengenai Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa, jelas, serta mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca. Intonasi fnal merupakan syarat penting dalam pembentukan sebuah kalimat ada empat, yaitu deklaratif, interogatif, imperatif, dan interjektif.
Berdasarkan fungsi dan peran gramatikalnya, ada enam tipe kalimat yang dapat dijadikan model pola kalimat dasar bahasa Indonesia, yaitu pola S-P, S-P-O, S-P-O-Pel, dan S-P-O-Ket. S – P terisi penuh karena keduanya wajib hadir dalam suatu kalimat, sedangkan O, Pel, dan Ket tidak penuh karena kehadirannya tidak menjadi wajib dalam suatu kalimat. Dengan adanya pola kalimat dasar ini, semua kalimat bahasa Indonesia unsur-unsur intinya dapat dimasukan ke dalam enam tipe itu.
Kalimat efektif harus memenuhi paling tidak enam syarat, yaitu adanya (1) kesatuan, (2) kepaduan, (3) keparalelan, (4) ketepatan, (5) kehematan, (6) kelogisan.

1.2               Saran
Pemahaman mengenai kalimat efektif perlu diperdalam lagi agar kita lebih mengerti dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini merupakan salah satu yang penting untuk dipahami baik itu oleh mahasiswa atau masyarakat luas. Diharapkan pada saat menulis karya ilmiah atau tugas lainnya diperhatikan langkah-langkahnya agar tidak terjadi kesalahan dalam kalimat. dan diharapkan agar mahasiswa dapat membedakan antara kalimat efektif dan kalimat tidak efektif.



DAFTAR PUSTAKA

Rahman, Ahmad Syaeful. 2018. Bahasa Indonesia Akademik; Melatih Hard Skills hingga Soft Skills. Bandung: Manggu Makmur Tanjung Lestari
Wijayanti, Sri Hapsari. 2018. Bahasa Indonesia Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah. Depok: Raja Grafindo Persada


Demikianlah makalah tentang kalimat efektif sudah saya postingkan untuk tugas  mata kuliah Bahasa Indonesia mudah-mudahan dapat  bermanfaat bagi para pembaca.
Advertisement
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top