Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makalah Mental Wirausaha Syariah

 BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    LATAR BELAKANG

Ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagaimana firman Allah Swt (Artinya) : pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kecukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam sebagai agama bagimu, (QS. Al-Maidah 5: 3), oleh karenanya Islam adalah sebuah aturan, norma, pola hidup yang melingkupi kehidupan manusia dan menjadi pedoman dalam mengarungi kehidupannya yang selanjutnya pedoman itu dijabarkan dalam fiqh Islam. Sedang fiqh itu sendiri adalah suatu pola hidup yang ditawarkan Islam dalam bentuk pemahaman secara mendalam terhadap hukum dan ketentuan Allah untuk diaplikasikan dalam kehidupan manusia.

Adapun kewirausahaan dalam disiplin ilmu fiqh merupakan bagian pembahasan mu’amalah. Sedangkan perdagangan adalah bagian dari kegiatan kewirausahaan. Bila kita berbicara tentang kewirausahaan  menurut pandangan Islam, maka rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah teori-teori yang telah digambarkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah sebagai norma dan etika dalam berwirausaha khususnya dalam perdagangan.

Wirausaha adalah inovator, sebagai individu yang mempunyai naluri untuk melihat peluang-peluang, mempunyai semangat, kemampuan dan pikiran untuk menaklukan cara berpikir lamban dan malas. Untuk menjadi seorag wirausaha yang berhasil diperlukan sikap mental wirausaha yang mumpuni. Sikap mental wirausaha merupakan unsur penting sebagai dasar dan titik tolak mencapai hasil dalam perjuangan hidup.

Sikap mental merupakan elemen paling dasar yang perlu dijamin untuk selalu dalam keadaan baik. Unsur ini menentukan apakah orang menjadi sosok yang tinggi budi atau sebaliknya menjadi orang yang jahat dan culas. Orang baik budi merupakan kader pembangunan bangsa, sedangkan orang jahat akan menjadi beban masyarakat dari bangsa itu sendiri.

1.2    RUMUSAN MASALAH

1.     Jelaskan apa yang dimaksud dengan wirausaha syariah ?

2.     Jelaskan apa yang dimaksud dengan mental ?

3.     Jelaskan mengenai sikap dan mental kewirausahaan?

4.     Jelaskan mengenai hambatan dalam pengembangan mental wirausaha syariah ?

5.     Jelaskan hambatan dalam membangun mental wirausaha syariah ?

1.3    TUJUAN PENULISAN

1.     Menjelaskan apa yang dimaksud dengan wirausaha syariah

2.     Menjelaskan apa yang dimaksud dengan mental

3.     Menjelaskan mengenai Islam dan Mental kewirausahaan

4.     Menjelaskan mengenai hambatan dalam pengembangan mental wirausaha syariah

5.     Menjelaskan hambatan dalam membangun mental wirausaha syariah

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN WIRAUSAHA SYARIAH

Islam sebagai suatu agama yang besar di dunia ini jelas memiliki pandangan yang postif terhadap enterpreneuratau wirausaha. Maka sebelum itu perlu dipahami dulu apa itu wirausaha. Wirausaha yang berasal dari kata wira yang berarti mulia, luhur, unggul, gagah berani, utama, teladan dan pemuka; dan usaha yang berarti kegiatan dengan mengerahkan segenap tenaga dan pikiran, pekerjaan, daya upaya, ikhtiar, dan kerajinan bekerja. Pengertian Kewirausahaan (Inggris: Enterpreneurship) atau wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.[1]

Kewirausahaan dan perdagangan dalam pandangan Islam merupakan aspek kehidupan yang dikelompokkan ke dalam masalah muamalah. Masalah yang erat kaitannya dengan hubungan yang bersifat horisontal, yaitu hubungan antar manusia yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang lebih baik serta diperintahkan untuk berusaha mencari rizki. Dalam mencari rizki maka harus mencari pintu yang terbuka lebar dan jumlah yang banyak. Pintu rizki yang banyak dan terbuka lebar adalah melalui kewirausahaan.[2]

Kewirausahaan dalam Islam merupakan suatu ibadah yang akan mendapatkan pahala apabila dilaksanakan. Wirausaha salah satu jalan bagi umat Islam untuk melakukan aktivitas bisnis dan bertransaksi konsep dan tata caranya sudah diatur daam Al-Quran dan Hadits. Al-Quran sebagai panduan hidup manusia, memberikan pedoman syariah bagi para enterpreneur untuk bekerja dan cara manusia memandang Tuhan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra, Nabi Muhammad saw  bersabda:[3]

pedagang yang jujur dan dapat dipercaya (penuh amanat) adalah bersama para nabi, orang-orang yang membenarkan risalah nabi dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi, Kitab Al-Buyu’ Bab Ma Ja-a Fit Tijaroti no. 1130).

Dalam sebuah ayat Al-Quran pada surat Al-Jumu’ah, ayat ke 10, yang menyatakan:

‘apabila shalat telah dilaksanakan, maka berteberanlah kamu di bumi, crilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

Maka berdasarkan tuntutan dari Al-Quran dan Hadits diatas sangat sempurna untuk menjadi panduan dan bekal syar’i umat Islam dalam menjalankan bisnis. Dalam Islam bisnis dapat dipahami sebagai serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuk yang tidak dibatasi cara perolehan dan pendayagunaan hartanya (ada aturan halal dan haram). Konsep dan nilai berwirausaha secara Islami harus tetap berlandaskan pada ajaran Al-Quran dan Hadits sebagai wujud ketaatan dan rasa tanggunjawab kepada Allah SWT. Dalam menjalankan wirausaha sejatinya tidak lepas dari pertolongan dan petunjuk Allah SWT. Selain konsep berwirausaha dalam Islam, juga harus mengenal konsep dalam hal melakukan transaksi ekonomi yang halal sesuai dengan konsep syariat Islam. Dan untuk menunjang itu semua maka diperlukan juga mental wirausaha Islam yang baik agar kegiatan berwirausaha dapat dijalankan dengan baik dan benar.[4]

2.2  DEFINISI MENTAL

Secara etimologi kata “mental” berasal dari bahasa Yunani, yang mempunyai arti sama dengan psyche, artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. James Draver memaknai mental yaitu ‘revering to the mind” maksudnya dalah sesuatu yang berhubungan dengan pikiran atau pikiran itu sendiri. Secara sederhana mental dapat dipahami sebagai sesuatu yang berhubungan dengan batin dan watak atau karakter, tidak bersifat jasmani (badan).

Kata mental diambil dari bahasa Latin yaitu dari kata mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Dengan demikian mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Setiap perilaku dan ekspresi gerak-gerik individu merupakan doronga dan cerminan dari kondisi (suasana) mental.

Sedangkan secara terminologi para ahli kejiwaan maupun ahli psikologi ada perbedaan dalam mendefinisikan “mental”. Salah satunya sebagaimana dikemukakan oleh Al-Quusy (1970) yang dikutip oleh Hasan Langgulung, mendefinisikan mental adalah paduan secara menyeluruh  antara berbagai fungsi-fungsi psikologis dengan kemampuan menghadapi krisis-krisis psiologis yang menimpa manusia yang dapat berpengaruh terhadap emosi dan dari emosi ini akan mempengaruhi pada kondisis mental.

Dapat disimpulka bahwa mental itu terkait dengan akal (pikiran/rasio), jiwa, hati (qalbu), dan etika (moral) serta tingkah laku. Satu kesatuan tersebut yang membentuk mentalitas atau kepribadian (citra diri). Citra diri baik dan jelek tergantung pada mentalitas yang dibuatnya.[5]

 

 

2.3 SIKAP DAN MENTAL WIRAUSAHA

Sikap mental wirausaha merupakan unsure penting sebagai dasar dan titik tolak mencapai hasil dalam perjuangan hidup. Pembinaan mental da keprivadian ini dapat dikatakan lebih menitik beratkan membedah pada “tenaga dalam”, seperti kejujuran, ketekunan, keuletan, kemauan, tanggung jawab, percaya diri, rajin berdaya upaya, tidak lekas putus asa, pemikiran dari diri endiri, tidak mengharap belas kasihan, lebih banyak berfikir dan berbuat kreatif.

Kepribadian adalah keseluruhan dari sifat-sifat jasmani, pikiran, jiwa dan watak seseorang sehingga membedakan seseorang dari yang lain. Suatu kepribadian yang baik adalah suatu kekuatan yang dapat menciptakan sesuatu yang menakjubkan. Kepribadian merupakan nilai tertinggi bagi wirausaha yang sukses karena itu bila ingin mencapai sukses sebagai wirausaha maka harus memiliki kepribadian yang baik.

Karena itu perlu selalu diusahakan[6]:

1.     Mengembangkan persahabatan dengan siapapun.

Supaya mempunyai sikap tekun, teguh sehingga menjadi pendorong yang ampuh dalam mencapai sasaran.

2.     Pergaulan yang bermanfaat.

Bersikap wajar, membiasakan diri, perbuatan yang baik, bersikap hangat dan menghormati orang lain.

3.     Perlu selalu dibina kepribadian yang menarik dan menyenangkan. Kembangkan sikap yang membuat orang percaya kepada diri anda.

Adapun karakteristik wirausahayang sangat menonjol dan yang harus dimiliki oleh pebisnis atau wirausahawan adalah sebagai berikut:

1.     Proaktif

Proaktif adalah suka mencari informasi yang ada berhubungan dengan usaha yang digeluti. Misalnya adalah ada pesaing baru yang memasarkan produk yang sejenis, jadi agar dapat membuat strategi untuk menghadapi persaingan maka ia perlu tahu lebih dahulu apa saja kelebihan dan kekurangan produk baru itu. Dengan bahan informasi yang ia dapatkan maka ia akan tahu bagaimana menyusun strategi untuk menghadapi persaingan pasar.

2.     Produktif

Salah satu kunci untuk suskses adalah selalu ingin mengeluarkan uang untuk hal-hal yang produkif. Tidak sembarang mengeluarkan uang, teliti, cermat, dan penuh dengan perhitungan dalam memutuskan pengeluaran. Dan mementingkan mengeluarkan uang untuk hal yang produktif daripada yang produktif daripada yang bersifa konsumtif. Dengan cara demikian, tidak  mustahil bagi seorang wirausaha jika sumber penghasilannya tidak hanya dari satu pintu, tetapi bisa dari berbagai pintu (multi income)

3.     Pemberdaya

Seorang wirausaha adalah pemberdaya atau  memberdayakan orang lain. Seorang wirausaha sejati biasanya sangat mengerti manajemen bagaimana menangani pekerjaan dengan membagi habis dan memperdayakn orang lain yang ada dalam pembinaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian, disis lain tujuan bisnis tercapai, disisi lai karyawannya juga mendapatkan pengalaman.

4.     Tangan di Atas

Sebagai entrepreneur yang berbasis syariah umumnya memiliki karakter tangan diatas (suka member). Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memperbanyak sedekah.

Seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. dalam salah sau haditsnya “Tangan di atas lebih mlai dari tangan di bawah.”

Dan banyak sekali di Al-Quran yang menyebutkan perintah berdekah atau berinfak.

Salah satunya adalah Q.S Al-Baqarah ayat 274:

Artinya: “Orang-orang yang meninfakkan hartanya di waktu malam dan siang secara sembunyi dan terang-terangan maka mereka mendapat pahala dari Tuhannya. Maka tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak ada berduka cita bagi mereka.”

5.     Takwa

Seorang muslim dalam berbisnis harus selalu mengingat Allah dalam aktifitas mereka. Memiliki kesadaran penuh untuk dapat responsive terhadap prioritas-prioritas yang telah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa. Kesadaran akan Allah ini hendaklah menjadi sebuah kekuatan pemicu dalam segala tindakan. Semua kegiatan transaksi bisnis hendaklah ditujukan untuk hidup yang lebih mulia. Dalam hal bisnis, nilai religious hadir di kala melakukan transaksi bisnis, selalu mengingat kebesaran Allah dan menyadari bahwa apapun eberhasilan yang diiliki merupakan ada kekuatan Allah yang membantunya. Dan dapat terbebas dari sifat-sifat kecurangan, kebohongan, kesombongan, kelicikan, dan penipuan. Sehingga tidak seperti karun yang membanggakan diri dan mengaku semua kekayaan yang dimilikinya adalah hasil kerja keras dan kecerdasannya. Yang djelaskan di dalam Q.S Al-Baqarah ayat 78:

Artinya: “Dia (Karun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu, semata-mata karena ilmu yang ada padaku.”Tidaklah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuar daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.”

6.     Amanah

Amanah adalah dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Dalam menjalankan roda bisnis, setiap pebinis harus bertanggung jawab atas usaha dan pekerjaan atau jabatan yang telah dipilihnya. Tanggung jawab yang dimaksud adalah mau dan mampu menjaga amanah (kepercayaan) masyarakat.

Nilai transaksi yang penting dalam bisnis adalah al-amanah (kejujuran). Kejujruan merupakan puncak moralitas iman dari orang yang beriman, bahkan kejujuran merupakan karakteristik para nabi. Oleh karena itu, sifat terpenting yang diridhai Allah kejujuran.

7.     Keadilan

Salah satu prinsip dalam bisnis yang harus diterapkan adalah sikap adil. Implementasi sikap adil dalam bisnis merupakan hal yang berat.

Yang dimaksud keadilan dalam wirausaha adalah kebijakan upah bagi karyawan. Tujuan utama pemberian upah adalah agar para pegawai mampu memenuhi segala kebtuhan pokok hidup mereka. Sehingga mereka tidak terdorong untuk melakukan tindakan yang tidak dibenarkan untuk sekedar memenuhi nafkah diri dan keluarganya (tidak korupsi)[7]

            Dalam kewirausahaan berbasis syariah, Allah menghendaki manusia bersikap cerdas dalam menyikapi kehidupan. Allah telah menyediakan dan memudahkan ala mini bagi manusia. Allah juga telah menganugerahi manusia potensi berupa berbagai emampuan mengelola dan mengatur alam. Manusia cerdas adalah manusia yang pandai memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan fsik dan psikisnya seraya tetap mengharapkan Ridha Allah SWT. Allah berfirman dalam Q.S Yunus (100):

            Artinya : ”Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”

            Allah SWT menginginkan manusia hidup dalam kemaslahatan dan kebaikan. Bahkan Allah telah berjanji, bagi manusia yang hidupnya dipenuhi dengan prestasi-prestasi kebaikan.

            Tuhan telah menyiapkan baginya kehidupan yang baik bagaimana dinyatakan dalam Q.S An-Nahl (97): “

Artinya: “Barangsiapa yang mengajarkan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesngguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

            Artinya dalam berwirausaha sifat fathanah adalah bahwa semua kegiatan-kegiatan dalam suatu perusahaan harus dilakukan degan kecerdasan, dngan memanfaatkan potensi akan dan pikiran yang ada untuk mencapai tujuan. Memiliki sifat jujur, benar, dan bertanggung jawab tidak cukup dalam mengelola bisnis secara professional. Para pelak wirausaha juga harus memiliki sifat fathanah, yaitu sifat cerdas, cerdik, dan bijasana agar usahanya lebih efektif dan efisien.

            Wirausaha cerdas harus selalu melatih diri dalam mengasah kecerdasan karena wirausaha diperlukan visi, kreativitas, ketekunan, inovasi dan kreativitas agar barang atau produk diterima oleh masyarakan sebagai pembeli karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sedangkan menurut Soesarsono dikutip berwirausaha ada beberpa ada beberapa unsure-unsur penting yang harus dimiliki dalam berwirausaha. Salah satunya yaitu, Unsur Sikap Mental Maju (Afektif)[8]

            Untuk seorang muslim, sikap mental pada hakikatnya merupakan konsekuensi dari tauhid dan bah dari kemuslimannya dalam seluruh aktivitas kesehariannya. Identitas it tampak pada kepribadian seorang musim, yakni pada pola berpikir (aqliyah) dan pola bersikapnya (nafsiyyah) yang dilandaskan pada aqiqah Islam. Sikap mental dibutuhkan sebagai pola piker untuk mendorong produktivitas secara islami. Sikap mental maju di dorong oleh pola piker yang islami, sigap, cekatan, langsung dikerjakan.[9] Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-fussilat (33):

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataanya daripada oang yang menyeru kepada Allah, mengerjaan amal yang saleh dan berkata: “sesungguhnya aku termasuk orang-oang yang menyerah diri.”

2.4 HAMBATAN DALAM PENGEMBANGAN MENTAL WIRAUSAHAWAN

Dalam kenyataan apat dibaca bahwa upaya pengembangan spirit kewirausahawan akan mnghadapi berbagai kendala, antara lain sebagai berikut:

1.     Belum banyak lemabaga pendidikan yang secara konseptual mengembangan program-program kewirausahawa dan praktik kewirausahawan belum banyak dilakukan, kalaupun ada itu merupakan kegiatan yang bersifat spontan dan masih terbatas ada lembaga tertentu yang jumlahnya relative sedikit.

2.     Jumlah investasi belum kondusif, baik dalam perizinan, informasi usaha, jaringan usaha, dan sebagainya. Sehingga Wira Usaha Baru (WUB) sulit membaca peluang yang muncul. Dalam konteks ini, pemerintah paling bertanggung jawab untuk menciptakan iklim yag kondusifmelalui kebijakan yang longgar. Tetapi yang terjad adlah aturan yang ada acapkali tidak dilaksanakan secara konsekuen, karena bswysk terjadi in-efisiensi (berbagai pungutan liar) yang akhirnya menimbulkan high cost economc.

3.     Kultur masyarakat Indonesia yang hidup lama berada di bawah kekuasaan penjajah, telah menjadikan masarakat ini selalu dibayang-bayango oleh serba ketidakmampuan (hopeless). Penjajah Belanda bercokol selama 350 tahun telah menjauhkan dan menciptakan image yang seemikian menakutkan tentang wirausaha sehingga embuat masyarakat menjadi penuh ketergantungan (dependen), takut, tidak mampu, dan asing dari aktivitas wirausaha ini.

4.     Hambatan yang bersifat psikologis adalah suasana tidak secure (tidak berani bergandengan dengan orang lain, takut kehilangan kekuaaan, takut dibohongi, selalu memandang orang lain dari sudut dirinya sendiri).[10]

2.5 SIKAP MEMBANGUN MENTAL WIRAUSAHA SYARIAH

Pribadi rasulullah telah menjadi bukti nyata bahwa manusia adalah makhluk istimewa yang telah diciptakan Allah Swt. Sejak awal, potensi keistimewaan manusia telah terekam dalam dialog antara Allah dengan para malaikat-Nya. Begitu istimewanya manusia dalam pandangan tuhan, sampai sampai ketika kabar penciptaan Adam disampaikan-Nya kepada para malaikat secara implisit Allah menyebut bahwa banyak "rahasia" yang tidak diketahui para malaikat tersimpan dalam diri Adam. Salah satu rahasia yang disingkap Tuhan dalam dialog menunjukkan kelebihannya menyebut berbagai nama benda di alam yang tidak mampu dilakukan oleh malaikat. Sehingga Malaikat pun merasa manusia memang pantas menyandang gelar Khalifah Allah di muka bumi. Dialog tersebut dapat kita ikuti dalam Q.s. al- Baqarah 30-34. Yang artinya : 30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." 31. Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakan nya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang orang yang benar, 32.Mereka menjawab "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha  mengetahui lagi maha bijaksana”. 33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, allah berfirman : “bukanlah sudah ku katakana kepadamu, bahwa sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”. 34. Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat “sujudlah kamu kepada adam” maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Ayat di atas mengajarkan tiga poin penting jika seseorang ingin sukses. Pertama, untuk sukses seseorang harus memiliki keinginan (azam) dan etos kerja yang kuat. Kedua, memiliki ilmu dan keahlian yang memadai. Ketiga, berintegritas terhadap amanah yang telah ditetapkan Allah terhadapnya. I'tibar di atas memberi hikmah bahwa sepanjang manusia mau belajar dan mengembangkan potensi dirinya, maka akan semakin terbuka lebar “kotak pandora" dalam diri manusia yang akan tersingkap. Hal-hal luar biasa dan mencengangkan akan menyeruak dari beragam potensi yang ada dalam diri manusia. Setiap manusia punya potensi yang sama untuk sukses dalam dirinya. Hanya, saja bagaimana cara manusia menggunakan potensinya masing-masinglah yang membedakan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Potensi yang tersimpan dalam diri manusia bisa diterbitkan dan bakal mengubah orang orang biasa menjadi pribadi-pribadi luar biasa. Hanya saja diperlukan pengembangan “mental dan prilaku" entrepreneurship yang tepat untuk meledakkan potensi tersebut. Konon dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh amanah yang telah Carnegie Institute terhadap 10.000 orang, disimpulkan bahwa 15% kecemerlangan adalah akibat dari latihan teknis. Sementara 85% lainnya disebabkan oleh aspek kepribadian.

Membangun keinginan (azam) dan etos kerja yang kuat

1.   Percaya diri

Percaya diri merupakan mental yang sangat fundamental untuk dimiliki oleh setiap entrepreneur. Rasa percaya diri seorang entrepreneur dalam sudut pandang SBE tumbuh karena keyakinan yang kuat bahwa Allah tidak akan membiarkan dirinya berjuang sendiri menghadapi tantangan kehidupan. Setiap entrepreneur yang berbasis Shariah meyakini bahwa Allah senantiasa ada bersamanya, menolong, mendukung dan membelanya. Setiap entrepreneur wajib menyandarkan diri dengan segala upaya maksimalnya kepada Allah. Bukankah Allah telah menjanjikan bantuan, pertolongan, kemudahan dan jalan keluar dari berbagai keruwetan, kerumitan dan problematika kehidupan. Bahkan, Allah dalam Q.s. Ali Imran/3 ayat 139 menegaskan bahwa selama kita tetap beriman kepada Allah, meyakini kebaikan-kebaikan-Nya, maka tidak ada apapun yang dapat melemahkan dan membuat gundah hati kita dalam menjalankan usaha. “ Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.

Dalam Q.s. Al-Maidah/5: 16 ditegaskan bila manusia mau berpijak di Jalan Allah, pasrah pada petunjuk-Nya, merasakan kedahsyaratan kehadiran-Nya, maka Tuhan dengan rahmat-Nya akan membimbing dan menuntun manusia yang beriman menjadi pribadi yang sukses dan bahagia. Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

2.     Berjiwa istiqomah dan konsisten

Sangatlah penting bagi entrepreneur untuk memiliki jiwa yang istiqomah dan konsisten dalam menjalankan usaha. Allah dalam Q.s. al-Ahqaf/46:13-14 menegaskan yang artinya : 13. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", Kemudian mereka tetap istiqamah46 maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” 14.” Mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang Telah mereka kerjakan”.

Para entrepreneur yang menyandarkan diri dan upaya maksimalnya kepada Allah, harus tetap mempertahankan keyakinannya tersebut secara istiqomah dan konsisten. Dalam berwirausaha jiwa yang istiqomah dan konsisten akan melahirkan optimisme bahwa usaha yang dijalankan bakal sukses, kesediaan mengambil risiko dan tidak gampang menyerah menghadapi tantangan.

3.     Berfikiran positif

Islam mendorong setiap orang untuk senantiasa mengembangkan pola fikir positif (husnuzhon). Tuntunan untuk berfikir positif bisa difahami karena 1) boleh jadi sesuatu yang kita fikirkan pada kenyataannya tidak seperti yang kita bayangkan, 2) boleh jadi sesuatu itu memang sulit jika difikirkan, tapi begitu dijalani malah Tuhan memudahkan jalan bagi kita, 3) hati dan fikiran menjadi tenang karena seluruh energi di bawa ke arah positif.

Pola fikir positif diajarkan Tuhan salah satunya sebagai asbab nuzul surah adh-Dhuha. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa latar belakang turunnya surat ini adalah keterlambatan turunnya wahyu kepada Rasulullah Saw. Keadaan ini dirasakan berat oleh Rasul, sampaisampai ada yang mengatakan bahwa Muhammad Saw. telah ditinggalkan oleh Tuhan dan dibenci-Nya. Ayat ini kemudian turun memberikan arahan kepada Rasulullah SAW agar tetap berpikir positif kepada Allah SWT, dan tidak menduga-duga hal negatif atau hal buruk.

4.     Mampu memanfaatkan waktu

Segala sesuatu yang hilang masih dapat dicari gantinya kecuali waktu. Setiap orang diberikan Tuhan waktu yang sama, 24 jam sehari. Namun, bagaimana cara orang memanfaatkan waktunya masing-masing tentu berbeda-beda. Orang cerdas tentu sangat menghargai waktu, karena umur adalah modal manusia yang paling besar untuk berkarya di atas bumi ini. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawabkan bagaimana umurnya dihabiskan. Waktu adalah kehidupan. Waktu pasti berlalu seiring dengan berjalannya kehidupan.

Dalam memanfaatkan waktu, tanda-tanda orang sukses adalah tahu bagaimana memanfaatkan waktu secara positif dan tidak menunda-nunda kesempatan yang ada. Pemanfaatan waktu secara positif akan meningkatkan kualitas kehidupan. Sebaliknya, orang yang memanfaatkan waktunya secara sia-sia, bermalas malasan dan membuang-buang kesempatan yang ada akan menjauhkan orang dari kesuksesan dan menurunkan kualitas kehidupan seseorang. Bagi entrepreneur, waktu adalah peluang. Memanfaatkan tiap peluang yang ada merupakan jembatan menuju kesuksesan. Bahkan, seorang entrepreneur akan memiliki nilai lebih jika dia mampu menciptakan peluangnya sendiri.  Al-Qur’an banyak mengingatkan betapa pentingnya memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien. Ketidakmampuan memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien akan menjatuhkan setiap orang ke dalam kerugian. Dalam surah pendek yang sangat popular Q.s. Al-Ashr/103:1-3 ditegaskan, yang artinya : 1. “Demi masa.” 2.”Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, “3.”Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

a)   Berilmu dan berkeahlian

Membekali diri dengan ilmu dan keahlian (skill dan kompetensi) mutakhir merupakan langkah bijak untuk menghadapi peta persaingan di dunia usaha. Setelah memperkenalkan Adam sebagai khalifah-Nya di muka bumi kepada para Malaikat, Allahpun kemudian membekali Adam dengan ilmu dan keahlian mutakhir yang belum diketahui oleh para Malaikat. Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Q.s. al-Baqarah ayat 32).

Menuntut ilmu dan membekali diri dengan keahlian hukumnya fardhu. Tuhan menciptakan alam ini dengan segala dinamikanya. Hanya dengan membekali diri dengan ilmu dan keahlian sajalah manusia mampu mengantisipasi tantangan perobahan yang senantiasa terjadi. Dengan membekali diri dengan ilmu dan keahlian mutakhir, manusia tidak akan gagap dalam mengeksplorasi kehidupan. Kesempurnaan iman dan takwa tidak akan dapat tercapai tanpa adanya ilmu. Demikian pula potensi yang ada pada diri manusia tidak akan bersinar jika tidak diasah dengan ilmu. Orang-orang yang menguasai ilmu dan memiliki keahlian (skill dan kompetensi) dimuliakan Allah dan manusia di tempat yang terhormat. Allah dalam Q.s. al-Mujadalah ayat 11 pada artinya menyebutkan: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Untuk membangun diri menjadi pribadi yang berilmu dan berkeahlian dibutuhkan sejumlah mentalitas dan perilaku yang harus dibangun, yaitu:

1)    Memahami keunggulan dan potensi diri

Tuhan telah menciptakan diri kita sebagai makhluk istimewa. Bahkan dalam beberapa ayat al-Qur‟an Allah menyebut manusia sebagai sebaik-baik penciptaan dan makhluk terbaik. Maknanya, dalam diri manusia ada banyak potensi yang disediakan Allah. Tinggal manusia sendiri yang harus mengenali potensi dalam dirinya dan mengelolanya. Setiap orang haruslah mengenali kemampuannya, kelebihan-kelebihannya dan kelemahankelemahannya. Kemampuan untuk mengenal diri tentunya harus diikuti dengan meningkatkan kesadaran untuk meningkatkan kualitas diri dengan mengembangkan kelebihan yang dimiliki dan menghilangkan kekurangan diri.

Setiap orang punya tanggung jawab mengasah keahliannya (skill) sesuai dengan potensinya masingmasing. Setiap orang juga pasti punya minat, bakat dan hobbi masing-masing. Mengembangkan keahlian berbasis minat, bakat dan hobi juga merupakan salah satu cara mengelola potensi diri. Siapa tahu, lewat hobby dan kesenangan kita pada suatu bidang tertentu yang kita kuasai, maka jalan kesuksesan akan dibukakan Allah buat kita. Dalam Q.s. Bani Israil 17:48 pada artinya, Allah bahkan menegaskan, Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

b)  Berjiwa pembelajar

Tuhan telah menyempurnakan manusia dengan pendengaran, penglihatan, akal dan hati nurani sebagai media belajar. Dalam al-Qur‟an surah an-Nahl: 78 Allah menyebutkan dalam artinya:“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Tuhan juga telah menyuguhkan ayat-ayat-Nya (qauliyah yaitu al-Qur’an dan kawniyah yaitu alam semesta) untuk dibaca dan dieksplorasi oleh manusia. Rentang waktu untuk belajar manusia adalah hanya dibatasi oleh maut. Untuk itu, peningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang berilmu dan berkeahlian harus senantiasa dikembangkan dengan menumbukembangkan mental pembelajar. Orang harus mau belajar dari apa saja, siapa saja dan di mana saja. Salah satu pepatah popular juga mengingatkan kita “Pengalaman adalah guru yang paling bermanfaat.” Bahkan Al-Qur’an sendiri mendorong kita untuk mau belajar dari pengalaman untuk tidak terjatuh dalam kegagalan sebagaimana telah dialami oleh orang-orang yang tidak berpegang teguh pada kebenaran ilahi. Dalam Q.s. al-An‟am/6:11 pada artinya disebutkan, Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."

Pada prinsipnya, banyak cara bagi para entrepreneur untuk mengembangkan ilmu dan keahlian yang dimiliki asal mental pembelajar mau diasah. Belajar dan peningkatan keahlian bisa dilakukan lewat berbagam metode dan media. Belajar bisa dilakukan dengan praktik langsung (magang), bisa juga belajar dari pengalaman orang lain baik yang terkait dengan kesuksesan maupun penyebab kegagalannya, belajar dari mentor atau pembimbing memiliki ilmu dan keahlian yang bisa membantu pengembangan diri, dan bisa juga belajar dari Buku, seminar, internet dan televisi.

c)   Berwawasan keilmuan dalam berkarya

Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang mendorong manusia berkarya dengan mengoptimalkan potensi akal dan imannya.  Dengan potensi akal dan imannya itu, Allah juga mendorong manusia untuk mampu mempelajari dan memahami alam yang luas ini. Kemampuan manusia untuk memahami alam dengan mengoptimalkan potensi keilmuannya, tentunya akan meningkatkan kemampuan manusia untuk responsif terhadap dinamika dan tuntutan kehidupan.

Salah satu kunci sukses entrepreneur adalah kemampuannya berkarya dengan memanfaatkan wawasan keilmuan yang tersedia. Terjun ke dunia usaha dengan dilengkapi oleh wawasan keilmuan yang memadai tentu akan lebih meningkatkan kemungkinan untuk sukses menjadi lebih besar. Dalam Q.s. al-Anfal/8:60 Allah mengingatkan pentingnya mempersiapkan diri dengan bekal wawasan keilmuan dan teknologi yang memadai: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; …”

Ayat di atas bagi seorang entrepreneur bisa ditafsirkan sebagai perintah Allah untuk mempersiapkan diri dengan berbagai terobosan dan teknologi berbasis ilmu pengetahuan. Banyak sekali ilmu pengetahuan praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam mendukung kegiatan wirausaha. Teknologi tepat guna mampu memberikan nilai tambah (additional value) bagi nilai ekonomis suatu barang dan jasa.

Melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak nilai tambah yang bernilai ekonomis bisa dihasilkan oleh seorang entrepreneur. Penemuan penemuan sederhana yang membantu memudahkan pekerjaan orang lain tentu menjadi lapangan pekerjaan yang sangat menantang bagi tiap entrepreneur. Tentu saja, hanya orang-orang yang memiliki wawasan keilmuan dan teknologi sajalah yang mampu mengisi ruang potensial ini. Siapa sangka air mineral dari pegunungan bisa disulap menjadi industri air minum yang beromset miliaran rupiah karena sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan orang di tanah air.[11]

Setidaknya ada 6 mental sikap wirausaha yang harus dimiliki

a.   Mental ulet, tegar dan optimis

Ini salah satu modal utama dari sikap mental wirausaha jika ingin membangun bisnis yang sukses. Rasa optimisme tinggi, keuletan, dan ketegaran merupakan pondasi yang harus dibangun kali pertama.

b.   Inovatif dan kreatif

Mental ini sangat dibutuhkan agar bisnis Anda bisa sustain untuk jangka panjang. Mental ini terletak pada kemampuan ekspresi, eksplorasi, imajinasi, dalam dirinya.

c.   Multi tasking

Menjadi enterpreuner harus mampu melihat sesuatu dari perspektif berbeda dan dalam melihat itu diperlukan multi tasking (skil mengerjakan beberapa hal sekaligus)

d.     Pekerja keras

Sikap mental wirausaha yang satu ini sudah pasti wajib ada pada diri Anda jika ingin sukses membangun usaha. Bagi entrepreneur tidak ada istilah working hours (jam kerja).

e.   Hemat dan cermat

Biasakan untuk cermat dan hemat dalam penggunaan uang dalam usaha Anda tersebut. Keteledoran seseorang dalam hal keuangan, akan perlahan menjatuhkan usaha yang akan dibangunnya.

f.      Berani mengambil resiko

Kesempatan / peluang besar bahkan bersembunyi dibalik risiko yang besar pula. Jika hanya ingin main aman, tentu peluang mendapatkan keuntungan lebih besar akan mengecil.[12]

 


BAB III

PENUTUPAN

3.1 KESIMPULAN

Kata mental diambil dari bahasa Latin yaitu dari kata mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Dengan demikian mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Setiap perilaku dan ekspresi gerak-gerik individu merupakan doronga dan cerminan dari kondisi (suasana) mental. Secara etimologi kata “mental” berasal dari bahasa Yunani, yang mempunyai arti sama dengan psyche, artinya psikis, jiwa atau kejiwaan.

Sikap mental wirausaha merupakan unsure penting sebagai dasar dan titik tolak mencapai hasil dalam perjuangan hidup. Pembinaan mental da keprivadian ini dapat dikatakan lebih menitik beratkan membedah pada “tenaga dalam”, seperti kejujuran, ketekunan, keuletan, kemauan, tanggung jawab, percaya diri, rajin berdaya upaya, tidak lekas putus asa, pemikiran dari diri endiri, tidak mengharap belas kasihan, lebih banyak berfikir dan berbuat kreatif.

Kepribadian adalah keseluruhan dari sifat-sifat jasmani, pikiran, jiwa dan watak seseorang sehingga membedakan seseorang dari yang lain.

Dalam kenyataan apat dibaca bahwa upaya pengembangan spirit kewirausahawan akan mnghadapi berbagai kendala, antara lain sebagai berikut:

1.   Lembaga pendidikan kewirausahaan yg masih terbatas

2.   Jumlah investasi yang belum kondusif

3.   Kultur masyarakat Indonesia yang hidup lama berada di bawah kekuasaan penjajah

4.   Hambatan yang bersifat psikologis

Terdapat 3cara membangun mental usaha :

1.   Membangun keinginan (azam) dan etos kerja yang kuat

2.   Berilmu dan berkeahlian

3.   Berjiwa pembelajar

Terdapat  6 mental sikap wirausaha yang harus dimiliki

·     Mental ulet, tegar dan optimis

·     Inovatif dan kreatif

·     Multi tasking

·     Pekerja keras

·     Hemat dan cermat.

·     Berani mengambil resiko

Advertisement