Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Minggu, 20 Januari 2019

Makalah Islam Agama Keadilan dan Universal

Advertisement
Makalah Islam Agama Keadilan dan Universal - sahabat sejuta warna kali ini admin postingkan makalah islam agama keadilan dan universal silahkan simak dibawah ini.

“ISLAM AGAMA KEADILAN DAN UNIVERSAL”
BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Islam Agama Keadilan dan Universal
Islam merupakan agama terakhir diantara agama-agama besar yang ada di dunia. Selain itu Islam merupakan agama yang melingkupi segala-galanya dan mencakup sekalian agama yang sebelumnya. Menurut Dr. Zakiah Daradjat dalam bukunya yang berjudul Metodologi Pengajaran Agama Islam, posisi Islam terhadap agama-agama yang datang sebelumnya dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Dilihat dari ciri khas agama Islam yang paling menonjol, yaitu bahwa Islam menuruh para pemeluknya agar beriman dan mempercayai bahwa sekalian agama besar di dunia yang datang sebelumnya diturnkan dan diwahyukan oleh Allah. Hal ini tercaantum dalam al- Qur’an Surat Al- Baqarah ayat 4, 136, dan 285, yang menyuruh umat Islam mengakui agama- agama yang diturunkan sebelumnya sebagai bagian dari rukun iman. Dari ayat- ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa posisi Islam diantara agama-agama lainnya dari sudut pandang keyakinan adalah agama yang meyakini dan mempercayai adanya agama-agama lain yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya.
2.      Posisi Islam diantara agama-agama besar di dunia dapat pula dilihat dari ciri khas agama Islam yang membernya kedudukan istimewa diantara sekalian agama. Sebagaimana bentuk kesadaran yang lain, kesadaran dalam beragamapun berangsur- angsur mengalami kemajuan. Demikian pula wahyu tentang kebenaran agung yang diturunkan dari langit juga mengalami kemajuan, dan ini mencapai titik kesempurnaan dalam Islam.
3.      Posisi Islam diantara agama-agama besar di dunia dapat diliha dari peran yang dimainkannya. Dalam hubungan ini Islam memliki tugas besar, yaitu (a) mendatangkan perdamaian dunia dengan membentuk persadaraan diantara sekalian agama di dunia; (b) menghimpun segala kebenaran yang termuat di dalam agama sebelumnya; (c) memperbaiki kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh para penganut agama sebelumnya yang kemudian dimasukkan ke dalam agamanya itu; (d) mengajarkan kebenaran abadi yang sebelumnya tak pernah diajarkan, terhubung keadaan bangsa atau umat pada waku itu masih dalam tahap permulaan dari tingkat perkembangan mereka dan yang terakhir ialah memenuhi segala kebutuhan moral dan rohani bgi umat manusia yang selalu bergerak maju.
4.      Posisi Islam diantara agama-agama besar di dunia dapat diliha dari pembaruan di dalamnya. Dengan datangnya Islam agama memperoleh sesuatu yang baru. Dalam Islam agama harus diperlakukan sebagai ilmu yang didasarkan pada penaglaman universal umat manusia.
5.      Posisi Islam diantara agama-agama besar di dunia dapat dilihat dari sifat yang dimilki ajaran Islam, yaitu akomodatif dan ersuasif. Islam berupaya mengkomodir ajaran agama-agama masa lalu. Secara peruasif Islam melihat adanya hal-hal yang tidak disetejui dan harus dihilangkan , proses itu dilakukan dengan cra persuasi agar tidak menimbulkan permusuhan.
6.      Posisi Islam diantara agama-agama besar di dunia dapat dilihat dari ajaran moral atau akhlak yang mulia yang ada di dalamnya.

2.2  Islam Dalam Wacana Agama-Agama

Dalam studi keagamaan sering dibedakan antara kata religion dengan kata religiosity. Kata yang pertama,religion,yang biasa dialih bahasakan menjadi “agama”,pada mulanya lebih berkonotasi sebagai kata kerja,yang mencerminkan sikap keberagamaan atau kesalehan hidup bersadarkan nilai-nilai kehidupan. Sedangkan religiositas lebih mengarah pada kualitas penghayatan dan sikap hidup seseorang berdasarkan nilai-nilai keagamaan dan yang diyakininya.
Kebenaran dapat diperoleh dari dua sisi, yaitu kebenaran filosofis dan kebenaran sosiologis. Secara filosofis, kebenaran yang sebenernya adalah satu, tunggal dan tidak majemuk, yakni sesuai dengan realitas. Tetapi, pencapaian kebenaran pada setiap orang berbeda. Dalam konteks agama, semua agama—yahudi, kristen, islam, budha, hindu, termasuk aliran kepercayaan—ingin mencapai realitas tertinggi ( the ultimate reallity ).
Sisi kedua adalah sisi sosiologis. Ditinjau dari sisi siologis, proses pencapaian dan penerjemahan realitas tertinngi membuat claim tentang kebenaran menjadi berbeda. Islam mengatakan bahwa agamanyalah paling benar; begitu juga, kristen, yauhi, hindu,budha, dan aliran kepercayaan mengatakan demikian.
Dalam al-quran ‘terdapat tuntunan yang banyak membicarakan realitas tertinggi yang menunjukan bahwa ia, secara filosofis, tidak menirima kebenaran selainnya. Namun disisi lain (sosiologis), ia juga dengan sangat toleran menerima kehadiran keyakinan lain (lakun dinukum wa liy al-din). Atas dasar dua kebenaran tersebut, sebaiknya realitas tertinggi dijadikan ugeran atau patokan. Jika realitas tertinggi pada hakikatnya adalah satu, maka secara otomatis prinsip-prinsip filosofis yang digunakan semua agama adalah satu.
Tantangan yang dihadapi setiap agama sekarang ini sekurang-kurangnya ada tiga. Pertama, dalam menghadapi persoalan kontemporen yang ditandai disorientasi nilai dan degradasi moraliats, agama ditantang untuk tampil sebagai suara moral yang otentik. Keuda, agama harus menghapi kecenderungan pluralisme, mengolahnya dalam kerangka ’’ teologi’’ baru dan mewujudkannya dalam aksi-aksi kerjasama plural. Ketiga, agama tampil sebagai pelopor perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadilan.
Ketiga tantangan diatas menjadi lebih sulit dijawab karna beberapa faktor. Pertama, kemelut dalam masing-masing tubuh agama seringkali muncul kepermukaan. Sikap agresif yang berlebihan terhadap pemeluk agama lain sering merupakan ungkapan yang tidak disadari akibat ketegangan dalam tubuh agama itu sendiri. Kedua, paham tentang kemutlakan tuhan juga memudahkan orang untuk mengindentikkan kemutlakan itu dengan kemutlakan agamanya. Ketiga, keyakinan bahwa segala tindakan seperti diatas akan dibalas tuhan dengan pahala, menyebabkan kekerasan terhadap pemeluk agama lain justru dianggap sebagai bagian dari keutamaan moral – suatu ironi yang bukan saja kontradiktif, melainkan juga berbahay, baik bagi pemeluk agama lain maupun agamanya sendiri, sebab agama yang terus menerus tampil bertentangan dengan nurani kemanusiaan akan kehilangan kredibilitasnya. Keempat, dengan naik daunnya posisi agama dalam konstelasi peradaban kini, agamapun menjadi rawan ditunggangi kepentingan politik, ekonomi dan kultur kelompok-kelompok tertentu ataupun pribadi.
Disatu sisi agama diharapkan menjadi problem solver terhadap situasi yang di akibatkan oleh modernitas (teknik), sedangkan disisi lain, konflik antar agama bahkan intra agama belum berhasil diselesaikan. Oleh karna itu kita perlu mempelajari tipologi keberagaman.
Tipologi sikap keberagaman: eksklusivisme, inklusivisme, pluralisme, eklektivisme, dan universalisme. Kelima tipologi ini, masing-masing tidak terlepas atau terputus dari yang lain, dan tidak pula bersifat permanen; tetapi lebih dekat dikatakan sebagai sebuah kecenderungan.
Universalisme beranggapan bahwa pada dasarnya semua agama adalah satu dan sama. Hanya karna faktor historis-antropologis, agama kemudian tampil dalam format plural.

2.3  Signifikasi Studi Islam Yang Universal

Dari segi kebudayaan agama merupakan universal kultural. Salah satu prinsip teori fungsional menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya. Secara umum studi islam menjadi penting karena agama termasuk islam memerankan sejumlah peran dan fungsi dimasyarakat. Seperti hal nya di Indonesia,situasi keberagamaan cenderung menampilkan kondusi keberagamaan yang legalistik-komalistik. Agama harus dimanifestasikan dalam bentuk formal,sehingga muncul formalisme keagamaan yang lebih mementingkan bentuk daripada isi. Formalisme gejala keagamaan cenderung individualistik daripada kesalehan sosial mengakibatkan munculnya sikap kontra produktif seperti nepotisme, kolusi, dan korupsi (Atang, 2011:8).
Kesalahan kita sebagai umat Islam di Indonesia, adalah mengabaikan agama sebagai sistem etika dan moral yang relevan sebagai kehidupan manusia sebagai makhluk yang bermartabat dan berakal budi. Oleh karena itu, signifikansi studi Islam di Indonesia adalah mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat muslim Indonesia secara khusus, dan masyarakat beragama pada umumnya. Adapun perubahan yang diharapkan adalah format formalisme keagamaan Islam diubah menjadi format agama yang substantif. Sikap enkluvisme, diubah menjadi sikap universalisme yakni agama yang tidak mengabaikan nilai-nilai spritualitas dan kemanusiaan karena pada dasarnya agama diwahyukan.

2.4  Macam- Macam Karakteristik Ajaran Islam
Karakteristik ajaran Islam adalah sifat, watak, dan keadaan yang melekat pada pada ajaran Islam tersebut yang sekaligus dapat dikenai dan dirasakan manfaat dan dampaknya oleh mereka yang mengamalkan ajaran Islam tersebut. Menurut Nata (2011:114), macam-macam karakteristik ajaran Islam adalah :
1.      Komprehensif ( Al-Syumuliah)
Hal ini dapat dilihat dari segi kedudukannya atau perbandingannya dengan agama-agama samawi lainnya. Yakni ajaran Islam adalah ajaran agama yang terakhir yang melingkupi ajaran samawi yang lain. Diibaratkan jika Islam adalah suatu bangunan maka ajaran samawi lainnya diibaratkan sebagai lantainya, dindingnya, gentingnya, dan lain-lain. Iintinya ajaran Islam bersifat komprehensif yaitu ajaran Islam bersifat menyeluruh yang mencakup segala bidang dalam kehidupan manusia, serta menyempurnakan dan melengkapi ajaran gam- agama samawi sebelumnya. Hal ini termuat dalam Q.S al-Maidah ayat 3.
       دِينًا الْإِسْلَامَ لَكُمُ وَرَضِيتُ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَأَتْمَمْتُ دِينَكُمْ لَكُمْ  أَكْمَلْتُ  الْيَوْمَ
Artinya:
Pada hari itu telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagi agama bagi kamu. (Q.S. al-Maidah (5):3).
2.      Kritis
Karakter ajaran Ilam yang kritis dapat dilihat dari segi kedudukan ajaran Islam yang memiliki ciri lebih tinggi dibandingkan dengan ajaran-ajaran samawi yang diturunkan sebelumnya. Dengan berpegang pada ajaran Islam ini, maka dapat diketahui berbagai kekeliruan yang pernah dibuat sebagian penganut agama-agama terdahulu sebelum Islam.
3.      Humanis
Karakter tersebut dapat dilihat dari upaya Islam dalam melindungi HAM ( Hak Asasi Manusia). Hal ini sejalan dengan Visi dan tujuan Islam yaitu, bahwa ajaran Islam memiliki ciri tidak hanya menyejahterakan kehidupan dunia  atau akhirat saja, tetapi menyejahterakan dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, individual dan social, lahir dan batin, tidak hanya bersifat local, nasional, namun bersifat universal atau internasional.
4.      Militansi moderat
Karakteristik militansi moderat ajaran Islam antara lain dapat dilihat dari segi sumbernya. Yakni ajaran Islam bukan hanya berpedoman pada Al–Qur’an dan Al – Sunnah (nomatif), melainkan berpedoman pada para ulama dan umara (ulu al-amri),peningglana sejarah, adat istiadat dan tradisi yang relevan, intuisi, serta berbagai temuan teori dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Khusus mengenai sumber Al – Qur’an, Al – Qur’an ini memiliki ciri sebagai berikut:
1.      Ada ayat yang mengandung ajaran yang bersifat pasti (qath’i al – adala) yang tidak membutuhkan interpretasi atau pemikiran manusia, yakni ajaran yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan hal yang berkaitan dengan akhlak. Yang berkaitan dengan akhlak misalnya hal yang berkaitan dengan rukun iman, rukun islam, dan hal yang berkaitan dengan akhlak seperti dilarang menyekutukan Tuhan dan larangan durhaka kepada orang tua. Jumlah ayat Al – Qur’an yang berkaitan dengan hukum qath’i hanya sedikit sekitar 30 saja.
2.      Al – Qur’an hanya memberikan isyarat – isyarat, prinsip atau garis besarnya saja, sedangkan dari segi penafsiran dan penjelasannya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Ayat Al – Qur’an yang seperti itu berkenaan dengan sistem ekonomi, politik dan ketatanegaraan, kemasyarakatan, pengembangan IPTEK, kebudayaan, peradaban dan sebagainya.
Dengan sifatnya yang demikian itu, maka ajaran islam akan dapat menyesuaikan diri dan merespon sebagai perkembanagn dalam masyarakat dengan tetap tidak melanggar atau tidak bertentangan dengan ajaran yang bersifat qath’i dan dengan sifatnya itu islam akan sesuai dengan perkembangan zaman.
5.      Dinamis
Islam adalah agama samawi yang diturunkan terakhir. Islam menjadi pedoman hidup umat manusia hingga akhir zaman. Karena kemajuan zaman saat ini, maka islam juga harus mengikuti dinamika saat ini. Diantara cara untuk menampung dianmika ini islam menyediakan peulang atau  space para ulam untuk melakukan reinterpretasi dan feformulasi terhadap ajaran islam tersebut, yakni dengaj menyediakan ayat – ayat Al – Qur’an yang bersifat interpretable (dzani al – adalah) yaitu ayat yang bersifat mutasyabihat.
6.      Toleran
Ajaran Islam yang toleran dapt dilihat dari sifatnya yang menyatakan bahwa agama yang paling benar disisi Allah alah islam. Namun pada kenyataan lain Islam menghormati eksistensi agama lain, dan sekaligus memberikan kesempatan pada agama ini untuk berkembang, dianut oleh umat manusia, bersikap toleran tidak menyalahkan atau mengolok – olok, serta agar hidup berdampingn dengan agama lain.
7.      Kosmopolit
Karakteristik kosmopolit dalam Islam dapat dilihat pada islam yang menjadikan seluruh umat manusia yang memiliki keragaman budaya, bahasa, tanah air, dan lainnya sebagar sasarannya. Islam bukan hanya untuk suatu tugas atau kelompok tertentu, melainkan untuk semua umat manusia.
Dengan karakternya yang kosmopolit ini maka Islam dapat mepersatukan dan mempersaudarakan seluruh umat manusia di dunia dengan dasar yang sangat kukuh, yakni iman dan takwa kepada Allah SWT. Karakteristikislam yang kosmopolit ini telah di praktikan islam dalam sejarah, yakni ketika umat Islam sedang berkuasa di Baghdad, Mesir dan lain – lian.
8.      Responsif
Karakteristik Islam yang responsif dapat dilihat dari awal kedatangan islam pertama kali yang sudah terlibat dengan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia.
9.      Progresif dan inovatif
Sebagai akibat dari peran dan fungsinya dalam menjawab berbagai masalh yang beraneka ragam dan selalu mengalami perkembengan baik dari segi jenis, bentuk, sifat maupun volumenya, maka ajarana islam harus senantiasa memperbarui dirinya diwaktu ke waktu supaya dengan pemikiran baru dan konseptaul dengan berbagai kehidupansupaya islam bisa akan ketinggalan zaman.
Sifat islam yang progresif telah terwujud dikalangan umat islam di zaman klasik yakni dengan melahirkan karya – karya inovasi dan orisinal dalam bidang ilmupengeteahuan, kebudayaan dan peradaban. Berbagai hal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia ini dihasilkan atas dorongan ajaran islam yang berisfat progresif dan inovatif, situasi dan kondisi masyarakat yang aman dan stabil, serta adanya berbagai kebuthan hidup yang bersifat pragmatis.
10.  Rasioanal
Ajaran islam sebgaimana terdapat dalam Al –Qur’an dan Hadits selain memuat perintah juga larangan. Seluruh perintah Allah seperti sholat, puasa, zakat dan naik haji sejalan dengan akal pikiran kebutuhan manusia yang bersifat spiritual dan moral. Dengan menjalankan semua perintah ini selai manusia akan mendapatkan ketengana jiwa, juga kehidupan yang llurus dan berakhlak mulia sebagai suatu syarat guna mewujudkan keadaan masyarakat yang rukun, damai, tertib, harmonis, tolong menolong, dan sebagainya. Demikian pula dengan adanya larangan dari Allah swt, larangan nya bila dikerjakan akan menjadikan suatu kerugian bagi orang yang melakukannya. Dengan demikian ajaran islam dalam bentuk perintah dan larangan ini sejalan dengan akal manusia.
Selain itu, ajaran Al – Qur’an juga sebagoian besar bersifat global dan isyarat – isyarat yang bersifatb umu yang apabila ingin dilaksanakan maka membutuhkan pemikiran atau ijtihad manusia untuk menjabarkan dan merinci dan menentukan cara – caranya.
11.  Keadilan
Dapat diartikan sebagai sebuah perlakuan seseorang atas orang lain yang didasarkan atas perasaan memberikan kesempatan yang sama, seimbang, proporsional, sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawab. Atau dengan kata lain keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Prinsip keadilan dalam Islam ini merupakan perekat, pemersatu, dan penyeimbang antara berbagai tindakan dan perbuatan yang dilakukan manusia,yang memungkinkan setiap orang akan dapat menerimanya dengan rasa puas. Islam agama yang mengedepankan keadilan, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya baik dalam kehidupan manusia sesame agama maupun dengan yang berbeda agama. Karena demikian pentingnya berlaku adil, maka Islam merupakan agama pembawa keadilan yang sesungguhnya.

Demikianlah yang saya bagikan mengenai islam agama keadilan dan universal semoga bermanfaat.
Advertisement
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top