Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Sabtu, 19 Januari 2019

Makalah Tauhid Rububiyah

Advertisement
Makalah Tauhid Rububiyah - sahabat sejuta warna kali ini saya postingkan materi ilmu teuhid tentang macam tauhid yaitu tauhid rububiyah silahkan disimak dibawah ini.

TAUHID RUBUBIYYAH

21.Pengertian Tauhid

Di dalam bahasa arab, tauhid adalah mashdar dari kata وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا yang berarti mengesakan. Adapun menurut istilah, tauhid adalah “meyakini akan ke-esa-an Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam rububiyah (penciptaan, pemeliharaan, pemilikan), uluhiyyah (ikhlas beribadah kepadaNya) dan dalam Al-Asmaa wash-shifaat (nama-nama dan sifat)-Nya“. Dan tauhid apabila dimutlakkan, maka maknanya adalah memurnikan seluruh peribadatan hanya untuk Allah ta’ala.
Seorang muslim wajib mengimani akan keesaaan Allah ta’ala dan bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah ta’ala, adapun kalimat Tauhid itu sendiri maka yang dimaksud ialah La ilaha illah yang berarti tidak ada yang berhak disembah selain Allah, di dalam al-Quran Allah ta’ala berfirman :
“Dan tuhan kamu adalah tuhan yang Maha Esa, tidak ada tuhan selai Dia, yang Maha pengasih, Maha penyayang”. (QS. Al-Baqarah: 163)
Dari pengertian Tauhid menurut istilah yang telah kita ketahui bersama, maka kita telah mengetahui bahwa Tauhid terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Tauhid Rububiyyah
2. Tauhid Uluhiyyah
3. Tauhid Asma’ wa Shifat

2.2 Pengertian Tauhid Rububiyyah

Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
 “Allah Pencipta sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu ” (Az-Zumar: 62)
Bahwasanya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya. Dan bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatu. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang menghidupkan dan Yang mematikan.
Allah yang merencanakan penciptaan, kekuasaan, pengaturan suatu kejadian atau penciptaan sebut saja proses seekor nyamuk dari sebelum ada, akan menjadi ada, setelah ada Allah mengatur kehidupan, habitat nyamuk apa yang akan dimakannya, kemana ia akan terbang berapa jumlah jatah makanan detik ini, dengan nyamuk mana ia akan kawin, Allah yang memberi tahukan atau memberi petunjuk ke mana ia akan mencari makanan, bagaimana bentuk, rupa warna, bau makanannya dan berapa jumlah makanan yang akan di dapatnya Allah yang memaklumkan yang memberitahukan, mengajar, mendidik nyamuk tersebut, dan menentukan berapa telur yang akan dihasilkannya, mengatur keturunannya seterusnya-seterusnya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
 “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)” (Hud: 6)
Allah Maha Pencipta segala sesuatu, Mencipta segala sesuatu menjadi nyata, segala sesuatu menjadi berbeda, segala sesuatu menjadi berupa-rupa, segala sesuatu menjadi nyata warna-warninya, terang, gelap, kabur, samar-samar dan sampai tak terlihat sama sekali, karena Allah menciptakan sesuatu menjadi nyata, maka Allah itu secara hakikat sebenarnya atau sesungguhnya lebih nyata dari segala sesuatu.

2.3 Dalil Tauhid Rububiyyah
Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dilakukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta bahwasanya Dia adalah Raja, Penguasa, dan Yang mengatur segala sesuatu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [Al-A’raaf: 54]
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ
“…Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah Rabb-mu, milik- Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” [Faathir: 13]
Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah yang menciptakan segala sesuatu.” [Az-Zumar: 62]
Bahwasanya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya.
Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.” [Huud: 6]
Dan bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatu, Pengatur adanya siang dan malam, Yang menghidupkan dan Yang mematikan.
Allah menyatakan pula tentang keesaan-Nya dalam Rububiyyah-Nya atas segala alam semesta. Firman Allah Ta’ala:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah Rabb (Penguasa) semesta alam.” [Al-Faatihah :2]
Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap Rububiyyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah pun mengakui keesaan dan sifat Rububiyyah-Nya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ
“Katakanlah, ‘Siapakah Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah , ‘Maka mengapa kamu tidak bertaqwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi dan tidak ada yang dapat dilindungi dari-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian) maka dari jalan manakah kamu ditipu?” [Al-Mu’-minun: 86-89].

2.4Sikap Jahiliah Dalam Tauhid Rububiyyah
Sikap Jahiliyah dalam Tauhid Rububiyah,Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu.


2.5 Hukum Mempelajari Tauhid Rububiyyah

Mempelajari ilmu tauhid rubbubiyah biasanya didorong oleh keinginan untuk mempelajari lebih banyak dan lebih dalam pengertian tentang Tuhan dan apa – apa yang diciptakan Tuhan. Kalau tauhid sudah masuk dan meresap kedalam jiwa seseorang maka didalam jiwanya akan tumbuh perasaan:
a)    Rela atas pemberian Allah atas dirinya mengenai rizki, kedudukan, dan lain-lain.   Dengan demikian maka hidupnya menjadi tertib sebab dia yakin atas pengawasan Allah terhadap segala perilakunya.
b.   Rasa saling menghargai, sebab orang yang bertauhid memandang semua manusia sama derajatnya, berasal dari satu keturunan dan tidak ada yang berhak diperhamba. Semua manusia hanya didikuti amal kebijakannya disisi Allah SWT, dan bertanggung jawab kepada-Nya.
c.    Rasa kasih sayang terhadap sesama manusia. Orang bertauhid memandang semua manusia saudara, tidak bertindak aniaya terhadap semua mahluk Tuhan. Ummat bertauhid hidup berdasar peri kemanusiaan dan persaudaraan, selalu bersikap terbuka, kerja sama, dan bergotong royong.
Jadi jelas, Jika kita mempelajari secara mendalam arti dari Tauhid Rububiyah dan kemudian tumbuh dalam jiwa kita, maka akan keluarlah dari benih-benih tauhid itu pohon yang rindang yang dapat digunakan untuk berlindung diwaktu panas dan hujan, serta buahnya juga sedap dimakan (Risalah Tauhid, 1963).

2.6Perbedaan Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyah

1.Perbedaan akar kata
Kata rububiyah diambil dari salah satu nama Allah, yaitu Rabb, sedang kata uluhiyah diambil dari akar kata Ilah.
2.Terkait dengan masalah-masalah kauniyah (alam) seperti:
Dalam Tauhid Rububiyyah menjelaskan bahwa Allah SWT lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan dan semacamnya. Sedang tauhid uluhiyah terkait dengan perintah dan larangan, seperti: wajib, haram, makruh dan lain-lain.
3.         Kaum Musyrikin meyakini kebenaran tauhid rububiyah tetapi menolak mengakui tauhid uluhiyah. Allah SWT dalam firman-Nya surat az-Zumar ayat  3 :
“ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Qs az-Zumar: 3)
4.         Substansi tauhid rububiyah bersifat ilmiah (pengetahuan) sedang  substansi tauhid uluhiyah bersifat amaliah (aplikatif)
5. Tauhid uluhiyah adalah konsekuensi pengakuan terhadap tauhid rububiyah. Maksudnya, tauhid  uluhiyah itu berada di luar tauhid rububiyah, tetapi tauhid rububiyah tidak dianggap teraplikasi dengan benar kecuali bila ditidaklanjuti dengan tauhid uluhiyah. Dan bahwa tauhid uluhiyah sekaligus mengandung pengakuan atas tauhid rububiyah dalam artian bahwa tauhid rububiyah merupakan bagian dari tauhid uluhiyah.
6.         Tidak semua yang beriman pada tauhid rububiyah secara otomatis menjadi Muslim, tetapi semua yang beriman pada tauhid uluhiyah otomatis menjadi Muslim.
7.         Tauhid rububiyah adalah pengesaan Allah SWT dengan perbuatan-perbuatan-Nya sendiri, seperti mengesakan Dia sebagai Pencipta dan semacamnya. Sedang tauhid uluhiyah adalah pengesaan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, cinta, benci, rasa harap, rasa takut, rasa cemas dan semacamnya.  Karenanya tauhid uluhiyah sering pula disebut tauhid iradah dan thalab (kemauan dan permohonan). (Ibrahim Muhammad, Pengantar Studi Aqidah Islam hal: 152-160).
2.7 Makna Tauhid Rububiyyah
Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah. Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini.
Allah mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4)
Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyembahNya dan beribadah kepadaNya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba.

Maka sangat tidak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah den­gan yang lainNya; dari benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya. Maka jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiya.

Demikianlah yang telah saya sampaikan mengenai makalah tauhid rububiyah semoga bermanfaat.
Advertisement
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top