Blog Tentang Bacaan Al Qur'an, Doa - Doa, Tata Cara Ibadah, Contoh Surat, Makalah, Skripsi, Proposal, Pidato, Puisi, Kata Mutiara dan Artikel.

Rabu, 28 Januari 2015

Balasan Bagi Orang Yang Tidak Mengagungkan Sunnah

Disegerakannya Balasan bagi Orang-orang yang Tidak Mengagungkan Sunnah


Sesungguhnya keyakinan yang menyatakan bahwa Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah Islam dan bahwasanya Islam yang murni adalah Sunnahnya, merupakan keyakinan yang shahih, yang selamat dan lurus. Sebagaimana perkataannya Al-Imam Al-Barbahariy dan disepakati oleh 'ulama Ahlus Sunnah: "Ketahuilah, bahwasanya Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam, dan tidak akan berdiri salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya." (Syarhus Sunnah hal.65). Setiap apa saja yang menyelisihi keyakinan tersebut, maka itu merupakan keyakinan yang rusak, yang salah, jahiliyyah dan kebinasaan.
Dan kewajiban kita, kaum muslimin adalah mengagungkan Sunnah tersebut, menghidupkannya, mendakwahkannya dan membelanya dari orang-orang yang membenci dan memusuhinya.
Allah Ta'ala memperingatkan kita agar jangan sampai menyelisihi perintah Rasulullah, dengan firman-Nya: "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa 'adzab yang pedih." (An-Nuur:63)
Rasulullah juga memperingatkan: "Barangsiapa yang membenci Sunnahku maka dia bukan dari golonganku." (Muttafaqun 'alaih dari Anas bin Malik)
Berikut ini, akan dipaparkan riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang disegerakannya balasan dan hukuman bagi orang-orang yang memperolok-olok, meremehkan dan tidak mengagungkan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Jangan Mendatangi Istri di Malam Hari!

Dari Ibnu 'Abbas dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mengetuk pintu para wanita (istri-istri) pada waktu malam hari."
Berkata (Ibnu 'Abbas): "Dan pada suatu saat Rasulullah (pernah) pulang dalam keadaan berkafilah, kemudian berjalanlah dua orang bersembunyi-sembunyi pulang kepada istrinya masing-masing, maka kedua orang tersebut mendapatkan seorang pria sedang bersama dengan istrinya." (Sunan Ad-Darimiy no.444; lihat juga hadits yang mirip dengan ini dalam Shahiih Al-Bukhaariy no.1800 & 1801, Shahiih Muslim no.1928; Al-Mu'jamul Kabiir, Ath-Thabraniy no.11626; Al-Mustadrak, Al-Hakim no.7798 dari 'Abdullah bin Rawahah; Sunan Ad-Darimiy no.445 dari Sa'id bin Al-Musayyab, pent.)
Berkata Al-Imam An-Nawawiy: "Adapun bila safarnya dekat, istrinya pun mengharapkan kedatangannya pada malam hari, maka pulang malam pun boleh. Begitu pula apabila telah ada informasi awal (melalui telpon, surat atau lainnya, pent.) yang memberitahu akan kedatangannya kepada istri dan keluarganya, hal ini pun tidak mengapa." (Syarh Shahiih Muslim 13/71-72, lihat Dhiyaa`us Saalikiin fii Ahkaam wa Aadaabil Musaafiriin, Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuriy)

Makanlah dengan Tangan Kanan!

Dari Salamah bin Al-Akwa', bahwasanya seseorang pernah makan di sisi Rasulullah dengan tangan kirinya. Maka beliau berkata: "Makanlah dengan tangan kananmu!" Orang itu berkata: "Saya tidak bisa." (Maka) beliau berkata: "Kamu tidak akan bisa." Tidak ada yang menghalangi orang tersebut (untuk makan dengan tangan kanannya) melainkan hanya kesombongan.
Berkata (Salamah bin Al-Akwa'): "Maka orang itu pun (akhirnya) tidak bisa mengangkat tangan (kanan)nya ke mulutnya." (HR. Muslim no.2021)

Jangan Memperolok-olokkan Hadits!

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tatkala seseorang berjalan dengan sombong di waktu pagi dan petang, maka Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, dia dalam keadaan terbolak-balik di dalamnya sampai hari kiamat." (Lihat juga hadits yang mirip dengan ini dalam Shahih Muslim no.2088; Musnad Abu 'Awwaanah I no.8565; Musnad Ahmad no.7074 dari 'Abdullah bin 'Amr, pent.)
Maka berkatalah seorang pemuda kepada Abu Hurairah: -telah disebutkan namanya- sedangkan pemuda tersebut dalam keadaan bergurau: "Wahai Abu Hurairah apakah seperti ini jalannya orang yang ditenggelamkan ke bumi itu (sambil menirukan gaya jalannya orang yang diceritakan dalam hadits tersebut, pent.)?"
Maka Abu Hurairah memukul orang tersebut dengan tangannya sehingga membekas yang hampir-hampir mematahkan tulangnya.
Kemudian Abu Hurairah berkata: Untuk hidung dan mulut (kata cercaan) (lalu membaca ayat): "Sesungguhnya Kami mencukupkan engkau balasan bagi orang yang suka mengolok-olok." (Al-Hijr:95). (Sunan Ad-Darimiy no.437)

Jangan Keluar dari Masjid setelah Adzan!

Dari 'Abdurrahman bin Harmalah dia berkata: "Telah datang seseorang kepada Sa'id bin Al-Musayyab untuk pamitan berhaji atau 'umrah. Maka (Sa'id bin Al-Musayyab) berkata kepada orang tersebut: "Janganlah engkau pergi sehingga engkau shalat terlebih dahulu, karena sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: "Tidaklah keluar dari masjid setelah panggilan (adzan) melainkan dia seorang munafiq, kecuali seseorang yang keperluannya menjadikan dia harus keluar, sedangkan dia berkeinginan untuk kembali lagi ke masjid tersebut!" Maka orang itu pun berkata: "Sesungguhnya teman-temanku telah berada (menungguku, pent.) di Al-Hurrah ?"
Berkata ('Abdurrahman): "Orang itu pun akhirnya keluar. Maka belum selesai Sa'id menyayangkan atas kepergian orang tersebut dengan menyebut-nyebutnya, tiba-tiba dikhabarkan bahwa orang tersebut telah terjatuh dari kendaraannya sehingga pahanya patah." (Sunan Ad-Darimiy no.446)

Akibat Buruk bagi Pengolok-olok Sunnah

Dari Abu Yahya As-Saajii dia berkata: "Kami berjalan di gang-gang Bashrah menuju ke rumah salah seorang Ahlul Hadits, maka aku mempercepat jalanku dan ada seseorang di antara kami yang jelek dalam agamanya, kemudian berkata: "Angkatlah kaki-kaki kalian dari sayap-sayapnya para Malaikat, jangan kalian mematahkannya", (seperti orang yang istihza`/memperolok-olok), maka (akhirnya) orang tersebut tidak bisa melangkah dari tempatnya sehingga kering kedua kakinya dan kemudian jatuh." (Bustaanul 'Aarifiin, Al-Imam An-Nawawiy hal.92)

Mencuci Kedua Tangan Setelah Bangun Tidur

Berkata Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il At-Taimiy: "Aku pernah membaca di dalam sebagian kisah-kisah, bahwasanya pernah ada seorang ahlul bid'ah tatkala mendengar sabda Nabi: "Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana sehingga dia mencucinya terlebih dahulu, karena dia tidak mengetahui di mana tangannya (semalam) bermalam!" (Muttafaqun 'alaih dari Abu Hurairah dan ini lafazh Muslim)
Maka ahlul bid'ah tersebut berkata -dengan cara mengejek-, "Aku mengetahui di mana tanganku bermalam di atas tempat tidur!!"
Maka ketika dia bangun (di pagi hari), tangannya sungguh telah masuk ke dalam duburnya sampai ke pergelangan tangannya."

Takutlah dari Memperolok-olok Sunnah!

Berkata At-Taimiy: "Hendaklah seseorang itu merasa takut untuk menganggap ringan terhadap Sunnah-sunnah serta tempat-tempat yang seharusnya dia itu tawaqquf (diam dan berhenti serta tidak mempermasalahkannya dengan akalnya, pent.). Maka lihatlah terhadap apa yang telah sampai kepada orang tersebut akibat dari jeleknya perbuatannya!" (Bustaanul 'Aarifiin, Al-Imam An-Nawawiy hal.94)
Meskipun jumhur 'ulama menyatakan bahwa hukum mencuci kedua tangan setelah bangun tidur (yaitu mencuci atau mengguyurkan kedua tangan dengan air sebelum mencelupkannya ke bejana) adalah mustahab, akan tetapi barangsiapa yang mengentengkan atau memperolok-olok sunnah tersebut maka bersiap-siaplah untuk menerima akibat yang jelek dari perbuatannya tersebut. Wallaahul Musta'aan.

Bertaubatlah sebelum Terlambat!

Berkata Al-Qadhiy Abu Thayyib: "Kami pernah berada di majelis "An-Nazhar" di Masjid Jami' Al-Manshur, maka tiba-tiba datanglah seorang pemuda Khurasan, kemudian bertanya tentang "Al-Mushrah", dia meminta dengan dalil-dalilnya, sampai akhirnya diberikan dalil dengan hadits Abu Hurairah yang meriwayatkan dan menjelaskan permasalahan tersebut, kemudian orang tersebut mengatakan: -sedangkan dia adalah orang yang hanif (cenderung kepada kebenaran)- "Abu Hurairah tidak bisa diterima haditsnya ...." Maka belum selesai orang itu dari perkataannya, tiba-tiba jatuh atas orang tersebut seekor ular yang besar dari atas atap masjid tersebut, sehingga manusia berlompatan dikarenakan ular tersebut dan pemuda itu pun lari darinya, sedangkan ular tersebut terus mengejarnya. Maka orang-orang mengatakan kepadanya: "Bertaubatlah, bertaubatlah!!" Dan pemuda itu pun berkata: "Aku bertaubat!" Maka akhirnya ular itu pun lenyap dan tidak terlihat bekas-bekasnya." (Siyar A'laamin Nubalaa` 2/618)
Berkata Al-Imam Adz-Dzahabiy: "Sanadnya adalah para imam."
Itulah beberapa riwayat yang tegas dan jelas tentang disegerakannya balasan bagi orang-orang yang meremehkan atau memperolok-olok Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, mudah-mudahan Allah menyelamatkan kita dari hal itu.
Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita orang-orang yang mencintai Sunnah Nabi-Nya, mengamalkannya, mengagungkannya, mendakwahkannya dan membelanya, aamiin.
Wallaahu a'lam.

Dinukil dari kitab Ta'zhiimus Sunnah karya 'Abdul Qayyum dengan beberapa tambahan.

Mencuri Pandang terhadap Akhwat

Hendaklah kita semua ingat bahwasanya Allah tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzaariyaat:56)
Kita beribadah kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan sebaik-baiknya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Di antara perintah Allah adalah menundukkan pandangan dari lawan jenis.
Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya,...." (An-Nuur:30-31)
Dalam dua ayat tersebut, Allah memerintahkan kita (mu`min dan mu`minah) untuk menahan/menundukkan pandangan dari lawan jenis yang bukan mahram dan hal-hal yang diharamkan. Kalau kita terjatuh kepada pandangan yang tidak disengaja maka segera palingkan dan jangan diteruskan pandangannya tersebut apalagi mencuri pandang kalau ketemu lawan jenis, jelas ini lebih dilarang lagi.
Dari Jarir berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tidak disengaja (mendadak), maka Rasulullah menjawab: "Palingkan pandanganmu!" (HR. Muslim no.2159 dan lainnya).
Dalam riwayat yang lain Rasulullah berkata kepada 'Ali bin Abi Thalib: "Wahai 'Ali! Janganlah engkau ikuti pandangan (pertama) dengan pandangan (kedua), karena sesungguhnya bagimu (pandangan) yang pertama dan bukan yang kedua." (HR. Abu Dawud no.2149, At-Tirmidziy no.2777, Ahmad 1/159 dan lainnya, lihat kitab Libaasul Mar`ah war Rajul fish Shalaat hal.41)
Bahkan melihat kepada yang tidak dihalalkan bisa menghapus/menggugurkan pahala amalan kita. Berkata Al-Imam Ahmad mengenai firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kalian terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian sedangkan kalian tidak menyadari." (Al-Hujuraat:2)
"Hendaklah bagi seorang hamba di zaman ini untuk berhutang kemudian menikah agar dia tidak melihat kepada apa yang tidak dihalalkan, sehingga dapat menggugurkan amalannya." (Kitaabush Shalaat, Ibnul Qayyim hal.65 diambil dari kitab Ta'zhiimus Sunnah hal.23; lihat pembahasannya dalam buletin edisi 27/II)
Untuk bisa menghindari larangan tersebut (memandang kepada yang haram), tentunya kita harus luruskan niat dalam menghindarinya itu semata-mata dalam rangka menjalankan perintah Allah, mencari pahala dan keridhaan-Nya. Dan kita harus meminta pertolongan kepada Allah supaya mampu menghindari hal tersebut. Rasulullah bersabda: "Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah (loyo dan malas)!" (HR. Muslim no.2664 dari Abu Hurairah)
Artinya kita harus bersemangat melakukan apa-apa yang bermanfaat bagi kita baik di dunia maupun di akhirat dan termasuk makna ini adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi yang mengandung dosa. Dan jangan lupa dalam melaksanakan hal ini, kita harus minta pertolongan kepada Allah karena sekecil apapun suatu amalan, tidak mungkin akan terlaksana kecuali dengan pertolongan Allah Ta'ala (Lihat tafsir surat Al-Fatihah ayat ke-4).
Juga kita hindari semaksimal mungkin untuk terjadinya ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram) seperti di pasar, kampus, kantor, kendaraan umum, jalan raya atau tempat lainnya. Allaahumma A'innaa 'alaa Dzikrika wa Syukrika wa Husni 'Ibaadatik. Wallaahu A'lam.

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top