Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Selasa, 26 Maret 2019

Ketika Sampai pada Titik Jenuh Kehidupan

Advertisement
Oleh : Rijal Habibulloh
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Menjalani hidup ini tidaklah mudah. tapi apapun yang terjadi harus kita lewati dengan ikhlas sepenuh hati sampai kita kembali kepada sang Ilahi. Akan ada saatnya kita sampai pada satu titik. Titik dimana kita merasa jenuh, merasa apa yang kita lakukan tidak lagi bermakna. merasa lelah dengan semua yang dilakukan. Ya, kita harus ingat setinggi apapun kita  berekspetasi, kita punya titik terendah. dimana jenuh, putus asa, keluh kesah, pastilah adanya.
Titik jenuh adalah dimana seseorang yang tidak mau tau atau merasa bosan dengan rutinitas yang sering dilakukan. Baik jenuh dalam kondisi yang dialami, jenuh dalam kegiatan sehari-hari, dan jenuh pada apapun yang biasa dilakukan. Antara depresi dan halusinasi, kita merasa serba salah dalam menghadapi ironi hidup ini. Saat fisik, emosional dan mental tertekan oleh semua keadaan yang menimpa kita. Itulah titik dimana kita seperti merasa ingin muntah karena semua seperti menimpa kita sekaligus. Ketika kita merasa sudah memberikan yang terbaik namun hasilnya masih tidak seperti yang kita harapkan, bahkan tidak menghasilkan apa-apa karena memang tidak ada yang berhasil selesai. Ketika semuanya ingin dikatakan dengan kata-kata pedas yang nyaris sudah terbentuk di ujung lidah namun masih menyadari bahwa jika kita lakukan hal itu hanya akan membuat situasi menjadi lebih parah. rasanya ingin merasakan sesuatu yang yang baru dan menarik di dunia ini. Kita merasa mulai lelah dengan segala masalah di dalam kehidupan yang ada. Dan ada kalanya kita merasa sendirian, merasa terlalu sepi. Merasa  tak bisa tertolong lagi. Hingga akhirnya kita berfikir bahwa semua yang ada di dekat kita mulai menemui perubahan dalam diri mereka masing-masing. Pada saat seperti itu kita hanya bisa pasrah dan berharap agar semuanya cepat berlalu dan kembali seperti biasanya. Tapi kenyataannya, semuanya telah berubah. Memang, Semua orang berhak atas apa yang mereka lakukan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan, satu hal yang tetap dan tidak akan berubah yakni perubahan itu sendiri. Perubahan adalah soal bagaimana kita bisa menerimanya, karena semuanya pastilah berjalan, bumi akan selalu berputar, perubahan itu pasti akan kita temui, dan itulah warna kehidupan.
Ketika rasa muak berbenturan dengan tanggung jawab dan akhlak, juga ketika rasa jenuh berbenturan dengan rasa butuh, ketika itulah kita merasakan sebuah dilema, dan belajar memang tidak mengenal usia. Setiap kali kita mengira satu masalah telah selesai dan kita telah mengambil hikmah dibaliknya, selalu saja ada pelajaran baru untuk kita jalani berikutnya. Semua kemudian berulang, namun dengan tingkatan yang lebih tinggi dan masalah yang biasanya semakin parah.
Titik jenuh adalah suatu hal yang wajar, semua orang akan sama mengalami hal tersebut hanya saja beda pada langkah yang diambil untuk melewati atau melawan titik jenuh tersebut. Bersyukur dan ikhlas adalah salah satu penyelesaian yang arif dan bijaksana, tidak mudah memang, karena memang sengaja Allah tidak menjadikannya mudah, karena Dia ingin kita berjuang untuk mencapainya. Saat mulai lelah berharap, cobalah berhenti dan mensyukuri apa yang sudah dipunyai, hidup akan terasa cukup, dan lebih bahagia. Saya percaya, ketika saya sampai di titik terparah dari sebuah masalah, pada akhirnya saya akan berhasil melalui semuanya, karena Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak tertanggungkan hamba-Nya.
"Allah, kami mohon ampun, kami telah lalai mengucap syukur pada-Mu, lupa akan nikmat dari-Mu, Ampuni kami.
Saat berada pada titik terjenuh dan jauh dari siapapun, kita hanya mempunyai Allah dan diri sendiri untuk membangun semangat diri kita sendiri. Bagaimanapun juga kekuatan terbesar lahir dari diri kita sendiri bukan oran lain.
Untukmu yang sedang berjuang menjalani kehidupan, teruslah melangkah dan jangan pernah berhenti. Teruslah melangkah dengan segala tenaga yang kau punya. Jalani setiap hidupmu dengan tanpa kata menyerah. Tanggalkan kata menyerah dan putus asa dari kamus hidupmu. Untukmu yang sedang merasakan lelah dalam perjuangan hidup, Kelelahan adalah hal yang wajar karena manusia memang tidak ada yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki titik jenuh yang akan membuat mereka mulai merasa lelah. Namun, lelah bukan alasan untuk berhenti. Prosesmu tidak boleh berhenti sampai di sana. Jadikan rasa lelahmu sebagai waktu untuk beristirahat sambil menyusun strategi berikutnya. Untukmu yang sedang menjalani proses yang menyakitkan, ingatlah tujuan awalmu. Jangan jadikan rasa sakit itu sebagai hal yang akan menghentikan perjuanganmu. Yakinlah bahwa semua itu adalah proses untuk menuju hidup dengan segala kebaikan yang hakiki. Yakinlah bahwa selalu ada terang setelah badai reda. Yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah menjadikan semua perjuangan menjadi sia-sia.
Ada saatnya nanti ketika semua proses menyakitkan ini akan digantikan dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah tergantikan lagi. Akan ada saatnya nanti ketika semua kekecewaan digantikan dengan kebahagiaan, hingga kau sendiri lupa apa itu rasa sakit. Saat ini yang kamu perlu hanya hati yang harus memahami lebih dalam, mata yang harus melihat lebih lama, telinga yang harus mendengar lebih sensitif, kaki yang harus berjalan lebih jauh, tangan yang harus berbuat lebih banyak, lapisan tekad yang harus lebih kuat dari baja, dan mulut yang harus berdoa lebih sering. Teruslah bertahan, jalani kehidupan dengan ikhlas. Tak perlu takut dengan bosan, hal itu adalah jalan menuju titik pembaharuan. Biarkan rasa kejenuhan karena bosan ini menyiksa dalam dirimu, agar kamu tahu betapa beharganya hidup ini buat dirimu dan orang lain. Karena hidup ini hanyalah sementara.

Wallahu a'lam bishowab. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Advertisement
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top